Revitalisasi Gerakan Mahasiswa untuk Menjawab Tantangan Kontemporer Bangsa

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Revitalisasi Gerakan Mahasiswa untuk Menjawab Tantangan Kontemporer Bangsa

MARJIN NEWS
3 March 2018

Sejarah mencatat peran pemuda Indonesia dari masa ke masa senantiasa berdialektika dengan semangat patriotik,  idealisme, dan gagasan. Kini pemuda dihadapkan iming-iming konsumerisme digital dan kenyamanan hidup yang melenakan (Foto: Dok. Pribadi)
Kepada para pemuda yang merindukan lahirnya kejayaan…
Kepada umat yang tengah kebingungan di persimpangan jalan…
Kepada pewaris peradaban yang kaya raya,
yang telah menggoreskan catatan membanggakan
di lembar sejarah umat manusia…
(Hasan Al-Banna, 1906-1949)

Sejarah mencatat peran pemuda Indonesia dari masa ke masa senantiasa berdialektika dengan semangat patriotik,  idealisme, dan gagasan. Kini pemuda dihadapkan iming-iming konsumerisme digital dan kenyamanan hidup yang melenakan.

Pertanyaan esensial yang perlu dikemukakan ialah mengapa sekarang ini para mahasiswa jarang sekali terlibat dalam  sebuah gerakan atau aksi yang masif seperti mahasiswa generasi ‘66, ’74, dan ’98?

Barangkali saat ini mahasiswa kita sudah mengidap penyakit hibernasi (istilah kedokteran) menunjukkan pada penurunan semangat (intelektual), loyo darah. Atau para mahasiswa cenderung menjadi martir-martir dari hingar bingarnya teknologi digital.

Mereka lebih memilih mengisi waktunya (sebagian besar) dipakai untuk otak atik hand phone, kegiatan karitatif, pesta pora, ulang tahun, sepak bola. Jika demikian halnya mahasiswa saat ini tidak lebih sebagai membership group atau crowd. Maka tidak heran pada saat ini dan pada kesempatan ini saya boleh mengatakan mahasiswa telah mengalami krisis kemampuan intelektual, jangkauan intelektualnya sebatang korek api.

Pemuda saat ini menganut ilmu pisang, sekali berbuah langsung mati. Cobalah menganut ilmu sumur, berjuta-juta kubik orang timba tidak akan pernah habis atau kering alias tidak pernah berhenti berinovasi, menulis, berdiskusi, berdialektika, dan sebagainya.

Tiga puluh dua tahun lalu saya pernah mengingatkan kepada para cendekiawan kampus, melalui tulisan dengan judul: "Perlu dicegah Dosen Sebagai Calo Ilmu Pengetahuan (Kedaulatan Rakyat, 5 Mei 1983) barangkali penting untuk kita refleksikan kembali: Adalah tidak cukup bahwa mahasiswa memahami ilmu agar pekerjaan akan meningkatkan berkah manusia, kecuali mahasiswa mengambil bagian dalam kehidupan riil manusia dan memecahkan masalah aktual yang dihadapi masyarakat, inilah fungsi mahasiswa sebagai agent of social change, agent social of the future.

Kepada para cendekiawan kampus: bahaya kalau para cendekiawan hanya sibuk dengan angka-angka, campuran kimia, dan makin bangga kepintarannya yang kian sempit, tetaplah yang paling utama adalah manusia dan masyarakat.

Membaca Gerakan Pemuda

Sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia, yang dimulai dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sumpah Pemuda, Revolusi Agustus 1945, hingga penggulingan Soeharto (1998-reformasi). Hanya sayang gerakan pemuda paskareformasi tidak melahirkan pemimpin, seperti gerakan pemuda tempo doeloe. Pemuda tempo doeloe, rela masuk penjara demi tanah air, ke mana-mana bahkan di dalam penjara sekalipun bekal mereka adalah buku, bolpoin, mesin ketik, bacaannya banyak, argumentasi dan narasinya tajam, jago menulis, keluar dari penjara kemudian menjadi pemimpin bangsa.

Mereka tidak haus kekuasaan dan harta. Beda dengan pemuda sekarang, setelah menjadi pemimpin kemudian masuk penjara. Mereka (pemuda sekarang) sangat haus kekuasaan dan harta. Perjuangan pemuda sekarang--memang mereka sering berteriak, bakar ban di jalan, menjemur di panas mata hari-- tapi ujung-ujungnya minta kekuasaan dan harta.

Herbert Feith, seorang Indonesianist menyatakan bahwa: Pemikiran politik modern (pemuda) di Indonesia diawali oleh bangkitnya nasionalisme modern. Hal itu dimulai antara tahun 1900-an dan 1910-an, dengan munculnya sekelompok kecil mahasiswa dan cendikiawan muda yang memandang dunia modern sebagai tantangan terhadap masyarakat dan menganggap diri mereka sebagai pemimpin potensial di masa yang akan datang.

Dalam tahun-tahun 1920-an jumlah mereka (pemuda) meningkat agak pesat, begitu pula alienasi mereka terhadap kekuasaan kolonial; banyak di antara mereka, khususnya yang menuntut ilmu di luar negeri, dipengaruhi oleh pelbagai ideologi seperti sosialisme, komunisme, reformisme Islam, dan nasionalisme India, China, dan Jepang (The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia.  Ithaca: Cornell University Press, 1962. Pp. xx, 618)

Kita percaya apa yang dikemukakan oleh Ben Anderson dan Herbert Feith adalah sebuah keniscayaan sejarah, mengingat sejak zaman pergerakan nasional hingga saat ini, pemuda selalu menjadi tonggak dan aktor dari pendorong perubahan tersebut. Hal ini terlihat dari uraian periodisasi di bawah ini.

Jika Karl Marx memercayakan perubahan pada perjuangan “kelas” dan Max Weber mengalamatkannya pada “aliran kultural”, adalah Ortega Y Gasset yang memercayai “kaum muda” sebagai agen perubahan. Pandangan terakhir ini memperoleh perwujudan historisnya di Indonesia. Selagi rakyat masih banyak berselimut dengan kegelapan, kaum terpelajarlah yang membukakan matanya bahwa ia mempunyai hak atas hidup sebagai bangsa yang merdeka. Mahasiswa hidup di tengah-tengah masyarakat. Itulah sebabnya mereka mengerti dan memahami betul apa yang dirasakan dan dialami masyarakat. Jika ada yang mengatakan tidak boleh atau melarang aksi mahasiswa, mungkin ada yang tidak senang dengan aksi mahasiswa.

Akhirnya, Anderson, berkata “saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh “kesadaran pemuda ini.”

Mohammad Hatta, sebagai pengamat yang terlibat, mengajukan pertanyaan retoris, “Apa sebabnya pemuda-pemuda, mahasiswa Indonesia, secara aktif ikut berpolitik?”

Lantas ia jawab sendiri, “Kalau mahasiswa Belanda, Perancis, dan Inggris menikmati sepenuhnya usia muda yang serba menggembirakan, pemuda Indonesia harus mempersiapkan diri untuk suatu tugas yang menuntut syarat-syarat lain. Tidak ada jalan lain yang sudah siap dirintis baginya; tidak ada lowongan pekerjaan yang sudah disiapkan baginya. Sebaliknya dia harus membangun mulai dari bawah, di tengah-tengah suasana yang serba sukar, di tengah-tengah pertarungan yang penuh dendam dan kebencian. Perjuangan kemerdekaan yang berat membayang di depannya, membuat dia menjadi orang yang cepat tua dan serius untuk usianya (Onghokham, 1991,111).

Bung Hatta menyodorkan alasan lain yang menggelitik. Fakta bahwa sebagian besar pemimpin kaum muda ini berasal dari kalangan pegawai tinggi dan kelas berada tidak menyurutkan mereka untuk berjuang. Sebaliknya, sikap orangtua mereka yang terpaksa oleh sistem kepegawaian kolonial untuk berdiam diri, berbohong, dan berbicara yang enak-enak saja tentang masalah politik dan kolonial, memperlihatkan betapa Bapak mereka merupakan lambang ketidakjujuran dan ketidakberdayaan abadi. Maka, tak segan-segan mereka berontak-menyempal, “dari kumpulannya terbuang”.

Berawal dari gerakan organisasi mahasiswa Indonesia di tahun 1908, Boedi Oetomo. Gerakan yang telah menetapkan tujuannya yaitu “kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa” ini telah lahir dan mampu memberikan warna perubahan yang luar biasa positif terhadap perkembangan gerakan kemahasiswaan untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Gerakan kemahasiswaan lainnya pun terbentuk, Mohammad Hatta mempelopori terbentuknya organisasi kemahasiwaan yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar di Belanda yaitu Indische Vereeninging (yang selanjutnya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia). Kelahiran organisasi tersebut membuka lembaran sejarah baru kaum terpelajar dan mahasiswa di garda depan sebuah bangsa dengan misi utamanya “menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan”.

Sejarah panjang gerakan mahasiswa merupakan salah satu bukti, kontribusinya, eksistensinya, dan peran serta tanggungjawabnya mahasiswa dalam memberikan perubahan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Menilik gerakan pemuda saat ini kita menjumpai paradoks kehidupan. Pertama, pemuda sebagai sosok yang kian tereduksi  ke dalam kluster aktivitas marjinal  yang lebih mencerminkan sebagai "konsumen pasar" ketimbang "agen perubahan sosial" (social change of agent).

Yang kedua,  dalam diri pemuda masa kini ada kecerdasan, kreativitas serta bentuk baru mencintai masyarakat dan bangsa. Seiring perubahan konteks hidup dan teknologi, pemuda juga tak segan "turun gunung", berjuang memanfaatkan medium digital.

Membaca hasil jajak pendapat Kompas bekerjasama dengan Lemhanas, 24 Oktober 2016, menyebutkan generasi muda sekarang cenderung egois. Empat dari sepuluh responden  melihat egoisme para pemuda sekarang berupa orientasi perjuangan untuk kelompok sendiri, sedangkan sepertiga lainnya menganggap orientasi perjuangan pemuda masih berorientasi kemasyarakatan.

Para pemuda sekarang cenderung membatasi diri dari aktivitas sosial kemasyarakatan sehingga eksistensi mereka sebagai agen perubahan sosial melemah. Akibatnya produktivitas gagasan  kritis mati suri diikuti lumpuhnya kepekaan terhadap perubahan sosial.

Tak hanya individu, bahkan dalam skala organisasi, krisispun ditengarai merebak. Secara politik gerakan  organisasi kepemudaan (dan mahasiswa) tak lagi giat menyuarakan kritik atas penyelenggaraan negara.

Alih-alih memperkuat konsolidasi orientasi perjuangan dan imaji kebangsaan, sebagian pemuda justeru tenggelam dalam arus kelompok berbasis primordialismel.  Fungsi organisasi kemasyarakatan (ormas) kepemudaan masa kini senyampang terdengar dan hilang tenggelam dalam agenda pragmatis.

Fakta lain adalah memudarnya semangat pemuda dalam mengekspresikan idealisme sebagai warga negara melalui pengamalan Pancasila, menjaga persatuan bangsa, serta patuh terhadap hukum. Pudarnya peran sosial dan politik para pemuda belakangan ini semakin ditunjang oleh fakta kemajuan teknologi digital dalam kehidupan masyarakat. Merebaknya media sosial membuat intensitas keterliban pemuda dalam aktivitas sosial di tengah masyarakat pun menurun.

Revolution of Mind

Seiring dengan perubahan zaman, mahasiswa tidak berhenti atau puas dengan menyebut diri sebagai kaum intelektual atau cendekiawan saja, namun ia juga harus memiliki sifat-sifat sebagai seorang Resi. Seorang Resi adalah seorang bijaksana, dan sarat akan nilai moral dan agama. Karena ia adalah penggugah hidup masyarakat atau penguasa. Oleh karena itu mahasiswa sebagai kaum  intelektual atau cendekiawan berperan mengabdikan dirinya kepada kebenaran, kejujuran, kebaikan, keadilan, kedamaian dan keindahan serta memiliki moral dan agama yang kuat.

Barangkali mahasiswa harus belajar dari Socrates (470-399 SM), cendekiawan Yunani kuno, akhir hidupnya sangat tragis. Ia mati oleh hukuman masyarakatnya. Menjelang kematiannya ia menyebut dirinya “lalat liar”. Ia mengatakan “… mungkin kedengarannya lucu, saya seperti seekor lalat liar di tengkuk seekor kuda”.

Kuda adalah pemerintah atau masyarakat yang lelap terlena dalam berbagai kebusukan karena pengabaian nilai-nilai luhur manusiawi. Ia berjuang untuk menegakkan nilai-nilai itu. Penguasa/masyarakat merasa terganggu dalam tidurnya dan tanpa pikir panjang memukul lalat liar (baca: Socrates) agar pules lagi dalam gelimang dosa.

Socrates mati, namun kematiannya tidak dapat begitu saja membuat penguasa/masyarakat tetap tenang melanjutkan tidurnya. Dalam keadaan mata terpejam penguasa/masyarakat berpikir tentang pikiran dan sikap hidup Socrates.

Pesan apa yang akan disampaikan Socrates kepada mahasiswa?  Mahasiswa tidak boleh hidup  aman dalam ketentraman  palsu dan stabilitas semu. Mahasiwa harus berperan sebagai “lalat liar”. Kehadirannya di tengah publik tidak membuat lagi yang terlena dalam kebusukan tetapi mengganggunya agar terbangun dari tidurnya. Ini peran mahasiswa (cendekiawan); harus memberi kesaksian agar kehidupan ini terjaga. Seorang cendekiawan harus merasa tidak dapat hidup lebih lanjut kalau tidak menjalankan perannya itu.

Tugas mahasiswa (cendekiawan) saat ini memang makin tidak gampang. Dewasa ini kehadiran mahasiswa (cendekiawan) harus bersuara kuat seperti Socrates  dan memegang teguh etika dan kejujuran intelektual. Sebab negara kita sebagai salah satu negara darurat korupsi di dunia. Negara kita ini terlalu riuh oleh aneka kejahatan yang melembaga (KKN), dan didukung birokrasi dan oleh banyak orang.

Bila mahasiswa tidak kuat dan jujur  ia akan beralih profesi, tidur bersama koruptor dan banyak orang dalam  pengabaian nilai-nilai luhur manusiawi. Kita harap kehadiran mahasiswa tampak semakin jelas dalam latar belakang negara yang semakin gelap, dalam maraknya KKN, merosotnya moralitas (mentalitas) pemimpin kita.

Untuk itu perlu ketangguhan moral dan pribadi sang mahasiswa (cendekiawan), karena jika tidak demikian, peristiwa Socrates terjadi lagi “lalat liar” dipukul mati di Indonesia. Dan seperti Socrates, pada saatnya cendekiawan mengambil sikap bahwa kehadiran fisiknya tidak penting lagi, yang penting kehadiran “gangguan” itu. Gangguan itu membuat penguasa tidak tenang dalam melanjutkan tidurnya. Saya yakin hal itu bukan sesuatu yang sia-sia.

Karena sang cendekiawan bukan memasukan sesuatu yang asing, yang berasal dari luar, ke dalam diri sesama melainkan menyadarkan sesama apa yang terlekat dalam martabatnya sebagai manusia. Manusia pada hakekatnya baik. Ia mencintai apa yang baik, adil, indah….. Harap oleh hidup dan karya sang cendekiawan masyarakat menyadari bahwa ia tidak dapat hidup lebih lanjut kalau tidak mengubah cara hidupnya sekarang (lihat Ben Senang Galus, Krisis Kemampuan Berpikir, Majalah Nusantara, edisi April-Juni 2013).

Mahasiswa, sebagai kaum muda intelek, tidak disangkal selalu punya andil besar dalam sejarah bangsa ini. Di setiap zamannya, mereka bergerak dengan cara yang berbeda dan dinamis. Dengan adanya tantangan-tantangan kontemporer, yang disebabkan oleh kapitalisasi global, terhadap negeri ini, maka saat ini mahasiswa perlu melakukan revitalisasi gerakan. Meretas jalan perubahan tentu tidak semudah yang dibayangkan.

Namun optimisme akan adanya kebangkitan peran mahasiswa harus tetap ada. Tentu saja itu dimulai dari segelintir orang yang sadar dan peka dengan kondisi bangsa ini. Bagai lilin di tengah kegelapan, mereka akan menjadi penerang untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Revitalisasi gerakan atau dalam bahasa kerennya ialah melakukan suatu apa yang disebut revolution of mind, sebagaimana yang pernah dilakukan mahasiswa angkatan 66 dan 74,   artinya mahasiswa harus melakukan gerakan spiritual, gerakan intelektual, gerakan kultural, gerakan struktural, gerakan massa, artinya harus melakukan counter power yang tentunya tidak menyimpang dari mainstream  negara atau bisa dikatakan dalam sebuah sistem berada pada posisi “kaum pengkritik”. Kaum pengkritik ini bisa dianalogikan dengan istilah kaum penekan atau pressure group. Kehadiran fisiknya tidak penting, yang penting kehadiran gangguan itu ( Ben Senang Galus,  Kaum Muda  dan Gerakan Anti Kemapanan, Suara Pembaruan, 6 Februari 1995).

Revolution of mind hanya lahir dari kampus-kampus di mana sistem pendidikannya mendorong mahasiswa menjadi kaum intelektual organic, intelektual hibridisasi, intelektual kritis pofetis.

Memang antagonistis, di satu pihak masih ada kampus  yang menjalankan fungsinya tidak lebih sekadar Student Breeding (peternakan mahasiswa), panti asuhan, panti jompo.  Karenanya out put-nya menjadi intelektual hidroponik. Intelektual hidroponik adalah intelektual yang pengetahuannya tidak mengakar, kultur akademik di kampus sengaja tidak dikembangkan, karena memang kampus kehilangan semangat, mahasiswa cenderung menjadi pemulung ilmu pengetahuan (Scientist Scalpers).

Oleh karena itu Soedjatmoko mengingatkan “be aware science scapers in the campus, usually they sell science more cheap than the quality assurance". (Soedjatmoko, Cendekiawan dalam Suatu Bangsa yang Sedang Berkembang, dalam Dick Hartoko, Golongan Cendekiawan, Gramedia,Jakarta, 1981, hal.39-57).

Mungkin ada benarnya, karena sebagian besar mahasiswa kita saat ini mengidap penyakit Gaudeamus Igitur Iuvenes Dum Sumus. Ketakberdayaan mahasiswa dalam mengembangkan revolution of mind (kultur akademik/kultur kemasyarakatan), sama artinya mahasiswa sedang melakukan satu proses pauperisasi atau proses pemiskinan intelektual.

Maka pada gilirannya proses pauperisasi ini akan melahirkan sarjana-sarjana serba tanggung, serba tebatas kapasitas keilmuannya, serba terbatas wawasannya dan serba terbatas lingkup ilmiahnya.

Hubungan mahasiswa dengan kampusnya bersifat “loco parentis”, sebagai “anak asuhan” dari sebuah perguruan tinggi yang bertanggungjawab atas bimbingan dan perkembangan pribadi mahasiswa. Bersamaan dengan itu muncullah peran-peran mahasiswa sebagai “santri-santri”, sebagai pelanggan biasa  yang mengambil berbagai pelajaran untuk mencari gelar dan selebihnya sebagai “bohemians” (petualang-petualang), maka wajar saja kalau mereka mengalami krisis intelektual.

Perguruan tinggi sedang dirasuki mental manipulasi, yakni sikap menolak realitas lalu mengungkapkanya secara terbalik, berlawanan atau menjungkirbalikan fakta (Ben Senang Galus, Mahasiswa dan Kehidupan Kampus, Kedaulatan Rakyat, 24 Januari 2009).

Kian pudarnya kultur akademik/kemasyarakatan di perguruan tinggi saat ini saya dapat menduga karena beberapa kemungkinan berikut ini, (1)  budaya ketergantungan intelektual yang tinggi, (2) inner-dynamic yang lemah, (3) belajar dengan moral minimalis, (4) kebiasaan melecehkan waktu, (5) minat baca masih rendah, (6) sosialiasi diri masih rendah, (6) minat menulis rendah, (7) minat diskusi rendah, (8) minat berinovasi masih rendah.

Sebagai kaum penekan dan pengkritik, mahasiswa hanya bisa berperan ketika suatu kebijakan dikeluarkan oleh negara. Mahasiswa tidak bisa berperan secara signifikan dan fundamental dalam proses sebelum kebijakan tersebut dikeluarkan dikarenakan akses mahasiswa untuk masuk ke dalam suatu sistem memang terbatas.

Dalam hal ini, saya melihat bahwa di dalam suatu sistem mahasiswa sekarang ini, hanya berperan sebagai intelektual tradisionil bukan sebagai intelektual organik. Aktivitas-aktivitas intelektual yang dilakukan mahasiswa hanyalah aktivitas-aktivitas intelektual biasa bukan aktivitas-aktivitas intelektual yang berperan dalam proses pengambilan kebijakan suatu negara. Tetapi dalam hal ini eksistensi dan peran mahasiswa sebagai kaum penekan dan pengkritik tidak boleh dihilangkan.

Mahasiswa memposisikan diri sebagai kekuatan moral (moral force), dan sekaligus menjadi katalisator perubahan sosial, di sinilah peran mahasiswa sebagai pressure group. Ilmu harus berpusat pada manusia/masyarakat/berwajah kemanusiaan, kalau tidak sang cendekiwan sendiri akan haus dan lapar di padang gurun pengembaraan ilmu yang makin sepi. Mengabaikan masyarakat/manusia berarti menjadikan manusia sebagai pembunuh dengan berbagai senjata yang telah dihasilkannya.

Heideger mengatakan mahasiswa sebagai cendekiawan menjalankan dua kewibawaan:

(1) Das rehnende denken: pemikirannya memperhitungkan—kehadiran mahasiswa perlu diperhitungkan sebagai asset strategis, menguasai dengan alasan membuat kalkulai politik,

(2) Das andenkende denken, pemikirannya yang memperhatikan, kehadiran mahasiswa sebagi cendekiawan, mampu untuk berpikir, bersikap terbuka, perlu menjadi mahasiswa yang bebas dari mentalitas ikut arus.

Bagaimana mahasiswa memposisikan dirinya dalam konfigurasi kebangsaan ke depan? Dan bagaimana standing point mahasiswa dalam situasi Indonesia saat ini? Mahasiswa memposisikan diri sebagai kekuatan nasional, moral force, social force, pressure group, katalisator perubahan, mengembangkan politik populis—option for the poor, nonmachiavelis, solidaritas universal, non diskriminasi, menjadi garda depan perjuangan HAM, menjadi reference group.

Untuk menjamin  posisi di atas, ada empat fokus perjuangan politik mahasiswa pada saat ini maupun ke depan:

Pemberdayaan masyarakat sipil (civil society)
Penataan system politik yang bermoral
Pembangunan kultur keterbukaan dan demokrasi
Prinsip berpolitik mahasiswa hendaknya berpedoman pada karakter berikut; in principiis, unitas, in dubuiis, libertas, in omnibus, caritas (dalam hal prinsip kita bersatu, dalam hal terbuka kita bebas menentukan pendapat, dalam segala hal harus ada kasih), Mahasiswa terlibat dalam kegiatan politik dalam rangka menempatkan diri sebagai noblesse oblige.


Dalam hal ini, ketika menjajaki kehidupan pasca kampus mahasiswa harus mempersiapkan dan mengekskalasikan diri yang awalnya adalah intelektual tradisionil menjadi intelektual organik-profetik yang berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam menjalankan peran itu hendaknya Anda berpegang pada prinsip moral pertama, Serviens in lumine veritatis, melayani dalam cahaya kebenaran (serving in the light of truth).

Dengan cara demikian  Anda menjalankan sebagian Academic Social Responsibilty.  Dan percayalah apapun yang Anda lakukan, Anda telah mewartakan prinsip moral kedua ”Gloria Dei Vivens Homo, Irenius, Adversus Haereses (memancarkan cahaya kemuliaan Allah penciptanya). Sekali lagi  Vox Dispulum Vox Dei (suara mahasiswa adalah suara Tuhan). Ite Missa Est, pergilah kalian  diutus.


Oleh: Ben Senang Galus

Daftar Pustaka

 Arief Budiman, Peranan Mahasiswa sebagai Inteligensia,’ dalam Aswab Mahasindan Ismet Natsir (peny.) Cendekiawan dan Politik , LP3ES, 1983.
Akira Nagazumi, 1977, Masa awal Pembentukan “Perhimpunan Indonesia”: Kegiatan Mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Anders Uhlin, 1998, Oposisi Berserak; Arus Demokratisasi Gelombang Ketiga di Indonesia, Mizan, Bandung.
Arbi Sanit, 1981, Sistim Politik Indonesia, Jakarta, Penerbit CV Rajawali,
Bourdier, Pierre and Jean-Claude Passeron.Reproduction in Education, Society, and Culture, London and Beverly Hills: Sage. 1977.
Clancy, G. B., A Dictionary of Indonesian History Since 1900, Sunda Publications Sydney, 1992.
George Rudé,Ideology & Populer Protest , The University of North Caroline PressChapel Hill and London, 1995.
John Carey,Intellectuals and the Masses. Pride and Prejudice among the Literacy Intelligentsia 1880 –1939, faber&faber London –Boston, 1992.
Lewis A. Coser, Men of Ideas. A Sociological View, A Free Press Paperback Classic Published by Simon & Schuster, 1997.
Yozar Anwar, Protes Kaum Muda!, PT Variasi Jaya, 1982
Akira Nagazumi, 1977, Masa awal Pembentukan “Perhimpunan Indonesia”: Kegiatan Mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Anders Uhlin, 1998, Oposisi Berserak; Arus Demokratisasi Gelombang Ketiga di Indonesia, Mizan, Bandung.
Arbi Sanit, 1981, Sistim Politik Indonesia, Jakarta, Penerbit CV Rajawali,
Dyer, Jeffrey H., Prashant Kale, and Harbir Singh. (2001) How to Make Strategic Alliances Work. Sloan Management Review, Summer 2001
Ginandjar Kartasasmita. (1997) Kepemimpinan Menghadapi Masa Depan, Disampaikan pada Pembekalan Kepada Para Komandan Jajaran TNI Angkatan Udara dan Kohanudnas, Jakarta, 3 Juli 1997
Marsilan Simandjuntak, Gerakan Mahasiswa:Mencari Definisi, dalam Analisa Kekuatan Politik Indonesia, LPES, Cet. Ke 3,1991,
Gafur, Peranan dan Prospek Mahasiswa Indonesia di Masa Depan, dalam Analisa Kekuatan Politik Indonesia, LPES, Cet. Ke 3,1991
Onghokham, Angkatan Muda dalam Sejarah dan Politik, dalam Analisa Kekuatan Politik Indonesia, LPES, Cet. Ke 3,1991
Burhan D. Magenda, Gerakan Mahasiswa dan Hubungannya dengan Sistem Politik: Suatu Tinjauan, dalam Analisa Kekuatan Politik Indonesia, LPES, Cet. Ke 3,1991
Parakitri Tahi Simbolon, Dibalik Mitos Angkatan 66, dalam Analisa Kekuatan Politik Indonesia, LPES, Cet. Ke 3,1991
Marsilam Simanjutak, Gerakan Mahasiswa Mencari Definisi, dalam Analisa Kekuatan Politik Indonesia, LPES, Cet. Ke 3,1991
Huber Hasulie, SVD, Antara Ilmu Pengetahuan dan Nilai Manusia, dalam Mempertimbangkan Cendekiawan, VOX, Arnoldus Ende, Flores, 1987
Aswab Mahasim dan Ismed Natsir (ed) Cendekiawan dan Politik, LP3ES, Jakarta, 1984
Edward Shills, Kaum Cendekiawan, dalam Dick Hartoko, Golongan Cendekiawan, Gramedia, Jakarta, 1981
Cyrilus Sungga, dalam Mempertimbangkan Cendekiawan, VOX, Arnoldus Ende, Flores, 1987
Dick Hartoko, Golongan Cendekiawan, Gramedia, Jakarta, 1981

Tentang Penulis

Ben Senang Galus, anak Desa Lante (Kabupaten Manggarai), lahir 22 Oktober 1961, alumni UAJY 1988, kini menjadi staf Dinas Dikpora DIY. Sejak mahasiswa aktif menulis di berbagai media cetak, baik lokal maupun nasional, antara lain: Bernas Yogya, Kedaulatan Rakyat, Bali Post, Nusatenggara, Surya, Suara Karya, Sinar Harapan, Solo Post, Kompas,  Kupang Pos, dan Jurnal ilmiah. Jumlah tulisan yang sudah dipublikasikan mencapai 900 lebih. Pembicara di berbagai kongres/seminar lokal, nasional, dan internasional.  

Karya Tulis/Buku:

Dampak Ekonomi Pasar Terhadap Kehidupan sosial Budaya di Indonesia, Depdikbud, 1995
Integrasi Nasional Suatu Pendekatakan Sosial Budaya di Indonesia, Depdikbud 1997
Dom Belo: Negarawan dan Pejuang HAM, editor Peter Tukan, terbitan KWI Jakarta, 1996. 
Editor Buku Spiritualitas Kekaryaan Gereja Katolik Manggarai Memandang Masa Depan, Penerbit Galang Press, 2013. 
Editor buku Reinventing Pendidikan Yang Mengindonesia, Penerbit BETA, Yogyakarta 2014. 
Papua Menjadi Anak Kost di Papua, Kata Pengantar dalam buku Kawin Paksa Burung Garuda dengan Burung Cenderawasi, Beta Yogykarta, 2106
Apa Artinya Sebagai Bangsa Merdeka, Jika Gagal Mendidik Diri Sendiri, Kata Pengantar dalam buku, Soegijapranata Mengabdi Greja dan Negara, Karangan Hety Sujaya, Beta, 2016
Kata Pengantar buku, Stigma Masyarakat terhadap ODHA, Penelitian di Kota Kupang, Beta, 2015
Editor buku Papua Tahanan Republik Indonesia, Beta, Yogyakarta, 2016. 
Menalar Negara: Perspektif Politik, Birokrasi, Pendidikan, Lingkungan Hidup, dan Kebudayaan,Yogyakarta, 2014
Gereja, Kapitalisme, dan Penyalipan Kaum Lemah, Penerbit Beta, Yogyakarta, 2014.
Hermeneutika Filsafat Jawa dan Kosmologi Jawa, Beta Yogyakarta, 2015
Wayang dan Politik Aristokrasi Jawa, Semar dalam Kekuasaan, Penerbit Beta Yogyakarta, 2016.
Mazhab Tamsis: Menuju Hukum Berkeadilan, Biografi Prof. Jawahir Thontowi, Ph.D, 2016, Penerbit FH. UII
Demokrasi Bumi dan Air, Penerbit Beta Yogyakarta, 2016
Perubahan Sosial Budaya dan Kritik Ideologi Pembangunan, Beta 2016
Kuasa Kapitalis dan Matinya Nalar Demokrasu, Beta 2017
Postmodernisme dan Sketasa Hibriditasi, Beta, 2017 

Organisasi:
1. Staf ahli Institut Kebijakan Publik Indonesia
2. Sekjen PJJY sampai sekarang
3. Anggota KRP UGM DIY sampai sekarang 
4. Anggota PREACH UGM  sampai sekarang
E-mail: banguntapan@yahoo.com, 
HP. 085 868 472 461