Mengenal Calon Pilot Perempuan Dari Manggarai, Maria Gracella Stephani Soe
Cari Berita

Mengenal Calon Pilot Perempuan Dari Manggarai, Maria Gracella Stephani Soe

8 March 2018

Dalam sistem pendidikan di Flybest Flight Academy, Stephani harus melewati tiga tahapan terlebih dahulu untuk kemudian bisa mendapat license untuk menjadi pilot profesional.  (Foto: WF)
Marjinnews.com - Mendengar kata pilot, yang terlintas dalam benak kita tentu tidak terlepas dari  laki-laki gagah dan tampan.

Ternyata yang berprofesi sebagai pilot tidak selalu kaum Adam. Kaum Hawa pun memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pengemudi pesawat meskipun tidak untuk semua maskapai penerbangan.

Maria Gracella Stephani Soe atau yang akrab disapa Stephani ialah calon pilot kelahiran Ruteng-Manggarai, 22 April 1997 yang saat ini tengah menempuh pendidikan pilot di  Flybest Flight Academy Batam, Indonesia.

Tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi alumnus SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng ini bisa menempuh pendidikan pilot profesional di sekolah ternama dan berkualitas sekelas Flybest Flight Academy, yang memiliki koneksi yang cukup baik dengan sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia.

Berawal dari kegemarannya saat kecil untuk melihat sunset (terbenamnya matahari pada sore hari), ia pun berangan-angan untuk bisa melihat sunset langsung dari langit.

”Saat kecil saya sangat senang melihat sunset. Hampir tiap sore saya ke luar rumah dan menunggu tibanya saat sunset. Dari situlah kemudian saya berjanji untuk suatu saat bisa melihat sunset  langsung dari langit”, ujar putri dari pasangan Flavianus Soe dan Natalia Dugis ini.

”Bapa dan mama sangat mendukung saya mewujudkan cita-cita saya menjadi pilot. Hal inilah yang terus memotivasi saya untuk bersekolah dengan baik”, ujarnya lagi.

Selama menempuh pendidikan di Flybest Flight Academy Batam, Stephani dan kesembilan teman seangkatannya tinggal di sebuah mess yang disediakan pihak sekolah. Dan di antara mereka bersepuluh, Stephani merupakan satu-satunya wanita.

”Saya sangat senang bersekolah di sini. Terlepas dari karena ini cita-cita saya sejak kecil, tetapi juga karena teman-teman saya yang lain sangat baik tehadap saya. Kami saling membantu satu sama lain, sehingga sudah merasa seperti saudara sendiri”, ujar Stephani yang gemar bermain sepak bola dan membaca novel ini.

Dalam sistem pendidikan di Flybest Flight Academy, Stephani harus melewati tiga tahapan terlebih dahulu untuk kemudian bisa mendapat license untuk menjadi pilot profesional.
Tahapan tersebut adalah Private Pilot License (PPL), Commercial Pilot License (CPL), dan Instrument Rating (IR). Saat ini Stephani sedang dalam tahap PPL menuju CPL.

Ia sedang menunggu ujian checkride (ujian kemampuan penerbangan). Normalnya, lama waktu pendidikan di Flybest Flight Academy ialah 10 bulan yaitu sampai level Instrument Rating (IR).

Selain itu untuk gelar, di Flybest Flight Academy tidak bertujuan mendapatkan gelar. Yang kemudian didapat dari sini ialah license atau izin resmi untuk menjadi pilot, untuk kemudian bisa berkerja di maskapai penerbangan yang lebih besar.

“Selain Flybest Flight Academy Batam, ada pula Lombok Institute of Flight Technology (LIFT) dan Bali International Flight Academy (BIFA) yang juga merupakan sekolah bagi calon pilot. Kalau di Flybest Flight Academy  tujuan akhirnya agar para calon pilot mendapat license pilot”, ungkap Stephani.

Setamat Flybest Flight Academy, kita bisa memilih apakah akan merintis karir di Airline  atau menjadi Flight Instructor.

Flybest Flight Academy  sendiri telah menjalin kerjasama denga beberapa maskapai penerbangan di Indonesia, salah satunya ialah Air Asia Airlines”, lanjutnya lagi.

Terkait biaya, memang cukup besar yaitu $ 70.000 atau sekitar +  915.000.000,00 IDR sampai selesai masa pendidikan 10 bulan, sampai level Instrument Rating (IR). Total biaya tersebut sudah mencakup semua biaya masuk, biaya pendidikan, biaya hidup selama masa studi, dan dana-dana lain.

“Biaya pendidikan memang cukup besar. Tapi prospek ke depannya tentu tak kalah menggiurkan karena lapangan kerja potensial sudah menunggu”, ungkap Stephani lagi.

Terkait pengalamannya menerbangkan pesawat, Stephani punya kesan tersendiri. ”Kemarin waktu cross country 2 rutenya Batam ke Balai Karimun. Puji Tuhan semuanya bisa saya lakukan dengan baik”, tambahnya lagi.

”Untuk sahabat-sahabatku dari NTT, kerjarlah apa yang kamu inginkan. Meskipun sekilas nampak sulit, asal mau berjuang semuanya pasti bisa ditaklukan”, paparnya.

Akhirnya, sebuah nasihat kecil bagi kita semua, terutama kaum muda NTT: mari membangun mimpi. Mulailah dari mipi-mimpi sederhana yang perlahan namun pasti coba kita wujud nyatakan, hingga akhirnya mimpi itu bisa kita raih. (RN/MN)

Sumber: Warta Flobamora edisi November 2016