Kita Bisa Menjadi Apa dan Siapa Saja Di Republik Ini
Cari Berita

Kita Bisa Menjadi Apa dan Siapa Saja Di Republik Ini

27 March 2018

Feature, marjinnews.com - Saya terlahir sebagai anak desa. Mungkin anda juga seperti itu. Terlahir di sana. Rumah sederhana, pekarangan luas, buah-buahan banyak, sayuran aneka jenis, burung-burung berkeliaran. Persis pasar tradisional tanpa dinding, tanpa harga.

Tengoklah perjalanan kita sejenak, ini sekedar melihat kembali tumit kehidupan. Bangun tidur, kita duduk di sekitar tungku api. Di sana, ada bapa, mama dan sanak saudara. Pagi-pagi, kita cuci muka di kali atau air pancuran, tanpa sabun, tanpa biore, lalu ke sekolah.

Saat pelajaran usai, dengan riang kita cari kayu api, bajak sawah, makan di gubuk tengah sawah, gembalakan ternak. Bahkan bermain lumpur. Semuanya dilakukan dengan penuh ceria dan gembira. Indah nian kala terngiang.


Tetapi saya mau katakan kalau semua itu bukan kenangan. Itu juga bukan masa lalu. Itu kita, dulu-kini dan nanti. Semuanya akan selalu melekat dalam perjalanan hidup ini. Dari lahir sampai mati. Itulah catatan kehidupan - aku dan kamu. Kita tidak pernah terpisahkan oleh waktu, tempat tinggal maupun jabatan. Kita hanya perlu bersyukur.

Ketika menyaksikan semua perjalanan itu, baik tanaman yang tumbuh, alam yang indah dan saudara sekampung dari kecil hingga dewasa, tanpa sadar sesungguhnya kita sementara menyaksikan dunia yang sedang berkembang.

Dunia ini memang akan selalu berubah. Ketika dunia berubah, kita pun dituntut utk bergerak. Lihatlah air hujan yang turun dari langit. Air tidak pernah diam disatu tempat, tetapi mengalir menyirami bumi. Pada titik tertentu air berubah menjadi uap. Panas bumi atau sinar mentari mempengaruhinya.

Sadar akan situasi itu, Henry Ford mengajarkan kita tentang satu hal. Apa itu? Belajar dan terus belajar. Seseorang yang berhenti belajar adalah orang lanjut usia, meskipun umurnya masih remaja. Tetapi seseorang yang tidak pernah berhenti belajar akan selamanya menjadi pemuda.

Saya hanya ingin menjadi pemuda. Di situ saya merasakan gairah, gelora jiwa, semangat yang terus bersinar dan hasrat yang luar biasa. "rani nai, harat nanang" (kemauan kuat). Saya selalu percaya, dimana ada kemauan di situ ada jalan.

Kenapa saya percaya dengan itu? Sederhana. Jika kita bepergian dengan tujuan mencari kebaikan, maka Tuhan akan menjadikan perjalanannya seperti perjalanan menuju surga. Hehehehe...

Dulu, saya tidak pernah membayangkan masa dewasa saya sebagai orang Jakarta. Saya juga tidak pernah membayangkan akan berkantor di Senayan. Saya juga tidak pernah membayangkan bisa kuliah sampai doktor. Tidak. Semuanya tidak.

Yang pernah saya lakukan hanyalah mengikuti petuah orangtua. "Neka mejeng hese, neka ngonde holes" (jangan malas). Selain itu, saya memahat ingatan di pojok hati. Ingatan itu bersumber dari ujaran guru masa kecil. Yaaa…...guru kita semua. Dia pernah berujar, gantungkan cita-citamu setinggi langit.

Apakah kamu masih ingat? Saya percaya, ingatanmu juga kuat. Karena kita hanya berusaha untuk menolak lupa-merawat ingatan. Bahwa ingatan yang baik untuk masa depan akan mendapatkan restu dari yang di atas. Saya berharap, kata yang sama juga terpahat di hatimu.

Karena itu, kemana kita pergi, dimana pun kita berada, ingatlah selalu, bahwa kita hanya terlahir sebagai anak desa. Kita bisa menjadi apa dan siapa saja. Kita hanya perlu menguatkan ingatan untuk melakukan apapun dengan riang gembira sebagaimana kita menikmati masa2 kecil di desa. Tanpa beban, tanpa rasa letih.

Demikianlah Benny K. Harman yang terlahir di Denge, bagian selatan Kabupaten Manggarai biasa bercerita dengan anak-anak muda di sekitarnya. BKH tidak pelit menularkan resep-resep kehidupannya. Kini  BKH adalah calon Gubernur NTT bersama Benny A. Litelnoni sebagai calon wakil.

Di lubuk hatinya yang terdalam, BKH merindukan anak-anak muda NTT yang mau belajar dan jika mungkin mengikuti jejak para pendahulu yang berhasil. Ketika BKH menghadapi setiap tantangan dengan penuh riang dan suka cita, kita juga bisa. Ayo, mari bermimpi. Kita pun bisa menjadi siapa saja di republik ini.

Oleh: Eltari Purnama

Catatan: Segala bentuk aspirasi dalam artikel ini adalah tanggung jawab penulis