Utopia Pendidikan Seks
Cari Berita

Utopia Pendidikan Seks

23 March 2018

Manusia dalam berkembang biak mulai dari Endogami, Eksogami, Poliandri dan,Poligami  adalah hasil dari budaya  yang terus menerus  dibentuk oleh nilai, konsep dan diterapkan dalam bentuk aturan sebagai pegangan  dalam melakukan tindakan dalam kehidupan sehari-hari (Foto: Dok. Pribadi)
Keberadaan seksualitas adalah suatu realitas yang tak terhindarkan dari kehidupan mahkluk hidup di dunia ini seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Seksualitas merupakan wujud yang hakiki dari proses pengintegrasian manusia satu dengan manusia lain demi terwujudnya  regenarasi manusia yang bertujuan meluruskan keturunan.

Manusia dalam berkebang biak mulai dari Endogami, Eksogami, Poliandri dan,Poligami  adalah hasil dari budaya  yang terus menerus  dibentuk oleh nilai, konsep dan diterapkan dalam bentuk aturan sebagai pegangan  dalam melakukan tindakan dalam kehidupan sehari-hari (Koentjaningrat: Teori Antro). Hal ini akan terjadi terus menurus  sampai manusia tentu memahami dirinya dan orang disekitarnya sehingga munculnya  Ecstendet Familiy, Small Family dan nuclear family.

Michel Foucault (Seks dan Kekuasaan)   seks itu dibagi menjadi dua yakni ars erotica dan scientia sexualis dimana ars erotica  dipandang sebagai  kebenaran dipandang sebagai  kenikmatan itu sendiri artinya bahwa seks bukan lagi digunakan sebagaimana untuk  kegunaanya tetapi kemudiaan disalahgunakan demi kenimatan sesaat, hal ini tentu berdampak pada menurunnya kualitas perkawinan. Poligami dikarenakan orang memandang seks dalam porsi yang  sangat dangkal

Sedangan Scientia Sexualis adalah adanya wacana pengetahuan seks dari semua kalangan  masyarakat, artinya bahwa seks harus benar-benar diperhatikan oleh  semua agen dalam masyarakat sehingga  tidak memunculkan yang namanya ars erotica.

Karena Foucault mengatakan bahwa  yang penting adalah seks bukan urusan perasaan  dan kenikmatana, hukum atau larangan, melainkan juga kebenaran dan kepalsuan bahwa kebenaran tentang seks  harus menjadi hal yang esensial, berguna atau tidak berbahaya, berharga atau ditakuti singkat kata seks dibentuk sebagai pertarungan kebenaran.

Pada dasawarsa ini   pengetahuan tentang seks di kalangan masyarakat Indonesia  masih sangat minim karena kurangnya perhatian terhadap "Pendidikan Seks". Pendidikan seks maksud penulis adalah pemberian pemahan terkait seksualitas terhadap anak agar benar-benar sampai pada positive impact dari pengetahuan seks itu sendiri.

Ketidakmampuan memberikan pendidikan seks aka berdampak ada peningkatan pertumbuhan penduduk. Jika hal ini terjadi maka yang akan kita dapati selanjutnya adalah kesenjangan yang sangat nyata terlihat di berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti pencitaan kelas, monopoli perdagangan, penindasa dan berbagai macam kejahatan kemanusiaan lain yang biasa tumbuh di lingkungan kumuh masyarakat.

Menurut analisis penulis dengan beberapa realitas kita selama ini terkait pendidikan seks yang dianggap tabu merupakan sebuah kemunduran. Kita seolah dibayangi oleh norma-norma zaman Victoria, ratu yang angkuh dan puritan.

Selama ini melambangkan jiwa puritan yang berciri menahan diri, diam, munafik, sehingga akhirnya seks dianggap tabu, berbicara mengenai seks itu sebatas Ayah dan Ibu atau orang dewasa.

Jikaulah kita berbicara tentang seks masih dianggap tak sopan, vulgar, jorok dan tidak layak dibicarakan maka seperti apa yang saya sampaikan bahwa kita sudah masuk dalam kategori pencipta budaya yang tidak didialektikan secara rasional sesuai dengan perkembangan zaman.

Tidak ada cara lain selain membuka diri terhadap segala sesuatu terkait hal-hal yang menurut kita tabu itu selain dengan membudayakan sceintia sexualis. Nisacaya, pemahaman terkait pendidikan seks akan berdampak pada berbagai macam sektor real masyarakat kita untuk menjadi sesuatu yang kita sebut sejahtera.

Oleh: Yanuarius Bless
Mahasiswa S1 Antropologi UNAIR, Surabaya