Refleksi Paskah Seorang Mantan Aktivis
Cari Berita

Refleksi Paskah Seorang Mantan Aktivis

26 March 2018

Dengan suara pelan dan ragu-ragu anak itu bertanya, "Tante, apa aku bisa kerja disini?" (Foto: Istimewa)
Ini kisah seorang aktivis 1998. Tampuk kekuasaan yang dia peroleh pasca tumbangnya Orde Baru yang korup dan diktator ternyata membuatnya sangat tersiksa, karena hampir sebagian waktu dalam hidupnya dihabiskan untuk partai politik dan menjaga popularitas di mata masyarakat.

Sebagai pejabat publik, image sebagai perempuan karier dan berpendidian tinggi membuatnya tertekan. Beberapa waktu lalu ia memilih berhenti berpolitik. Pada titik jenuhnya ia memilih menjadi pekerja paruh waktu, yang tidak banyak meminta banyak waktu maupun komitmen.

Suatu hari, pintu pagar rumah Ginny nama perempuan itu diketuk cukup keras. Ada seorang gadis kecil, kurus dan kusam. 

Melulu karena rasa keibuan yang besar, hati-hati sekali ia melongok keluar "ada apa Nak?"

Dengan suara pelan dan ragu-ragu anak itu bertanya, "Tante, apa aku bisa kerja disini?"

"Kerja, emang kamu bisa apa?" Ginny menjawab spontan.

Mengetahui ada tanggapan, si cilik semakin antusias, "kerja apa aja. Aku bisa siram kebun, belanja ke pasar, bantu tante di dapur, nyapu..."

Terdorong belas kasihan, Ginny mempekerjakan dia sebagai asisten pembantu. Walaupun ia beberapa kali diperingatkan oleh banyak kawan dan saudara, "awas loh, anak itu jangan-jangan suruhan gerombolan penipu yang akan merampok kamu".

Ima, si kecil itu ternyata cerdas dan rajin. Dari seminggu hingga sebulan, sampai enam bulan, Ginny merasa hidupnya kini terasa tak lengkap tanpa celotehan Ima. Anak itu bahkan mengajak Ginny datang ke perkampungan kumuh, tempat ibu dan saudara-saudaranya tinggal. 

Ima mengajari dia naik angkot ke pelosok-pelosok Surabaya tanpa takut. Matanya jadi terbuka pada sisi lain kehidupan kota Surabaya. Bahkan mulai bulan keenam, ia menawarkan diri jadi guru relawan untuk anak jalanan teman-teman Ima.

Ginny menemukan "anak-anak"nya di kampung kumuh itu. Sakit kepala tak pernah datang lagi. Ia kembali mengingat bagaimana perjuangannya dengan beberapa kawan sewaktu ia mahasiswa. Berjuang untuk mereka yang ia sebut tertindas. Bersuara atas mereka yang bagi dia terpinggirkan.

Ia merenung di pojok salah satu rumah kumuh tempatnya menemukan arti sebuah kebahagiaan. Arti sebuah perjuangan yang sesungguhnya.

Dengan berlahan ia membuka Mac Booknya ketika sampai di rumah. Banyak kawannya berfoto ria dengan dedaun palma di tangan mereka. Ia tersadar, aktivitasnya di perkampungan membuatnya lupa bahwa ia telah memasuki babak baru masa paskah, sebuah peringatan penting dalam ritual keagamaan yang dianutnya.

Ia tersungkur di depan patung Bunda Maria di sudut kamarnya. Air matanya mengalir deras. Ibarat bulir-bulir rosario yang berjatuhan ke lantai ubin rumahnya nan mengkilap ala Maxim Gorki dalam novel Ibunda yang diterjemahkan Pram itu.

Ia termangu menyebut nama Allah Tuhan-nya. Ia mulai mengingat kesalahan-kesalahannya selama ini. Menjilat keringat bahkan ideologi yang dianutnya semasa menjadi aktivis dahulu. Politik praktis membuatnya seolah buta. Buta segala macam hal. Ia lelah, ia hendak bertobat.

Tanpa sengaja ia merangkak ke arah tumpukan buku di lemari. Ia membuka Madilog, sambil mengingat Ima ia menulis singkat "Kalau hidup anda adalah kertas putih, seberharga apa kertas itu tergantung pada apa yang anda tulis di atasnya".

Dalam lelap ia menyempatkan diri merenungkan makna sebuah ungkapan Dalai Lama, "Happiness is not something ready made. It comes from your actions".

Oleh: Andi Andur