Pernah Menikah, Ini Fakta Lain Tsamara Amany yang Menyita Perhatian Publik
Cari Berita

Pernah Menikah, Ini Fakta Lain Tsamara Amany yang Menyita Perhatian Publik

8 March 2018

Gadis muda kelahiran 24 Juni 1996 ini lahir dan besar di Jakarta. Dalam usia yang masih terbilang muda, Tsamara sudah berkecimpung di dunia politik. (Foto: Istimewa)
marjinnews.com - Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia Tsamara Amany  kerap menjadi perhatian masyarakat Indonesia.

Wanita muda yang telah malang melintang di dunia perpolitikan Indonesia ini, selalu berhasil mengarahkan pandangan publik ke arah dirinya.

Berikut delapan fakta menarik tentang Tsamara Amany seperti dilansir TribunJakarta.com:

1. Bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana

Tmasara Amany dan Ketua Umum PSI Grace Natalie pada Kamis (1/3/2018)  menjadi sorotan. Pasalnya keduanya bertamu ke Istana Kepresidenan dan bertemu dengan Joko Widodo.

Dilansir dari Tribunnews.com, Grace menjelaskan pertemuan tersebut membicarakan banyak hal terkait isu-isu politik terkini dan polemik UU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (UU MD3).

Sebelumnya, PSI mengakui, pertemuan tersebut turut membicarakan strategi pemenangan Jokowi di pemilihan presiden 2019.
Salah satu strategi pemenangan yang dibahas adalah kampanye lewat media sosial.

"Kami tadi juga presentasi keberhasilan kami di medsos dan Pak Jokowi senang dengan hal itu. Sebab, Pak Jokowi sadar milenial persentasenya pada 2019 sangat besar," kata Tsamara Amani.

Tsamara mengatakan, nantinya kinerja Presiden Jokowi selama memimpin Indonesia bisa dikampanyekan di media sosial.
Selain tak memakan banyak biaya, pesan yang hendak disampaikan juga bisa langsung sampai ke generasi milenial.

"Apalagi, Pak Jokowi punya kinerja yang sangat baik, punya prestasi. Tinggal bagaimana kami mengemas konten tersebut di media sosial agar lebih banyak anak muda yang sadar, ini loh Presiden kalian betul betul berprestasi dan layak dipilih kembali," kata Tsamara.

2. Lulus Sarjana S-1 dalam 3,5 Tahun

Ketua DPP Bidang Eksternal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany Alatas baru saja mendapat gelar sarjananya.

Tsamara membagikan momen kelulusan dengan mengunggah beberapa potret dirinya setelah selesai jalani sidang skripsi pada Selasa (6/3/2018).

Tsamara juga sempat mengabadikan foto bersama dosen penguji pada Insta Storynya @tsamaradki. Politikus muda tersebut menuliskan keterangan berikut.

'Alhamdulillah Lulus 3,5 tahun dengan nilai A. Kelulusan ini aku persembahkan untuk kedua orang tuaku. Mama dan papa yang selalu beri dukungan tanpa henti,'

3. Co-Founder Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat

Bersama dengan dua rekannya yaitu Rachael Abigail dan Nita Wakan, Tsamara mendirikan lembaga swadaya masyarakat Komunitas Perempuan Politik @BeraniPeduli.

Didirikannya @BeraniPeduli diharapkan menjadi wadah perempuan Indonesia untuk mempunyai kepedulian terhadap situasi politik dan ingin berbuat sesuatu untuk mengatasi akar masalah kurangnya partisipasi politik perempuan Indonesia.

Komunitas ini menjelaskan apabila banyak perempuan peduli isu politik dan terlibat politik maka Indonesia mampu menyelesaikan masalah secara cepat dan mudah.

4. Pernah menikah

Tsamara mengaku pernah menikah ketika usianya masih 19 tahun di tahun 2015.

Namun kini statusnya sudah kembali menjadi single.

Dua tahun menikah, Tsamara Amany dan suaminya memutuskan untuk berpisah.

5. Sempat Magang di Balai Kota DKI Jakarta

Tsamara yang tertarik dengan dunia politik itu pernah menjadi staf magang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota DKI.
Ia magang selama empat bulan sejak Januari hingga April 2016 dengan tugas membantu pelayanan terpadu satu pintu (PTSP).

Tugasnya untuk melakukan penyederhanaan perizinan untuk memulai usaha.

Selama magang rasa kekagumannya kepada sang Gubernur waktu itu semakin tumbuh, hal itu dilandasi sikap Ahok yang bersih, tegas dan berani melakukan perubahan dan terobosan di kawasan Ibu Kota.

Ketika Ahok memutuskan Pilgub DKI Jakarta 2017, Tsamara ikut berkampanye melali media sosial dan melalui jaringan yang dimiliki.

6. Membuat Sebuah Buku Tahun 2014

Selain mendirikan komunitas, Ia juga meluncurkan buku berjudul Curhat Perempuan.

Buku itu merupakan kumpulan berbagai tulisan politiknya sejak tahun 2014.

Tsamara mengabadikan berbagai idenya agar bisa menjadi inspirasi perempuan muda Indonesia.

Buku setebal 372 halaman terdiri dari tujuh bab berkisah tentang Joko Widodo dan pemerintahannya, situasi sosial politik di Indonesia dan ibukota DKI Jakarta, Ahok dan fenomena menjadi muslim di Indonesia.

Penulis senior Ayu Utami mengatakan buku ini bagus karena mengingatkan perempuan harus bekerja lebih keras saat bersaing di dunia publik.
Sosok Ayu menyatakan usai membaca curhat perempuan, teringat dirinya saat mencapai kesadaran politik yang membuatnya keluar dari kungkungan keluarganya yang mana pendukung rezim Soeharto saat itu.

7. Jadi DPP PSI di usia 21 Tahun

Gadis muda kelahiran 24 Juni 1996 ini lahir dan besar di Jakarta. Dalam usia yang masih terbilang muda, Tsamara sudah berkecimpung di dunia politik.
Setelah bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara langsung diberi posisi sebagai Ketua DPP bidang eksternal semenjak April 2017.

8. Pernah Berdebat dengan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah

Perempuan cantik ini mengkritik sikap dan pendapat Wakil Ketua DPR yang kerap memojokkan KPK itu, pada Juli 2017.

Tak cuma lewat blog, Twitter, dan kolom di media online, Tsamara juga membuat lima video singkat bertajuk "5 Sesat Pikir Fahri Hamzah".

 "Aku buat videonya dibantu teman-teman di PSI (Partai Solidaritas Indonesia)," ujarnya.

Dirinya membahas sejumlah pernyataan Fahri di media massa seperti langkah KPK menangani penyidikan skandal korupsi e-KTP sebagai khayalan dan tudingan KPK melakukan bisnis penangkapan.

Tsamara mengatakan tak habis pikir atas tudingan terakhir karena nyatanya semua kader partai baik oposisi dan penyokong pemerintah.

"Di zaman Pak SBY begitu, di era Pak Jokowi sekarang ini juga demikian," ujarnya.

Sebelum terlibat debat tentang KPK di media sosial, Tsamara mengaku pernah berdebat isu komunisme dengan Fahri.

Saat itu dirinya mempertanyakan gejala komunisme yang dimaksud Fahri namun Fahri menyamakan gejala komunisme dengan narkoba. (AA/MN)