Tanggapi Foto Viral Bupati, Anggota Dewan: Deno Tidak Paham Adat Manggarai
Cari Berita

Tanggapi Foto Viral Bupati, Anggota Dewan: Deno Tidak Paham Adat Manggarai

14 March 2018

Kecaman itu muncul, setelah viral di sosial media, lantaran foto itu dianggap menunjukan bahwa Bupati Manggarai Dr. Deno Kamelus SH. MH dan Wakil Bupati Manggarai Vikctor Madur tidak menghargai adat dan budaya Manggarai. (Foto: Istimewa)
Ruteng, Marjinnews.com - Foto yang diunggah oleh Humas dan Protokoler Kabupaten Manggarai beberapa hari yang lalu, menuai kecaman dari masyarakat Manggarai.

Kecaman itu muncul, setelah viral di sosial media, lantaran foto itu dianggap, Bupati Manggarai Dr. Deno Kamelus SH. MH dan Wakil Bupati Manggarai Vikctor Madur tidak menghargai adat dan budaya Manggarai.

Bukan hanya masyarakat biasa yang mengecam terhadap foto yang kini menjadi viral itu, kecamanpun juga muncul dari anggota DPRD Manggarai.

Marsel Nagus Ahang, anggota DPRD dari Fraksi PKS ikut mengecam.

Kepada Marjinnews.com, Ahang mengatakan, "selaku anggota DPRD Kabupaten Manggarai saya menilai bahwa Bupati Deno sebetulnya mengerti dan memahami adat Manggarai. Bupati Deno paham akan budaya Manggarai yaitu, budaya Lonto Leok, yang merupakan bentuk musyawarah mufakat. Namun, mengapa dia begitu angkuh dan tidak menghargai adat" papar Ahang.

"Foto penerimaan tamu dari Kementrian secara situasional sangat tidak boleh masyarakat adat duduk di bawa tikar sementara Bupati beserta tamu duduk di kursi empuk. Ini menandakan bahwa sudah hilangnya kebiasaan Lonto Leok (red-duduk bersama)", cetus Ahang.

Dia menambahkan, "saya menilai jika dilihat dari gambar didalam foto itu membuktikan, bahwa Bupati Deno punya sifat arogan dalam kepemimpinanya dan tidak mencerminkan adat budaya Manggarai, serta telah melecehkan adat Manggarai", ujarnya.

Terkait klarifikasi yang telah diberikan oleh Bupati Deno terkait foto yang menjadi viral itu, Ahang justru mengatakan, "kita tidak perlu belajar teori Herbert, orang tua dulu tidak pernah mengenal teori dalam adat istiadat. Mereka hanya tau terima tamu, dipersilahkan duduk di atas Tikar", papar Ahang.

Anggota Fraksi PKS itu kemudian mencontohkan, jika memakai teori itu berarti bisa diamini bahwa seorang pencuri bisa saja mengaku tidak mencuri. Dan pernyataannya dibenarkan karena ucapannya. Saya pikir orang dinilai dari tindakannya bukan ucapannya, jelas Ahang.

Tambah Ahang, budaya simbol persaudaraan dan persatuan dalm menyelesaikan masalah sosial Lonto Leok bisa juga sebagai media diskursus masyarakat

"Spirit Lonto Leok (red-duduk bersama) sebagai sebuah budaya, minimal Bupati kalau menerima tamu bisa dikondisikan dengan dinas Pariwisata untuk membentang loce (red-tikar) dan tange (red-bantal) di depan tamu terhormat tersebut sehingga nilai terkesan budaya kita lebih terhormat, tutup Ahang. (RN/MN)