Miris, Sudah 18 Orang TKI NTT Meninggal Selama 2018
Cari Berita

Miris, Sudah 18 Orang TKI NTT Meninggal Selama 2018

22 March 2018

Menurut Hermono, dari data statistik yang dimiliki pihaknya, jumlah TKI asal NTT yang meninggal dari tahun ke tahun terus meningkat (Foto: Istimewa). 

Feature, marjinnews.com - Kasus yang menimpa hampir semua penyumbang devisa bagi negara Indonesia sepertinya tidak pernah ditangani dengan serius. Ada yang bersimpatik tetapi tidak bisa berempati. Bahkan ada juga yang nekat menjadikannya isu untuk kepentingan politik. Korban perlakuan tidak manusiawi pun makin menjadi-jadi.

Berdasarkan catatan Bank Dunia pada tahun 2015, sumbangan devisa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mencapai US$ 10,5 miliar atau sekitar 140 triliun rupiah. Hasil yang jauh lebih besar dari program pengampunan pajak Tax Amnesty yang hanya mencapai 110 triliun rupiah hingga awal tahun 2015, (Katadata.co.id, 26 Januari 2018).

Kendati demikian, masih banyak masalah yang menimpa para buruh migran seperti beberapa kasus yang menimpa TKI asal NTT. Memang harus kita akui bahwa hampir beberapa persen TKI kita mengalami masalah hukum di tempat mereka bekerja. Pada triwulan I tahun 2017 BNPT2TKI memulangkan 20.612 buruh migran Indonesia. Sebanyak 3.240 orang mengalami masalah hukum di negara penempatannya.

Sekretaris Utama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Hermono mengatakan, dalam rentang waktu tiga bulan, Januari-Maret 2018, 18 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal di Malaysia.

Menurut Hermono, dari data statistik yang dimiliki pihaknya, jumlah TKI asal NTT yang meninggal dari tahun ke tahun terus meningkat.

"Tahun 2018, sampai dengan saat ini sudah ada 18 orang TKI asal NTT yang meninggal. Semuanya undocumented atau ilegal," ungkap Hermono seperti dilansir KOMPAS.COM, Rabu (21/3/2018).

Hermono menjelaskan, tahun 2016, sebanyak 46 orang meninggal, hanya empat orang yang legal. Sedangkan tahun 2017, ada 62 TKI asal NTT yang meninggal dan hanya satu orang yang legal.

"Menurut data yang ada pada kami, ada sekitar 2,7 juta sampai dengan 3 juta TKI yang bekerja di Malaysia. Lebih dari 50 persen TKI ini tidak memiliki dokumen resmi atau undocumented. 92 persen permasalahan TKI di Malaysia berhubungan dengan TKI ilegal ini," jelasnya.

Dengan data ini, lanjut Hermono, memperlihatkan ada sesuatu yang mesti dibenahi bersama-sama.

"Karena itu, ke depannya harus ada komitmen bersama untuk mengatasi masalah ini," terangnya.

Adapun gubernur NTT, Frans Lebu Raya beberapa waktu lalu mengaku prihatin dengan beberapa kasus dalam waktu terakhir yang menimpa masyarakat daerahnya. Gubernur Frans mengaku tidak tahu menahu soal proses keberangkatan TKI ilegal dari NTT. Ia hanya tahu ketika begitu banyak peti mati yang didatangkan dari luar negeri berisi jenazah warganya.

Gubernur dua periode itu berencana mendata semua TKI yang keluar negeri agar mudah dipantau. Menurutnya, perlu ada sinergisitas antar lembaga pemerintahan terkait untuk melancarkan program penurunan angka kematian TKI NTT di luar negeri. (AA/MN)