Sama-Sama Atheis, Apa Perbedaan Pandangan Stephen Hawking dengan Francois Voltaire?
Cari Berita

Sama-Sama Atheis, Apa Perbedaan Pandangan Stephen Hawking dengan Francois Voltaire?

15 March 2018

"Jika kita memenemukan teori yang lengkap, itu akan jadi kemenangan tertinggi manusia karena dengan demikian kita tahu isi pikiran Tuhan," tulisnya seperti dilansir The Telegraph (Foto: Istimewa).
Feature, marjinnews.com - Fisikawan ternama asal Inggris, Stephen Hawking meninggal di usia 76 tahun. Semasa hidupnya, salah satu pemikiran kontroversial Hawking adalah tentang agama dan Tuhan.

Dalam bukunya yang paling laku 'In A Brief History of Time', Stephen Hawking tidak memungkiri kemungkinan ada peran Tuhan dalam penciptaan dunia. Buku itu ditulis di tahun 1988.

"Jika kita memenemukan teori yang lengkap, itu akan jadi kemenangan tertinggi manusia karena dengan demikian kita tahu isi pikiran Tuhan," tulisnya seperti dilansir The Telegraph.

Pada bukunya 'The Grand Design' yang diterbitkan pada 2010, Hawking mengklaim bahwa tidak perlu kekuatan ilahi yang bisa menjelaskan terciptanya semesta.

"Tidak perlu meminta Tuhan untuk mengatur bagaimana alam semesta bekerja," ungkap Hawking.

Dalam wawancara dengan El Mundo, Hawking ditanya soal pendapatnya tentang Tuhan yang terungkap dalam 2 bukunya. Dalam jawabannya, Hawking juga menyatakan bahwa dia adalah seorang atheis.

"Sebelum kita memahami ilmu pengetahuan, wajar saja untuk percaya Tuhan menciptakan alam semesta. Namun saat ini, ilmu pengetahuan menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan. Yang saya maksud soal 'kita akan tahu isi pikiran Tuhan' adalah kita bisa mengetahui semua yang Tuhan ketahui, apabila ada Tuhan. Yang sebenarnya (Tuhan) tidak ada. Saya adalah seorang atheis," jawab Hawking.

Lalu bagaimana dengan Francois Voltaire (1431-1465)?

Francois adalah seorang filsuf berkebangsaan Prancis. Banyak pemikirannya soal politik, filsafat dan sastra dikenal oleh kaum intelek. Seorang Voltaire sangat pandai. Saking pandainya dia sangat mendewakan peran rasio dan bahkan dengan lantang mengatakan: "Saya tidak percaya akan adanya Allah".

Atheisme Voltaire sangat dalam suatu ketika ia pernah meramal bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang akan musnah. Ia mengatakan demikian ketika Alkitab baru diterjemahkan dalam beberapa bahasa.

Namun, yang terjadi kemudian adalah ketika Voltaire meninggal sekitar lima abad Alkitab beredar lebih luas menjangkau berbagai bangsa dan bahkan diterjemahkan dalam ribuan bahasa yang memudahkan untuk dipahami dan dihayati dalam hidup.

Dalam bukunya berjudul "Di Simpang Peristiwa: Mencatat Peristiwa, Menuai Hikmah" Pater Friedz Meko, SVD mengatakan bahwa kenyataan perbedaan ramalan Voltaire dengan realitas Alkitab seperti sekarang adalah bukti bahwa Voltaire bukanlah segala-galanya untuk semua.

Keberanian Voltaire yang gegabah meramal dan menentukan suatu kepastian terhadap kemusnahan Alkitab membuat Pater Friedz juga dengan sangat berani mengatakan bahwa Ia telah dipermalukan oleh ungkapannya sendiri. Pasalnya, bukan Alkitab yang musnah tetapi justeru teori-teorinya tentang politik dan sebagainya yang secara berlahan menjadi samar-samar dan hampir musnah tergerus teori-teori modern yang lebih aktual dan akurat.

Menurut Pater Friedz, Voltaire telah menjadi tumbal untuk ungkapannya sendiri. Ia peramal yang gagal membuktikan kebenaran ramalannya sendiri.

Berarti Dilan masih lebih baik ya Pater? hehehe

Bagaimana dengan teori-teori Stephen Hawking, akankah bernasib sama dengan teori dan ramalan Francois Voltaire di masa depan? Kita lihat saja nanti.

Oleh: Andi Andur