Nobar The First Grader, AMP Surabaya Prihatin dengan Pendidikan Indonesia
Cari Berita

Nobar The First Grader, AMP Surabaya Prihatin dengan Pendidikan Indonesia

MARJIN NEWS
28 March 2018

Diskusi itu melibatkan hampir 50 orang mahasiswa asal Papua dan beberapa organisasi kepemudaan yang tersebar di Surabaya. (Foto: AA)
Surabaya, marjinnews.com - Mahasiswa asal Papua di Surabaya yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) melakukan kegiatan nonton bareng dan diskusi persoalan pendidikan dalam film The First Grader (2003) di Asrama Papua Jalan Kalasan Nomor 10, Surabaya pada Selasa, 27 Maret 2018.

Diskusi itu melibatkan hampir 50 orang mahasiswa asal Papua dan beberapa organisasi kepemudaan yang tersebar di Surabaya.

Masing-masing orang diberi kesempatan untuk merefleksikan film yang bertemakan pendidikan dan suasana politik Kenya pasca kemerdekaan. Menurut Jefri, salah satu peserta diskusi pendidikan di Indonesia acap kali dipolitisasi untuk kepentingan kelompok tertentu.

"Ada tiga aspek menurut saya dari film The First Grader ini yang menjadi sorotan kita bersama untuk konteks Indonesia terutama Papua yaitu pendidikan, ekonomi dan budaya. Khusus untuk pendidikan, dimana-mana di negara ini selalu disusupi kepentingan politik yang kemudian menyebabkan pendidikan kemudian hanya menjadi pintu masuk lahirnya penjajah baru, kapitalis" ujar mahasiswa Jurusan Antropologi Universitas Airlangga itu.

Selain membahas persoalan pendidikan, beberapa orang dalam ruang lingkup diskusi itu juga berbicara tentang kebebasan bagi perempuan teruma yang berprofesi sebagai guru.

"Yang menarik dari saya menurut film ini adalah ia berhasil mengangkat berbagai macam aspek kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Tokoh Jane dalam film itu sebenarnya mau mengatakan kepada semua perempuan terutama perempuan Papua untuk peka terhadap perilaku diskriminatif akibat budaya paterialisme yang memposisikan perempuan sebagai orang nomor dua dan tidak diperhatikan" ujar salah satu peserta diskusi yang enggan disebutkan namanya kepada marjinnews.com.

Dalam penutup diskusi itu mahasiswa asal Papua itu berkomitmen untuk bisa menjadi pelopor penggerak pendidikan di tanah Papua dan bahkan Indonesia. Bagi mereka pendidikan adalah akar dari sebuah kekuatan besar yang dimiliki sebuah bangsa dan negara.


Sekilas tentang The First Grader
Pada tahun 2003, seorang kakek berkebangsaan Kenya, Kimani Ng’ang’a Maruge, telah mencatat rekor pada Guiness Book sebagai orang tertua (84 tahun) yang mendaftar masuk sekolah dasar. Dibuatlah sebuah film berdasarkan kisah inspirasional ini pada tahun 2010, dengan kerjasama BBC Films serta sutradara Justin Chadwick yang sebelumnya menggarap ‘The Other Boleyn Girl’ (2008)


The First Grader mengajak kita menyoroti Kenya era post-kolonial dimana Pemerintah Kenya saat itu menjanjikan pendidikan dasar cuma-cuma bagi semua. Hal ini tentu disambut gembira oleh warga, tidak terkecuali warga sebuah desa di salah satu daerah terpencil Kenya. Satu-satunya sekolah dasar yang terdekat dengan desa tersebut sempat kewalahan menghadapi serbuan orangtua yang mendaftarkan anak-anaknya untuk sekolah.

Situasi semakin pelik ketika satu sosok kakek tua bernama Kimani Maruge secara mengejutkan mengemukakan keinginannya untuk ikut mendaftar.
Maruge sendiri buta huruf karena sepanjang hidupnya tidak sempat mengenyam pendidikan apapun sejak kecil diakibatkan tidak adanya biaya.

Ia adalah keturunan suku Kikuyu yang pada tahun 1950an mencetuskan Pemberontakan Mau-Mau, di mana ia tergabung dalam kelompok pemberontak anti kolonial yang menentang militer pemerintah Inggris yang saat itu menduduki Kenya.

Menanggapi hal ini, pihak sekolah sempat mencemooh dan mengusir Maruge dengan alasan umurnya toh sudah tidak lama lagi sedangkan masih banyak anak-anak yang bahkan belum mendapat jatah bangku. Siap-siap menitikkan air mata menyaksikan kegigihan Maruge agar bisa diterima bersekolah. Siapa yang tega melihat sosok ringkih seorang kakek yang berjalan tanpa alas kaki dan ditompa oleh tongkat, harus menempuh jarak pulang pergi yang tidak bisa dibilang dekat, hanya untuk sekedar belajar alfabet?

Di balik keinginan Maruge untuk belajar baca tulis, sebetulnya ada satu alasan yang bisa dibilang sangat sederhana. Ia memiliki sebuah surat yang disimpannya sejak lama, dan ia ingin dapat membacanya sendiri, tanpa dibacakan orang lain.
Rupanya hal tersebut mengetuk hati Jane Obinchu (Naomie Harris), kepala sekolah di SD tersebut.

Walau sempat ditentang oleh beberapa guru, Jane akhirnya mengizinkan Maruge untuk menjadi salah satu murid bersama anak-anak lainnya. Perjuangan Maruge dan Jane rupanya tidak berhenti sampai disitu, karena kehadirannya di SD tersebut menarik perhatian berbagai pihak mulai dari media hingga rasa iri warga desa. Masalah demi masalah mulai membayangi Maruge dan Jane, dari isu yang berangkat dari konflik etnis hingga kepentingan politis.

Sebuah kutipan dari psikolog & filsuf Erich Fromm mengatakan,
Why should society feel responsible only for the education of children, and not for the education of all adults of every age?

Pertanyaan ini cukup menggambarkan kisah dari Maruge dan bagaimana akses pendidikan seharusnya menjadi hak setiap orang tanpa pandang umur. The First Grader juga menceritakan betapa birokrasi yang kaku menyulitkan para guru di lapangan untuk dapat memberikan sarana pendidikan terbaik bagi para muridnya.

Pengembangan karakter Maruge dibentuk dari beberapa flashback masa lalunya, di antaranya saat ia kehilangan keluarganya secara tragis saat pemberontakan, dan saat ia harus menjalani berbagai siksaan saat disekap di kamp konsentrasi militer Inggris.

Yang menarik adalah, walaupun film ini menggambarkan kekejaman militer Inggris saat pendudukan dulu, fakta bahwa sutradara adalah orang Inggris serta mendapat dukungan dari BBC dan UK Film Council Lottery Fund cukup membuat saya angkat topi. Chadwick sendiri dalam production notes mengatakan bahwa ia memang ingin memberikan gambaran akan sisi lain dari pemberontakan Mau-Mau yang selama ini lekat dengan stigma kejam dan barbar, dan tidak ada yang cukup perduli pada apa yang sebetulnya terjadi saat itu.

Pada kenyataannya, pemberontakan tersebutlah yang justru mengantar Kenya pada kemerdekaan dari penjajahan kolonial.
Film ini akan membuat orang yang telah menyia-nyiakan pendidikan (dan yang mempersulit akses pendidikan) tertunduk malu.

Maruge telah membuktikan bahwa one is never too old to learn Empat jempol untuk akting Oliver Litondo sebagai Maruge dan aktris Inggris Naomie Harris!

Sang tokoh asli telah tutup usia tahun 2009 lalu, setelah sebelumnya sempat berangkat ke United Nations Millenium Development Summit tahun 2005 untuk berbicara mengenai pentingnya pendidikan dasar.
A heartwrenching true story which defines what inspirational truly means 9/10. (AA/MN)