Atasi Gizi Buruk, Paket Vicktory-Joss Kampanye Lewat Daun Kelor
Cari Berita

Atasi Gizi Buruk, Paket Vicktory-Joss Kampanye Lewat Daun Kelor

MARJIN NEWS
7 April 2018

Menurutnya, untuk mengatasi masalah gizi dan kesehatan masyarakat harus terus mengkonsumsi daun kelor, masalah gizi buruk di Afrika bisa diatasi dengan konsumsi daun kelor. (Foto: Istimewa)
Jakarta, Marjinnews.com - Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor B Laiskodat dan Joseph Nae Soi (VBL-JNS), mampu menyedot perhatian Netizen pada saat Debat Pemilihan Gubernur NTT periode 2018-2023 yang berlangsung di studio iNews, Jumat (5/4/18).

Pada debat diputaran pertama itu, keempat pasangan calon Gubernur tersebut hadir yakni pasangan nomor urut 1.Esthon-Chris, 3.Harmoni. dan pasangan nomor urut 4.Viktor B Laiskodat dan Joseph Nae Soi (VBL-JNS). Sementara untuk pasangan nomor urut 2 (MS-EN) yang hanya dihadiri oleh calon Wakil Gubernur yakni Emi Nomlemi.

Dalam acara debat itu, para Cagub mampu menyampaikan visi dan misinya dan programnya secara baik. Namun, ada satu pasangan calon Gubernur yang mampu menyedot perhatian, yakni pasangan nomor urut 4.Viktor B Laiskodat dan Joseph Nae Soi karena  mereka mampu memperkenalkan daun kelor kepada audiens dan masyarakat NTT,

Mantan ketua Fraksi Partai NasDem DPR-RI itu mengingatkan rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengkonsumsi daun kelor sebagai bahan pangan lokal yang sangat kaya manfaat, untuk memperbaiki gizi dan kesehatan tubuh. Hal ini ditegaskannya dalam debat terbuka pasangan calon gubernur/wakil gubernur NTT periode 2018-2023, yang disiarkan chanel iNewsTV, Kamis, (5/4/2018) di Studio RCTI Kebun Jeruk Jakarta.

Menurutnya, untuk mengatasi masalah gizi dan kesehatan masyarakat harus terus mengkonsumsi daun kelor, masalah gizi buruk di Afrika bisa diatasi dengan konsumsi daun kelor.

“Saya jadi seperti ini, karena saya makan daun kelor”, tegas Viktor sontak disambut riuh tepuk tangan pendukung.

Kelor dengan nama latin Moringa oleifera, tanaman yang cocok dengan tanah NTT dan tumbuh subur sampai puluhan tahun. Di kampung-kampung, ditemukan tanaman ini tumbuh bebas dan sering dijadikan tanaman pagar di kebun dan pekarangan rumah.

Hasil penelitian menunjukan bahwa tanaman kelor yang tumbuh di daratan Pulau Timor-NTT, saat ini diklaim memiliki kualitas terbaik nomor dua di dunia setelah Spanyol. Sehingga kelor asal Timor diburu pembeli mancanegara.

Sebagaimana dilansir Kompas.com (2015), menurut hasil penelitian, “daun kelor mengandung vitamin A, C, B, kalsium, kalium, besi, dan protein dalam jumlah yang sangat tinggi yang mudah dicerna dan diasimilasi oleh tubuh manusia. Bahkan jumlahnya berlipat-lipat dari sumber makanan yang selama ini digunakan sebagai sumber nutrisi untuk perbaikan gizi di sejumlah negara”.

Tanaman kelor juga mengandung 40 antioksidan dan 90 jenis nutrisi berupa vitamin essensial, mineral, asam amino, anti penuaan, dan anti inflamasi. Kelor juga mengandung 539 senyawa yang dikenal dalam pengobatan tradisional di India dan Afrika serta telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mencegah lebih dari 300 penyakit.

Tanaman kelor, mulai dari daun, biji, bunga, akar, kulit kayu, dan polong dewasa memiliki kegunaan masing-masing, yakni untuk stimulan jantung, peredaran darah, antitumor, antipiretik, antiepilepsi, antiinflamasi, antiulcer, antipasmodic, diuretik, antihipertensi, menurunkan kolesterol, antioksidan, antidiabetik, kegiatan hepatoprotektifm antibakteri, dan antijamur.

Melihat pentingnya tanaman kelor, yang kaya akan nutirisi dan manfaat bagi tubuh manusia. Sehingga, Viktor Laiskodat mengingatkan masyarakat NTT untuk kembali kepada diri sendiri dan memulai dari apa yang dimiliki, tanaman kelor menjadi salah satu solusi konkrit mengatasi masalah gizi dan kesehatan, yang dapat dikerjakan oleh masyarakat secara swadaya.

Laporan: Remigius Nahal