Mengenang Sushmita, Perempuan Penulis India yang Tewas Ditembak di Afganistan
Cari Berita

Mengenang Sushmita, Perempuan Penulis India yang Tewas Ditembak di Afganistan

8 March 2018

Sushmita adalah salah satu tokoh terkemuka di negara itu. Ia mulai terkenal sejak menulis buku berjudul "Kabuliwala's Bengali Wife" pada tahun 1997. (Foto: Istimewa)
September tahun 2013, menjadi cerita kelabu bagi seorang Sushmita. Perempuan penulis asal Kolkata, India itu tewas ditembak di luar rumahnya di Sharana, ibu kota Provinsi Paktika, Afganistan.

Menurut the Telegraph pada saat itu, diduga Sushmita dibunuh oleh milisi Taliban. Keterangan Kepala Kepolisian Paktika, Dawlat Khan Zardan menggambarkan bagaimana sejumlah pria bercadar menyandera keluarga wanita berusia 49 tahun itu termasuk suaminya Jaanbaz Khan dengan mengikat mereka lalu menggelandang Sushmita keluar rumah untuk ditembak dan membuang jasadnya di dekat madrasah.

Sushmita adalah salah satu tokoh terkemuka di negara itu. Ia mulai terkenal sejak menulis buku berjudul "Kabuliwala's Bengali Wife" pada tahun 1997.

Buku itu bercerita tentang kisah hidupnya sejak menikahi pebisnis Afgnistan, Jaanbaz Khan. Mereka bertemu dalam sebuah pertunjukan teater di Kolkata pada 1986 dan menikah pada tahun 1989. Pernikahan itu sangat ditentang keluarganya lantaran Khan adalah seorang Muslim sementara ia adalah seorang Hindu.

Dalam buku yang sama, Sushmita menceritakan awal kehidupannya di Afganistan yang berjalan normal. Ia bisa leluasa membuka klinik untuk perempuan. Namun, semuanya berubah ketika Taliban berkuasa pada 1997-2001.

Kelompok garis keras ini menerapkan aturan yang mengekang perempuan. Bentuk diskriminasi yang dilakukan Taliban terhadap perempuan adalah melarang perempuan bekerja dan tidak memperbolehkan perempuan untuk bersekolah. Ia pun harus menutup kliniknya dan dilarang untuk keluar rumah.

Cerita ini menarik perhatian banyak orang. Namanya kian melambung ketika bukunya diangkat ke layar lebar di India dengan judul Escape from Taliban pada tahun 2003. Artis cantik Bollywood Manisha Koirala pun dipilih menjadi pemeran utama.

Sushmita sempat dapat kabur ke India lewat terowongan yang ia gali menembus pagar rumahnya untuk bertemu dengan keluarga tercinta pada tahun 1995. Namun, pada bulan Januari 2013 ia hendak kembali ke Afganistan untuk menulis tentang perempuan di negara itu.

Mimpi untuk menerbitkan novelnya pada pekan kedua bulan Oktober bertepatan dengan peringatan Dewi Durga melalui penerbit Bhasa O Sahitya kandas di tengah jalan.

Maut merenggut sang perempuan tangguh sebelum janjinya hendak kembali ke India untuk bertemu keluarganya pada bulan November 2013.

Sushmita hanyalah satu dari sekian banyak orang yang memilih jalan hidupnya dengan cara menghidupi nuraninya melalui karya tulis. Wiji Thukul melalui puisi-puisinya di Indonesia benar-benar menjadi bumerang bagi penguasa lalim yang menghalalkan penindasan untuk sesuatu bermama kekuasaan.

Sushmita seperti batu kerikil kecil dalam sepatu yang sangat mengganggu sang pemilik kaki untuk menginjak-injak apa yang tidak sudi dilihatnya. Melalui tangan-tangan kotornya, ia membuang batu kecil itu jauh sampai bahkan tidak kasat mata ketika dilihat.

Kita pun sering dihadapkan pada kondisi yang demikian. Kebencian, penindasan, dan sikap acuh terhadap segala sesuatu persoalan seolah mendarahdaging dalam diri kita.

Dan Sushmita, mewakili kaumnya terus bersuara lantang menirukan bunyi puisi sahabatnya Wiji Thukul, "hanya ada satu kata, LAWAN!"

Oleh: Andi Andur