Sesalkan Demokrasi Yang Dibungkam, Aktivis Sidoarjo Deklarasi Aliansi SOMASI
Cari Berita

Sesalkan Demokrasi Yang Dibungkam, Aktivis Sidoarjo Deklarasi Aliansi SOMASI

12 March 2018

Semangat menggelegar para perwakilan dari beberapa elemen organisasi lintas gerakan terlihat menyuarakan aspirasi yang mengecam dan tegas menolak revisi UU MD3. (Foto: TH)
Sidoarjo, Marjinnews.com - Sejumlah mahasiswa lintas gerakan mengadakan dialog dalam rangka penolakan revisi UU MD3 oleh DPR di salah satu caffe, di Kabupaten Sidoarjo, minggu malam (11/03)

Dialog Lintas Gerakan yang memiliki tema besar Dewan Bukan Dewa tersebut berjalan dengan lancar dan kondusif.

Ada beberapa poin penting yang dipersoalkan oleh para aktivis tersebut dan menjadi pokok bahasan terkait beberapa pasal kontroversial diantaranya pasal 73 ayat 4, pasal 245 dan juga pasal 122 huruf  K.

Semangat menggelegar para perwakilan dari beberapa elemen organisasi lintas gerakan dintaranya PMII,IMM,HMI,PMKRI,GMNI, BEM UNUSIDA, BEM Stikes Insan Unggul Surabaya, BEM UMSIDA , Aliansi BEM Se Sidoarjo dan organisasi kemahasiswaan lainnya terlihat aspirasi yang mengecam dan tegas menolak revisi UU MD3.

Menurut mereka, lembaga legislatif itu dianggap melakukan pencederaan terhadap nilai demokrasi dan berusaha untuk membentengi diri agar tidak tersentuh hukum dan bisa bebas dari kritikan publik.

"Ini Dewan Perwakilan Rakyat tapi kok mereka mencederai amanat rakyat itu sendiri, padahal dari beberapa survei mayoritas rakyat Indonesia tidak setuju dengan revisi UU MD3 itu. Tapi mereka (DPR red) tetap saja tidak menggubris. Nah, sebenarnya mereka itu perwakilan siapa? Tanya Arizky salah satu audiens.

Ia melanjutkan, DPR sekarang itu seolah olah menjadikan dirinya sebagai lembaga super body yang berupaya melakukan pembungkam demokrasi dan anti kritik." Cetusnya.

Selain itu, di tengah diskusi ada para audiens yang meneriakan pekikan salam perjuangan khas aktivis sebagai penyemangat mereka.

Hidup mahasiswa!
Hidup rakyat Indonesia! Seru salah satu peserta yang sontak diikuti seluruh audiens.

Diskusi yang dipandu oleh beberapa perwakilan organisasi itu diakhiri dengan lagu Indonesia Raya, Darah Juang, dan juga pembacaan sumpah mahasiswa Indonesia dan sumpah solidaritas.

Selain dialog, sejumlah mahasiswa mendeklarasikan sebuah wadah solidaritas antar mahasiswa seluruh Sidoarjo dengan nama SOMASI (Solidaritas Mahasiswa  Sidoarjo).

Adapun beberapa poin yang menjadi komitmen bersama mereka diantaranya.

1. Merawat dan memperkuat nasionalisme, persatuan, kesatuan, dan ke-Indonesiaan untuk maju sebagai bangsa yang beradab.

2. Menguatkan falsafah Bhineka Tunggal Ika, berdasarkan pada kesadaran asal usul bangsa Indonesia, yang berasal dari berbagai ras dunia, dan berevolusi menjadi suku-suku yang membentuk bangsa Indonesia.

3. Merawat dan memperkuat kembali sifat-sifat dasar bangsa kita yang saling toleran, saling menghormati, gotong-royong, musyawarah dan mufakat.

4. Menegakkan penghormatan terhadap hak-hak asasi yang dijamin dalam UUD 1945 dan Undang-Undang turunannya: hak untuk dipilih dan memilih tanpa didasarkan pada SARA, hak mengutarakan pendapat sesuai hati nurani, kebebasan berbicara, serta perlindungan terhadap diskriminasi SARA dan gender yang ada pada teritorial daerah sidoarjo.

5. Mencegah manipulasi isu SARA untuk dipakai sebagai kendaraan politik untuk memenangkan pemilu, pilkada, dan berbagai bentuk pemilihan dan pemimpin di segala bidang dan wilayah sidoarjo, dan harus dilarang.

6. Menjadi Aliansi Controling Pemerintahan Kabupaten sidoarjo dalam menyikapi isu dan kebijakan yang tidak berpihak pada kepintangan rakyat dan bersama. (RN/TH/MN)