TCL atau SCL?
Cari Berita

TCL atau SCL?

3 June 2018

Sistem TCL ini bukan hanya  sekedar terlihat seperti hubungan profesi lain di luar sana. Seperti apabila ada pimpinan harus ada bawahan atau jika ada pembuat "moke" maka ada pembeli "moke". Lebih daripada itu sistem TCL mengandung hubungan antara dosen dan mahasiswa dianggap tentang siapa yang lebih dulu tahu atau paham tentang apa yang mau diajarkan. (Foto: Dok.Pribadi)
1. Apa itu TCL dan SCL?

Sistem pendidikan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Indonesia pada kampus-kampus hampir semuanya menerapkan sistem TCL (Teacher Centered Learning) atau sistem yang terpusat dari dosen.

Sistem satu arah ini menjadikan dosen sebagai penggerak utama atau pemegang andil dalam sistem yang berjalan di kelas. Waktu, cara hingga pengetahuan yang disampaikan di dapat dari dosen saja. Sistem TCL ini cenderung dalam belajar mengajar berbentuk ceramah (lecturing).

Mahasiswa sebatas memahami dengan bermodal mendengar atau membuat catatan-catatan. Model yang biasa kita jumpai dimana-mana ini memberikan informasi satu arah karena yang ingin dicapai adalah bagaimana dosen bisa mengajar dengan baik yang berkonsekuensi pengetahuan yang ditransfer dari dosen tersebut menjadi modal utama bekal pembelajaran.

Peterson (1976:116) menjelaskan bahwa: "Direct instruction is more effective for some purposes and students than for others. The approach used should depend on the type of students and teacher objectives" (instruksi langsung lebih efektif untuk beberapa tujuan dan mahasiswa daripada yang lain. Pendekatan yang dilakukan harus bergantung pada siswa dan tujuan guru).

Hal ini ditekankan mengingat mahasiswa mempunyai tipe yang berbeda-beda. Mahasiswa dengan latar belakang berbeda tentu memiliki masalah kepribadian masing-masing.

Mempertimbangkan mahasiswa yang harus diberi stimulus atau tidak bisa berdiri di atas kaki sendiri menjadi alasan penting akan penerapan TCL.

Sistem TCL ini bukan hanya  sekedar terlihat seperti hubungan profesi lain di luar sana. Seperti apabila ada pimpinan harus ada bawahan atau jika ada pembuat "moke" maka ada pembeli "moke". Lebih daripada itu sistem TCL mengandung hubungan antara dosen dan mahasiswa dianggap tentang siapa yang lebih dulu tahu atau paham tentang apa yang mau diajarkan.

Bagaimana dengan SCL? Setelah TCL kurang efektif diterapkan maka muncullah Student Centered Learning (SCL). Sehingga ada 2 sistem yang berlaku dan berjalan beriringan  di Indonesia sekarang yaitu TCL dan SCL.

sesuai dengan empat pillar
pendidikan, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together
(Dewayani, 2006) sistem SCL akan bisa mencapai puncaknya ketika mahasiswa benar-benar ditaruh sebagai penggerak utama yang bukan hanya belajar mengetahui namun juga belajar bertindak atau berkarya, memutuskan untuk menjadi apa dan berbuat apa lalu bagaimana untuk hidup bersama.

SCL merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang memfasilitasi mahasiswa untuk terlibat dalam proses "experiential learning". Dalam hal ini mahasiswa secara langsung ataupun tidak terlibat dalam proses pembelajaran (pdf. Fauziah). Model SCL seperti pengertiannya sendiri menuntut mahasiswa untuk aktif.

Pusat informasi, pengadaan ilmu atau pengetahuan dipusatkan dalam diri mahasiswa. Dosen hanya sebagai fasilitator yang merangsang perkembangan mahasiswa. Sehingga pada akhirnya mahasiswa berbagi informasi baru dari hasil kemandiriannya mencari ini dan itu kepada mahasiswa lain bahkan sampai kepada dosen sendiri.

Pemakaian metode ini akan merangsang mahasiswa lebih berinovasi, kreatif dan kritis. Mahasiswa yang diberi kepercayaan dan tanggung jawab mengupas kajian teori dan praktek tentu merasa perlu menjaga kepercayaan dan mengapresiasi diri dengan mengeksplor diri sendiri dalam hal-hal baru dan sesuai dengan basicnya bahkan sampai pada "out of the box" yang berbobot dalam pencariannya.

Persaingan global yang menuntut skill atau keahlian anak muda bukan hanya di basicnya sendiri menjadi sangat penting untuk dipupuk sejak dini.
Sarjana pertanian tentu bukan hanya  memiliki kemampuan di sawah. Akan tetapi cakap berkomunikasi untuk bisa mengguide masyarakat ke metode yang lebih baru dan modern menjadi suatu keharusan.

Perkembangan IPTEK tidak bisa dihindari dalam setiap aspek kehidupan manusia di zaman sekarang. Sarjana pendidikan pun harus bisa komputer dan sebagainya.

Melihat hal ini menjadi suatu kebutuhan bahwa generasi muda harus diberi kepercayaan beserta tugas-tugas yang menyertainya agar memotivasi diri melalui sistem SCL dengan pembaharuan dari setiap informasi.

Hesson (2007:628) menjabarkan "SCL model is teaching integrative thinking, based on existing models of creativity and synthesis. In this model, the student is put at the heart of a bigger learning process that includes instructors, specialists and the public" (model ini mengajarkan pemikiran integratif berdasarkan model kreativitas dan sintesis yang ada. Dalam model ini siswa diletakkan di jantung proses belajar yang lebih besar yang mencakup instruktur spesialis dan masyarakat umum).

Mahasiswa yang merupakan regenerasi bangsa akan terlihat etis di saat memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk dapat membangun sendiri pengetahuan-pengetahuannya.

Menempatkan mahasiswa di dalam dasar proses pembelajaran membuat mahasiswa mendalami pemahaman tentang ilmu pengetahuan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kualitas mahasiswa sendiri.


2. Kekurangan dan kelebihan TCL dan SCL.

Berikut adalah beberapa kekurangan dan kelebihan TCL juga SCL.

Kekurangan TCL:
- Dosen kurang mengembangkan bahan kuliah dan cenderung seadanya terutama bila dosen aktif berhadapan dengan dosen pasif. Dalam keseharian hal ini bisa dilihat sebagai dosen yang mentransfer nilai dan mahasiswa yang menerima transfer pengetahuan. Hanya sebatas itu.

- TCL cenderung bersifat ceramah(lecturing). Meskipun lecturing dikombinasikan dengan tanya jawab tetapi masih dianggap belum optimal. Stimulus dosen yang tinggi tidak selalu mendapat respon yang diharapkan dari mahasiswa.

- Dosen sering hanya mengejar target waktu dengan topik yang sudah diagendakan. Misalnya dalam 16 pertemuan setiap pertemuan sudah dipetakan harus memberi teori yang ini dan yang itu. Mendekati ujian mahasiswa yang diharapkan bisa mengulang semua materi yang sama minimal pokok penting dari setiap pembelajaran akan mengalami sistem belajar yang signifikan. Kebiasaan yang sering dikenal dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) hingga ada mahasiswa yang melakukan SKS (2) (Sistem Kebut Seminggu) akan meningkat sebelum ujian dan akan menurun drastis ketika ujian selesai. Hal ini dilihat kurang etis.

- Critical thinkhing (berpikir kritis) dari mahasiswa akan kurang terasah. Sistem belajar satu arah ini cenderung berakhir memberi dan menerima. Kekuatan feedback (timbal balik) tidak terlalu mencolok.

- Kompetitif antar mahasiswa terlihat sangat jelas dengan siapa yang lebih banyak bisa menghafal apa yang disampaikan dosen lalu dituangkan ke dalam kertas ujian dengan bobot nilai paling tinggi.

Kekurangan SCL:

- Sistem yang cenderung membawa mahasiswa dalam kondisi diskusi, mencari pengetahuan sendiri tidak cocok apabila harus dituntut agar mahasiswa memakai sitem menghafal di kelas yang notabene ribut. Dalam beberapa mata kuliah tentua ada yang hanya harus dihafal dan dimengerti. Misalnya nama benua, nama provinsi di Indonesia hingga jumlah hari dalam setahun dan sebagainya.

- SCL bisa sangat membantu sekaligus berpotensi menghancurkan mahasiswa yang tidak terbiasa aktif dan mandiri.

- Gairah muda dari setiap mahasiswa akan nampak juga dalam waktu yang panjang untuk membahas satu topik.

Dosen sebagai fasilitator akan sedikit kesulitan menepis kemungkinan ini dengan beberapa faktor; dosen juga bisa terlibat alur pemikiran mahasiswa dan merasa pantas bahasan itu perlu diperpanjang. Ego masing-masing mahasiswa akan muncul lalu diskusi menyimpang menjadi bertujuan siapa yang menang dan kalah; bukan pada sisi kebenaran.


Kelebihan SCL:

- Mahasiswa akan merasa pembelajaran itu sebagai miliknya sendiri. Dengan sistem SCL ini mahasiswa benar-benar terarah dari hal kecil hingga hal besar di dalam kelas. Perasaan memiliki ini sangat penting agar sesuatu dipertahankan dengan antusias. Hal ini berlaku dalam pembelajaran.

- Mahasiswa memiliki motivasi yang kuat. Motivasi ini muncul dalam pertanyaan apa tujuan kuliah mahasiswa? Target apa yang ingin dicapai? Mau dapat anda hari ini? Dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang merujuk ke diri sendiri ini muncul dengan sendirinya dalam sistem Student Centered Learning.

- Timbulnya suasana demokratis dalam pembelajaran sehingga akan terjadi dialog dan diskusi untuk saling belajar-membelajarkan diantara mahasiswa.

- Menambah pengetahuan dosen atau teman lain dengan informasi yang disampaikan mahasiswa dimana belum pernah terdengar sebelumnya dari hasil pencarian mahasiswa sendiri dan mendiskusikannya bersama.

-Sistem SCL tidak akan pernah membosankan dengan:
 1) adanya berbagai
aktivitas dan tempat belajar,

2) display hasil
karya mahasiswa,
3) tersedia banyak materi
belajar,
4) tersedia banyak tempat yang nyaman untuk diskusi/bercengkerama,
 5) terjadi
kelompok-kelompok dan interaksi multi-angkatan,
6) ada keterlibatan dunia
bisnis/industri dan masyarakat lainnya,
7) jam buka perpustakaan fleksibel (Hadi, 2007).

Kelebihan TCL:
- Apabila kuliah diberikan dengan baik oleh dosen akan memberi stimulus bagi mahasiswa dalam waktu yang tepat dan padat.
- pada umumnya memungkinkan penggunaan assesment secara mudah dan cepat.
- Dosen sebagai pengendali berpotensi sepenuhnya bisa memuat organisasi, waktu dan materi sepenuhnya secara bijak.


 Dari uraian diatas kita dapat melihat bahwa peran mahasiswa dan dosen mempunya porsinya masing-masing. Namun kadang terbersit bahwa kalau kita memakai sistem SCL seakan-akan merendahkan kemampuan dosen dalam hal pembelajaran.

Kendati demikian untuk memperkuat teori bahwa dosen sangat berperan penting dalam sistem SCL ini, Ramdhani (2009) menegaskan bahwa Peran dosen dalam proses pembelajaran model SCL memiliki peran yang penting.

Dalam pelaksanaan model ini dosen bertindak sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, mengkaji kompetensi matakuliah yang perlu dikuasai mahasiswa di akhir pembelajaran, merancang strategi dan lingkungan pembelajaran
yang dapat menyediakan beragam pengalaman belajar yang diperlukan mahasiswa dalam rangka
mencapai kompetensi yang dituntut matakuliah, membantu mahasiswa mengakses informasi, menata dan memprosesnya untuk dimanfaatkan
dalam pemecahan permasalahan sehari hari hingga mengidentifikasi dan menentukan pola penilaian
hasil belajar mahasiswa yang relevan dengan kompetensi yang akan diukur.

Dari penjelasan diatas kita tentu tidak bisa mengingkari dosen masih menjadi penentu jalannya SCL ini secara baik dan benar. Pada setiap model pembelajaran mahasiswa dan dosen dituntut memiliki cara tersendiri untuk menghadirkan hal-hal positif.

Mahasiswa sekali lagi sebagai generasi bangsa perlu pembaharuan di setiap cara mendidik dan memprosesnya menjadi manusia berkualitas tinggi. Dorongan yang kuat akan berhasil menempa mahasiswa dalam "capek" yang berkualitas.


Kepercayaan, tugas, berinovasi, kritis dan kreatif yang menjadi kebiasaan lambat laun akan menjadi budaya.

Budaya yang membawa mahasiswa pada pengenalan diri dan memperketat kualitas diri. Kualitas kelas. Kualitas kampus. Kualitas masyarakat. Kualitas bangsa.

Jika kita berada dalam posisi bisa memilih atau bisa mendiskusikan sistem bersama dosen juga mahasiswa, manakah sistem yang paling berpotensi agar semua pihak mengeluarkan daya ajaibnya? TCL atau SCL?

Oleh:Tini Pasrin
marjinnews.com Malang