Tidak Ada Anggaran, SMPN 10 Lamba Leda Tak Kunjung Punya Gedung Sendiri
Cari Berita

Tidak Ada Anggaran, SMPN 10 Lamba Leda Tak Kunjung Punya Gedung Sendiri

6 March 2018

Pasalnya, selama kurang lebih 10 tahun SMP Negri ini terpaksa melaksanakan KBM di gedung milik Paud dan tempat Posyandu. Serta jika darurat para murid dan guru terpaksa melaksanakan KBM di bawah Pohon. (Foto: PK)
Borong, Marjinnews.com - Tak kunjung memiliki gedung sendiri, SMPN 10 Lambaleda Manggarai Timur terus menunai protes dari masyarakat setempat.

Pasalnya, selama kurang lebih 10 tahun SMP Negri ini terpaksa melaksanakan KBM di gedung milik Paud dan tempat Posyandu. Serta jika darurat para murid dan guru terpaksa melaksanakan KBM di bawah Pohon.

Paling ironisnya lagi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur (Matim) Dra. Fredrika Soch,M.Pd, menyatakan tahun 2018 ini tidak ada dana pembangunan ruangan kelas baru karena ada kebijakan dari pemerintah pusat.

Bahkan, Fredrika menyebut bahwa di Matim ada 16 SMP yang belum memiliki ruangan kelas. Jadi, bukan hanya di SMP Negeri 10 Lamba Leda.

"Kami masih terus berjuang. Kami meminta dukungan orangtua karena sekolah tersebut hadir untuk kemajuan anak-anak di daerah.Tahun ini untuk pembangunan ruangan kelas tidak ada dana. Kami akan berkoordinasi dengan komite agar ada swadaya dari masyarakat," kata Fredrika, yang akrab disapa Ika, seperti di kutip dari Pos Kupang.

Ika dihubungi terkait nasib puluhan siswa-siswi SMP Negeri 10 Lamba Leda yang selama setahun terakhir ini sejak Maret 2017 belajar di bawah pohon karena tidak ada ruangan kelas.

Ika mengatakan, pihaknya akan berkunjung ke Lamba Leda untuk melihat kondisi sekolah tersebut sehingga bisa mengambil langkah lebih lanjut agar para siswa dan guru nyaman melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Sekretaris Desa Goreng Meni, Mikhael, menyatakan keprihatinannya terhadap nasib para siswa SMP Negeri 10 Lamba Leda yang belajar di bawah pohon. Mikhael yang ditemui di Lamba Leda, Minggu (4/3/2018), mengatakan pemerintah desa bersama warga setempat bermusyawarah untuk meminjam gedung PAUD Meni Jaya dipakai siswa SMP Negeri 10 Lamba Leda.

Namun langkah itu tak banyak membantu karena dari tiga ruangan kelas PAUD, dua ruangan dipakai siswa PAUD sendiri dan satu ruangan tidak dipakai.

"Kami sepakat agar ruangan PAUD dipakai, tapi dalam perjalanan murid PAUD bertambah. Lalu siswa kelas satu dan kelas dua SMPN 10 Lamba Leda harus belajar di luar ruangan. Sekarang ini kami berharap pemerintah daerah membangun gedung sekolah bagi siswa SMPN 10 Lamba Leda," kata Mikhael.

Ia menjelaskan, apa yang dilakukan pihak desa hanya ingin agar siswa bisa belajar dengan baik dan nyaman. "Kami harus duduk bersama warga agar membangun ruangan kelas darurat.

Tetapi harapan masyarakat pemerintah daerah perlu membangun ruangan kelas di lahan yang sudah ada," papar Mikhael.

Ia membenarkan bahwa sudah setahun terakhir ini siswa SMP Negeri 10 Lamba Leda belajar di bawah pohon karena ketiadaan ruangan kelas. (RN/MN/PK)