Tahukah Anda, Ada Batu Berbentuk Kemaluan Pria di Gua Liang Bua
Cari Berita

Tahukah Anda, Ada Batu Berbentuk Kemaluan Pria di Gua Liang Bua

13 March 2018

Gua Liang Bua di Kabupaten Manggarai dan batu besar berbentuk kemaluan pria (kiri). (Foto: Pos Kupang)
Ruteng, Marjinnews.com - Ada batu kemaluan (penis stone) di Gua Liang Bua, Teras, Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.

Tapi benda ini belum setenar nama Liang Bua, yang mana di dalamnya ditemukan tulang belulang Manusia Flores atau Homo Floresiensis.

Batu, berbentuk mirip penis ini berdiri kokoh di dalam gua. Letaknya ke utara dekat ke dinding dan langit-langit gua yang dipenuhi staktit.

Gua fenomenal itu memiliki ukuran panjang 50 meter, lebar 40 meter dan tinggi 20 meter dari permukaan tanah.

Pos Kupang, mendengar cerita batu penis itu dua tahun silam ketika pertamakali datang ke Liang Bua.

Ketika itu, konsentrasi dengan penggallian fosil dan temuan dari tim arkelogis nasional yang beraktivitas sebulan lebih di sana.

Menurut sejarah, gua Liang Buah pada puluhan tahun yang silam menjadi tempat sekolah warga Rampasa dan Bere dan sekitarnya. Kemudian tempat ibadah sebelum dibangun kapela.

Mengamati sungguh-sungguh, bentuk batuan warna putih ini mirip penis. Mulai dari pangkal hingga ke ujungnya, keluar kran kencing. Tentulah ini hanya sebuah batu, meski bentuknya menyerupai penis.

Ukuran dan bentuknya tidak ideal dengan ukuran penis manusia normal atau manusia purbakala yang dulu bertempat tinggal di dalam gua ini.

Dilansir dari Pos Kupang, Pemandu wisata Liang Bua, Lorens Jaman, mengukur penis raksasa ini mendapati ukuran panjang batu penis 80 cm, lingkaran helm 95 cm dan lingkaran bawah dekat pangkal 132 cm.

"Besar sekali. Selama ini saya tidak sempat mengukurnya," Kornelis tertawa terbahak-bahak setelah mengetahui ukuran penis raksasa itu.

Pengenalan Kornelis dengan penis raksasa ini, bukan serba kebutalan. Di masa kecil, sang nenek almahrum Antonius Agang (80) cerita kepadanya tentang legenda Liang Bua itu.

Bila ada pasangan suami istri yang telah lama menikah dan belum memiliki keturunan, sang nenek biasanya memberi 'ramuan.' Dia mengambil batu asah, merendam ke dalam air kemudian memberi minum kepada pasangan suami istri itu.

Sang nenek pun menceritakan batu mirip penis di Liang Bua itu. Kata sang nenek, batu itu milik orang tertua yang tinggal di dalam gua itu ribuan tahun silam.

Entah dari mana mulai tenar batu penis, Kornelis tak ingat lagi ceritanya.

Suatu ketika di tahun 2011, ia didatangi sepasang suami istri asal Manggarai. Pasangan itu telah delapan tahun menikah belum punya momongan.

Legenda batu penis itu membuat penasaran hingga dicoba pasangan suami istri.

Mereka mengorek batuan batu itu dan mencampur dengan air yang jatuh dari staktit. Batuan warna putih redup itu diminum selama lima lima malam setiap bangun pagi dan sebelum berhubungan badan suami istri.

"Sebulan lebih kemudian, pasangan ini datang kepada saya menyampaikan berhasil. Entah istrinya hamil atau berhasilnya seperti apa, tidak jelas benar," kisah Kornelis. (RN/MN/PK)