Lagi, TKI Meninggal di Malaysia Dengan Kondisi yang Mengenaskan

Milka adalah anak ke 6 dari 7 bersaudara. Almarhum sendiri tidak menikah, tetapi memiliki satu anak perempuan,  sekarang berusia 36 tahun, namanya Glorya Boimau. (Foto: Ilustrasi)
Kupang, Marjinnews.com - Belum hilang duka mengenai kasus kematian Adelina Soi, TKW asal NTT yang diduga dianiaya oleh majikananya di Malaysia, kini Minggu (11/3/18) jam 02.15 siang, NTT kembali menerima kado duka dari Negeri Jiran, Malaysia, berupa 2 peti jenasah.

Satu jenasah perempuan bernama Milka Boimau asal Desa Kotabes, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, dan satu jasad laki-laki bernama Mateus Seman asal Kampung Mbeling, Desa Gunung Liwut, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Waktu kedatangan dua jenasah via Bandara El Tari Kupang itu hampir bersamaan dengan pesawat yang berbeda. Jenasah Milka Boimau dijemput oleh keluarganya, sedangkan jenasah Mateus Seman tidak dijemput oleh seorang pun.

Sebelum diberangkatkan ke Amarasi, jenasah Milka Boimau terlebih dahulu didoakan oleh keluarga yang dipimpin oleh Ketua Badan Pembantu Pelayanan Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT, Pendeta Emmy Sahertian.

Sementara jenasah almarhum Mateus Seman didoakan oleh Sr. Laurent, PI yang dihadirkan oleh para aktivis anti trafficking saat menjemput kedua jenasah.

Data kematian Mateus Seman yang ditulis oleh Konsulat RI Tawau, Malaysia, menyebutkan, Mateus Seman meninggal karena Coronary Artery Thrombosis. Pria berusia 43 tahun ini meninggal pada tanggal 5 Maret 2018 di Brought In Dead To Hospital Lahad Datu Sabah.

Saul Boimau, saudara kandung almarhumah Milka Boimau mengatakan, pihaknya tidak tahu sejak kapan Milka berangkat kerja ke Malaysia. Berita kematian Milka justru didapat dari BP3TKI Kupang setelah mendapat informasi dari perusahaan tempat Milka bekerja.

Kata Saul, semua data diri Milka dipalsukan. Itu artinya Milka dikirim ke Malaysia secara ilegal oleh Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang mengirimnya.

“Kami asal dari Desa Nunbes, sedangkan dalam data Milka, dia berasal dari Desa Oasena, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang. Dalam data kematian, umurnya 38 tahun. Padahal saya sendiri sudah berusia 78 tahun. Itu berarti dia (Milka) sudah berusia lebih dari 60 tahun,” papar Saul.

Menurut Saul, Milka adalah anak ke 6 dari 7 bersaudara. Almarhum sendiri tidak menikah, tetapi memiliki satu anak perempuan,  sekarang berusia 36 tahun, namanya Glorya Boimau.

“Kami tidak tahu berangkatnya kapan dan siapa yang urus dia jalan. Kami akan proses hukum supaya perekrutnya ditangkap,” tegas Saul sambil berlinangan air mata.

Informasi yang disampaikan salah satu staf BP3TKI Kupang menyebutkan, Milka Boimau meninggal di Penang, Malaysia pada tanggal 7 Maret 2018. Informasi kematiannya baru diketahui KJRI Penang pada tanggal 8 Maret 2018.

Pihak KJRI kemudian memanggil majikan Milka atas nama Khoor Choon Huat yang beralamat di Nomor 2 Lorong Cegar 12, Taman Cegar, 14100 Simpang Ampat, Pulau Pinang, Malaysia untuk dimintai keterangan soal penyebab kematian Milka.

Milka disebut meninggal karena sesak napas. Namun saat keluarga membuka peti jenasah pada Minggu (11/3/18) sore, keluarga mendapati tubuh Milka mulai dari leher hingga perut penuh dengan bekas jahitan. Seketikan menjadi heboh hingga ke media sosial facebook.

Peti Jenasah Milka Boimau dan Mateus Seman saat tiba di Bandara El Tari Kupang, Minggu (11/3/18) siang.

Kepala BP3TKI Kupang, Tato Tirang, melalui  Kepala Seksi Perlindungan dan Penempatan BP3TKI Kupang, Timoteus Kopong, menjelaskan, soal jahitan tersebut erat kaitannya dengan aturan di Malaysia.

“Tanpa persetujuan dari keluarga pun tetap diotopsi. Jadi kita tidak bisa intervensi. Itu diotopsi oleh polisi. Karena Undang-Undang Malaysia begitu. Semua yang meninggal harus diotopsi. Orang meninggal di sana semua ditangani polisi. Kan bapak sudah terima banyak kasus kematian dari Malaysia. Pasti ada post mortemnya. Itu SOP Malaysia. Mohon dijelaskan pak, mereka kan berada di negara lain. Harus tunduk kepada aturan negara setempat, berbeda dengan di Indonesia. Ini pesan WA dari KJRI Penang Pak,” papar Kopong Minggu (11/3/18) malam, seperti dilansir SERGAP ID.

Walau begitu, Ketua Badan Pembantu Pelayanan Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT, Pdt Emmy Sahertian mengatakan, pihaknya akan mendorong keluarga untuk dilakukan otopsi ulang.

“Kami dari Sinode GMIT siap mendampingi. Sebab ini ada yang aneh dari jenasah almarhum Milka Boimau,” tegas Pdt Emmy.

Data BP3TKI Kupang menyebutkan, sejak Januari hingga Maret 2018, sudah 15 Jenasah TKI asal NTT yang dikirim pulang dari Malaysia. Jumlah ini belum termasuk korban meninggal di Malaysia yang tidak bisa dipulangkan dan akhirnya dikubur di Malaysia.

Adik Kandung korban, Agustinus Boimau sangat menyesal dengan kondisi tubuh jenasah dari kakaknya itu. Ia mengatakan komunikasi terakhir dengan korban Milka Boimau pada empat hari lalu pukul 01 siang. Mereka hanya berbicara terkait keinginan korban untuk pulang kembali ke kampung.

 “Korban kasih tau keinginan untuk pulang,  apakah masih diterima oleh keluarga atau tidak? Karena waktu berangkat tahun 2012 lalu keluarga tidak tahu,” kata Agus.

Selanjutnya, dalam pembicaraan tersebut menurut Agus, korban meminta tolong seseorang untuk membesarkan volume suara pada telepon genggam.

Dan terdengar suara orang menggunakan bahasa melayu yang kedengarannya tidak menyukai pembicaraan antara korban dan dirinya, pada saat itu juga sambungan telepon langsung dimatikan entah oleh korban atau teman yang bersamanya waktu itu.

“Sepuluh menit kemudian korban kembali menelpon menggunakan nomor yang sama untuk berbicara lanjut terkait kepulangannya serta surat-suratnya yang sudah mati.

Tapi yang saya tahu, korban pernah memberitahu bahwa agennya menawarkan untuk mengurus surat-surat tersebut,” jelasnya.

Ketika sementara berbicara, menurut Agus tiba-tiba korban terdiam lalu hanphonenya dimatikan lagi. Selang beberapa menit kemudian ada panggilan masuk lagi namun yang berbicara bukan korban tapi seseorang yang mengaku polisi Malaysia bernama Usman.

“Pak Usman ini mengaku ke saya dia seorang polisi yang dimana tempat tugasnya dekat sekali dengan wilayah tempat korban kerja. Dia lalu menanyakan nama saya, dan juga status saya atau hubungan saya dengan korban, lalu saya mengatakan bahwa korban Milka Boimau adalah kakak kandung saya,” ungkapnya.

Lanjut Agus,  lewat polisi atas nama Usman inilah pertama kali keluarga mendapat informasi bahwa Milka Boimau sudah meninggal. Antara percaya dan tidak, Agus lalu menanyakan bagaimana mungkin kakaknya meninggal, karena baru beberapa menit yang lalu Ia berkomunikasi dengan korban.

“Pak Usman tidak menjawab pertanyaan saya, tapi dia mengatakan akan membawa korban ke hospital (Rumah Sakit). Saya pikir hospital itu kantor, setelah diterjemahkan ke bahasa Indonesia baru saya tau kakak saya mau dibawa ke Rumah Sakit,” ujarnya sedih.

Agus juga mendapatkan informasi, setelah dari rumah sakit diketahui bahwa korban meninggal akibat paru-paru, dan meminta Agus segera mengirimkan alamat untuk jenazahnya segera dipulangkan. Namun Agus menolak lalu meminta untuk mereka melaporkan dulu ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia.

Menurutnya, seharusnya mereka melaporkan dulu ke KBRI, karena korban pergi itu resmi jadi pulang pun harus resmi, jangan karena sudah meninggal lalu mau dipulangkan begitu saja. Tak lupa juga kakak korban menanyakan nama majikan ,yang menurut informasi namanya Can.

“Saya minta majikan korban atas nama Can ini untuk melaporkan ke kedutaan RI. Kira-kira 15 menit kemudian kami telfon lagi dan anak saya yang perempuan yang bicara, namun yang komunikasi waktu itu nama pak Aris katanya orang dari kedutaan RI. dengan menggunakan bahasa Indonesia, pak Aris mengatakan ada laporan dari majikan korban bahwa TKW atas nama Milka Boimau sudah meninggal dan dari kedutaan segera turun ke TKP untuk melakukan identifikasi lanjutan,” ungkap Agus.

Setelah komunikasi dengan orang atas nama Aris tersebut, pihak keluarga tidak mendapatkan informasi lagi. Sampai keesokan hari, keluarga mencari informasi sendiri tanpa bantuan dari pihak majikan atau kedutaan.

Lanjut Agus, informasi pun berkembang dan pihak keluarga melaporkan ke BP3TKI sampai akhirnya jenazah korban dipulangkan ke kampung halamannya, Minggu (11/3/2018) di Amarasi.

“BP3TKI berkoordinasi dengan kedutaan, lalu dua hari kemarin pak Timotius dari PJTKI menginformasikan ke keluarga bahwa hari  Minggu, (11/3) pukul 12 siang jenazah akan tiba di Bandara El Tari Kupang, “jelas Agus.

Namun, seperti jatuh tertimpa tangga, setelah peti jenazah dibuka keluarga korban melihat kondisi korban yang memprihatinkan. Dimana dari perut sampai leher korban terdapat jahitan besar seperti baru selesai di operasi alias jenazah korban terlihat tidak wajar.

“Yang kami keluarga korban takutkan adalah keutuhan dari jenazah, diluar tidak utuh jangan sampai di bagian dalam juga tidak utuh. Kami minta majikan dan kedutaan RI di Malaysia untuk menjelaskan kenapa sampai kondisi anak dan saudari kami seperti ini,”tegas Agus. (RN/MN)

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,162,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,182,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,570,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,37,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,278,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,52,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,117,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,62,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,291,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,257,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,416,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1136,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,37,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,68,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Lagi, TKI Meninggal di Malaysia Dengan Kondisi yang Mengenaskan
Lagi, TKI Meninggal di Malaysia Dengan Kondisi yang Mengenaskan
https://3.bp.blogspot.com/-2Xk1H4HRkQQ/WqV08IzlbZI/AAAAAAAACho/lB49uml3OHkccuyWkTeUnwWUNUn2QfZTgCLcBGAs/s320/images.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-2Xk1H4HRkQQ/WqV08IzlbZI/AAAAAAAACho/lB49uml3OHkccuyWkTeUnwWUNUn2QfZTgCLcBGAs/s72-c/images.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/03/lagi-tki-meninggal-di-malaysia-dengan_11.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/03/lagi-tki-meninggal-di-malaysia-dengan_11.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close