Parah, Nyepi, Oknum Aparat Desa Tertangkap Mandi Bareng Cewek Kafe
Cari Berita

Parah, Nyepi, Oknum Aparat Desa Tertangkap Mandi Bareng Cewek Kafe

19 March 2018

Pelanggar nyepi diadili oleh pecalang dan bendesa adat Pakraman Anturan(Foto: Istimewa)
Singaraja, Marjinnews.com – Sejumlah warga di Buleleng, tertangkap pecalang karena berkeliaran saat nyepi. Mereka dianggap melanggar tapa brata penyepian.

Meski belum ada yang dikenakan sanksi adat, para pelanggar itu diminta tak mengulangi lagi perbuatannya pada pelaksanaan Nyepi berikutnya.

Dari sekian banyak yang tertangkap, salah seorang diantaranya adalah oknum aparat desa.

Oknum aparat desa itu tertangkap di Pemandian Mumbul, Desa Anturan. Oknum aparat desa berinisial KS itu, tertangkap tengah mandi di kolam pemandian bersama istri,

tiga orang wanita yang diketahui bekerja sebagai waitress café, serta seorang laki-laki yang memiliki hubungan asmara dengan salah satu waitress.

Keenam orang itu, ditangkap pecalang Desa Pakraman Anturan, pada Sabtu (17/3) sore lalu. Mereka langsung digelandang ke wantilan Pura Desa Anturan untuk dimintai keterangan.

Kelian Desa Pakraman Anturan, Ketut Mangku mengatakan, aparat adat sudah mengambil tindakan atas pelanggaran itu.

Pihak adat hanya bisa memberikan pembinaan, agar mereka tak mengulangi perbuatannya.

“Belum ada sanksi adat, karena belum ada perarem. Hanya pembinaan saja. Khusus untuk oknum aparat desa, kami harap dari (desa) dinas bisa memberikan pembinaan,” kata Mangku.

Sementara itu Perbekel Anturan, Made Budi Arsana mengaku belum mengetahui secara pasti kejadian tersebut.

Pihaknya akan berkoordinasi terlebih dulu dengan desa pakraman, untuk mengetahui detail kejadian itu.

“Kami akan koordinasi dulu dengan adat, karena kami belum tahu persis kejadiannya seperti apa. Biar kami tidak salah nanti,” kata Budi.

Di sisi lain, Wakil Bupati Buleleng, dr. Nyoman Sutjidra mengatakan, pelaksanaan tapa brata penyepian pada tahun ini, berjalan lebih tertib dari tahun-tahun sebelumnya.

Meski masih ada warga yang tertangkap melanggar tapa brata penyepian, namun jumlahnya sudah berkurang ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang masyarakat bisa melaksanakan catur brata dengan baik. Saat malam hari, di rumah juga tertib sekali. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih khidmat dan tertib lagi,” kata Sutjidra. (rb/RN/MN/mus/eps/mus/JPR)