Terima Peti Mati Terus, Gubernur NTT: Ini Menyakitkan
Cari Berita

Terima Peti Mati Terus, Gubernur NTT: Ini Menyakitkan

20 March 2018

Suasana ketika jenazah almarhumah, Adeline tiba di NTT beberapa waktu lalu (Foto: Istimewa)
Kupang, marjinnews.com - Menanggapi maraknya kasus meninggalnya TKI asal NTT di luar negeri beberapa waktu terakhir membuat Gubernur Nusa Tenggara Timur, Frans Lebu Raya sigap membentuk tim untuk mendata tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal yang bekerja di Malaysia.

Pemerintah Provinsi NTT, lanjut Lebu Raya, telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan Calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Ilegal dan Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) TKI NTT.
Namun, jumlah TKI Ilegal yang ke luar negeri, khususnya ke Malaysia, tetap tinggi.

Menurutnya, pemerintah provinsi dan kabupaten di NTT tidak mengetahui waktu keberangkatan para TKI ilegal ini. Ia juga mengaku tidak memahami mereka kerja apa di sana. Lalu tiba-tiba disiksa dan mati.

Lebih lanjut, Lebu Raya mengungkapkan keinginan untuk membentuk dan mengirim tim pendataan TKI ilegal sudah bulat. Karena itu, ia memohon kiranya BNP2TKI dan Konjen untuk memfasilitasi kegiatan ini nantinya.

"Kita ingin mendata para TKI ilegal, namanya siapa dan asalnya dari mana. Setelah kita data, kita tahu seberapa yang bisa diurus supaya legal dan berapa yang bisa dibawa pulang. Saya akan mengumpulkan para bupati dan wali kota untuk mengambil langkah-langkah dalam memulangkan atau mengurus TKI ilegal yang sudah terdata itu," kata Lebu Raya.

Awal tahun 2017 silam, tepatnya tanggal 31 Januari kita dikejutkan dengan kabar meninggalnya seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau buruh migran asal Sumba Barat, NTT di Hospital Seberang Jaya Penang pada pukul 05.18 AM waktu setempat akibat Septic Shock Secondary Multiple.

Awal tahun 2018 NTT kembali larut dalam duka akibat kejadian serupa. Seorang TKW Indonesia asal NTT, Adelina harus berpulang karena kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi di luar negeri. Belum selesai diusut, pada Minggu (11/3) siang dua jenazah kembali membuat air mata masyarakat NTT dan Indonesia tak bisa dibendung.

Adapun dua jenazah itu adalah Milka Boimau asal Desa Kotabes, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupan dan Mateus Seman asal Kampung Mbeling, Desa Gunung Liwut, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

"Kami menerima peti mayat terus. Terus terang, saya merasa tidak nyaman melihat rakyat dan anak-anak meninggal dengan cara itu. Sangat menyakitkan," kata Lebu Raya seperti dilansir KOMPAS.COM saat bertemu dengan sekretaris utama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) di Kupang, Selasa (20/3/2018).

Frans juga mengharapkan agar Balai Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan (BP3)TKI NTT dapat membangun koordinasi yang intensif dengan pemerintah daerah dan menyosialisasikan persoalan ini secara terus-menerus sampai pada tingkat desa.

"Kita harus bicara ramai-ramai atau bersama terhadap masalah ini. Para tokoh agama dapat juga menggunakan mimbar untuk mengingatkan hal ini. Saya sudah meminta dengan tegas agar perusahaan yang merekrut TKI ilegal ditutup dan diberi sanksi hukum yang tegas. Hukum seberat-seberatnya," ujar politisi PDI-P itu. (AA/MN)