Tikar, Karya Seni Wanita Manggarai
Cari Berita

Tikar, Karya Seni Wanita Manggarai

8 March 2018

Dalam bahasa Manggarai, tikar dikenal dengan istilah "loce". Sudah jelas bahwa Loce merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang Manggarai. (Foto: Istimewa)
Marjinnews.com - Siapa yang tidak tahu dengan kerajinan yang satu ini? Tikar. Tentu saja tikar sudah akrab dengan kehidupan manusia, karena selalu digunakan, khususnya sebagai media alas dengan cara dilentangkan di lantai ketika seseorang atau beberapa orang duduk maupun baring-baring di lantai.

Dalam bahasa Manggarai, tikar dikenal dengan istilah "loce". Sudah jelas bahwa Loce merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang Manggarai.

Nah, di Manggarai Raya, loce menjadi sangat akrab dengan kehidupan masyarakat. Selain fungsi umum tikar/loce yang disebutkan di atas, loce juga memiliki fungsi khusus, misalnya dalam upacara perkawinan orang Manggarai, digunakan sebagai alas duduk ketika menerima tamu keluarga dalam proses masuk minta, dan beberapa yang lainya.

Dalam catalog Pameran Etnik 2009 yang berjudul “Tikar, Karya Seni Wanita Manggarai”  disebutkan bahwa loce merupakan hasil karya seni yang dibuat oleh perempuan manggarai.

Hanya saja tidak diketahui mulai dari kapan karya seni ini mulai dibuat. Namun yang pasti, ketika teknologi sudah ditemukan, orang-orang manggarai semakin bergelut dengan alam untuk terus mencari bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menunjuang hidup mereka.

Cara Pembuatan Loce

Loce dibuat dengan bahan dasar Re’a  atau yang sering kita kenal dengan istilah daun pandan. Proses pembuatan itu sendiri diberi nama Rojok(red-anyam). Tahap-tahap pengerjaannya adalah sebagai berikut:

Re’a (red-pandan) dipotong dari pohonnya.Setelah dipotong, re’a dibersihkan dengan cara dikeluarkan duri dengan menggunakan pisau.

Permukaan re’a diraut menggunakan belahan bamboo atau koes dengan cara dihaluskan berulang kali hingga permukaan menjadi lembut.
Bhuka, atau menggulung daun yang sudah lembut.

Setelah bhuka, daun tersebut akan direbus hingga mendidih.
Apabila ingin re’a tersebut tersebut lembek dan mantang, maka selanjutnga akan direndam di sungai yang mengalir selama satu malam.

Proses selanjutnya ialah, re’a disayat dan kemudian disesuaikan lebar daun sesuai dengan kebutuhan. Bagian dalam daun atau kone dikeluarkan setelah disayat.

Istilah dikeluarkan tersebut adalah cuat. Pewarnaan menggunakan pewarna dari ramuan tradisional.
Lalu dijemur.

Proses selanjutnya adalah dianyam. Proses ini seringnya memakan waktu dari 1-2 minggu, dan tergantung pada musim kerja.

Penganyaman ini dilakukan di waktu luang sembari menunggu musim tanam. Proses penganyaman dilakukan di halaman rumah atau di teras rumah.

Setelah dianyam, maka selanjutnya adalah memasang hiasan pada keempat sisi tikat menggunakan kain warna merah. Tikar yang sudah dipasang hiasan tersebut disebut loce umpuk.

Pantangan

Ketika masa lampau, para gadis penganyam tikar biasa memanfaatkan malam terang bulan (waktu itu belum ada penerang listrik). Mereka selalu duduk bersama di halaman kampung untuk menganyam atau sekedar meraut daun pandan.

Kesempatan ini tidak dimanfaatkan secara sembarangan oleh muda/mudi untuk memadu kasih.

Beberapa pantangan dalam membuat tikar (rojok) adalah yang pertama, ketika ada warga kampung yang meninggal, maka para pengrajin tikat dilarang untuk menganyam ataupun mempersiapkan semua bahan untuk menenun tikar.

Pantangan lain adalah, daun pandan atau re’a yang sudah dipersiapkan tidak boleh dilanggar. Apabila dilanggar, maka dipercaya daun-daun yang telah dipersiapkan itu akan mudah rapuh dan akhirnya putus.

Pewarna

Manggarai menggunakan pewarna-pewarna alami untuk membuat tikar menjadi berwarna. Mereka menggunakan kulit pohon sejenis damar hutan, yang dalam bahasa Manggarai disebut haju cepang dan haju nara.

Untuk menghasilkan warna coklat dan merah, masyarakat menggunakan cepang yang dicincang kemudian direbus bersama dengan daun pandan. Sedangkan untuk membuat warna hitam, masyarakat membuatnya dari kulit pohon nara, tao untuk warna biru, daun pohon lait untuk warna kuning, menggunakan haju uwu untuk membuat warna ungu, dan pelepah pisang yang sudah tua untuk membuat warna hitam.

Sayang sekali penggunaan pewarna-pewarna alamiah tersebut sudah tidak berlaku zaman ini karena pewarna-pewarna alamiah tersebut sudah digeser oleh pewarna buatan seperti kesumba yang oleh orang banyak mudah untuk dijumpai di toko-toko.

Tikar Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat

Umumnya dalam kehidupan orang Manggarai, tikar dipakai untuk mengalas tempat duduk. Cara menggunakannya adalah dengan dibentangkan di lantai atau dek rumah panggung.

Tikar juga bisa digunakan untuk alas tidur. Ketika menerima tamu, tuan rumah langsung membentang tikar sambil mempersilahkan tamu untuk duduk.

Istilahnya dalam bahasa Manggarai disebut dengan wisi loce.
Dalam setiap upacara ada Manggarai, yang dilaksanakan di rumah adat (mbaru gendang maupun rumah tinggal lainnya, orang Manggarai tidak pernah menggunakan meja, kursi, sofa ataupaun yang lainnya.

Mereka hanya menggelar tikar dan melangsungkan upacara adat dengan beralaskan tikar.

Sekian ulasan singkat mengenai tikar Manggarai. Semoga saja bisa berguna bagi semuanya. Terus jaga budaya Nusa Tenggara Timur agar bisa dinikmati oleh generasi berikutnya. Terima kasih. (RN/MN)

Sumber: Dirangkum dari bergai Sumber.