$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

Ketika Kampus Menjadi Ajang Perebutan Kekuasaan

Kekuasaan itu berkembang di semua faktor, termasuk pada partai politik, kekuasan sebuah Negara, juga tidak terlepas di kehidupan Kampus, dan singkatnya kekuasaan itu sudah melekat pada organisasi-organisasi tertentu. (Foto: Dok.Pribadi)
Sebuah Proyek Wacana Tandingan (The Counter Discourse). Melihat berbagai kondisi dan keresahan intelektual, penulis tertarik untuk membahas "Knowledge is Power"-nya Francis Bacon tentang relasi, kekuasaan dan kampus.

Seorang pemikir berkembangasaan Prancis Michael Foucault, dalam tulisannya yang berjudul Power atau Knowledge mengatakan "dimana ada relasi, disitu ada kekuasaan. Kekuasaan merupakan suatu dimensi dari relasi. Sehingga penerapan dalam kehidupan nyata, pemikiran seorang Foucault dikenal sebagai relasi kekuasaan (power relation).

Sedangkan, kekuasaan itu sendiri merupakan kemampuan seseorang mempengaruhi orang lain untuk menjalankan apa yang diinginkannya. (kekuasaan bisa digunakan untuk mendapatkan hal-hal negative namun juga tidak terlepas dari hal positif).

Berangkat dari pengertian tersebut, Foucault mengulaskan makna kekuasaan dalam praktik kehidupan kita dengan menyampaikan gagasannya yakni “power is omnipresent”.

Kekuasaan itu berkembang di semua faktor, termasuk pada partai politik, kekuasan sebuah Negara, juga tidak terlepas di kehidupan Kampus, dan singkatnya kekuasaan itu sudah melekat pada organisasi-organisasi tertentu.

Akan tetapi, dalam tulisan ini penulis lebih mengkerucutkan tentang relasi kekuasaan (power relation) di dunia pendidikan, terlebih khusus di kehidupan kampus.

Membahas tentang relasi dan kekuasaan di kampus, penulis mengajak kita untuk melihat lebih dalam apa sebenarnya kampus?

Menurut Arsan Salam dalam tulisannya yang berjudul Universitas dan Banalitas Intelektual mengatakan: jika kita menyebut kata Universitas, disana terdapat sebuah pemikiran tentang tempat, ruang, dan waktu.
Universitas merupakan Sebuah tempat berkumpulnya kaum inteligensia.

Universitas merupakan tempat dosen (kaum pengajar) dan mahasiswa (kaum pelajar) yang terlibat dalam sebuah ikatan yang biasa di sebut proses Belajar dan mengajar.

Tidak hanya itu Universitas juga menjadi wadah membangun dan mencetak sekelompok manusia yang mempunyai kemampuan untuk bersaing di era modern.

Seorang Arsan Salam menyebutkan ada satu point penting yang kemudian menjadi sokoguru dalam proses pelaksanaan pembelajaran atau pendidikan ideal. Sokoguru tersebut adalah pendidikan dialogisme, seperti tersirat pada pernyataan “Tempat dosen dan mahasiswa terlibat dalam sebuah ikatan yang biasa kita sebut proses belajar dan mengajar”.

Pendidikan dialogisme merupakan pendidikan yang didasarkan oleh model komunikasi yang bersifat interaktif (seminar, diskusi dan debat) bukan didasarkan pada model komunikasi satu arah. Pendidikan model ini lebih menekankan upaya menumbuhkan kemampuan kritis dan kreatif Mahasiswa.

Sehingga Mahasiswa mampu mengekspresikan gagasannya dan mengemukakan pendapatnya secara tepat pada sasaran atau topik yang di bahas. Inilah imajinasi atau harapan tentang pendidikan ideal yang sesungguhnya.

Apakah itu sudah dijalankan di kehidupan Kampus?

Secara umum bahwa tidak semua pemikiran itu sesuai dengan kenyataan kehidupan kampus yang sebenarnya.

Hal itu bisa menjadi masalah utama, karena sebagian orang memahami, kenyataan yang sebenarnya tidak sejalan antara harapan dan kenyataan.

Sebagai mahasiswa tentu tugas kita bukan meratapi dan berkeluh kesah atas masalah yang ada, melainkan bagaimana cara kita merubah masalah tersebut dengan mencari solusinya.

Tugas yang kedua mempunyai kaitana dalam teks agama Islam yang diartikan sebagai bentuk manifestasi eksistensi kita sebagai khalifatul fil ardi-pemimpin di muka bumi.

Melihat kenyataan ini, ada beberapa pertanyaan yang bergelayut dalam benak saya, bahkan mungkin anda juga;

1. Apakah pendidikan kita di Indonesia sudah sesuai dengan tuntutan pendidikan yang sebenarnya?
2. Dimanakah letak relasi kekuasaan tersebut dalam proses pendidikan di Kampus?

Berikut ulasan singkatnya:
Dosen dan Mahasiswa Dalam Prespektif Kekuasaan, secara metodologis, pendidikan terbagi kedalam dua model, yaitu; model pedagogis dan model andragogi.

Taksiran sederhana dari kedua model pendidikan tersebut yaitu model pedagogis, kata lainnya model pendidikan monoligisme, sentralistik, hegemonic, relatif dan formalistis.

Sedangkan model andragogi, kata lainya adalah model pendidikan dialogisme, demokratis, desentralistis, proaktif dan alternatif.

Pada bagian ini kita bukan lagi berbicara ideal pendidikan atau kampus menurut prospektif normatif melainkan kita berbicara melaui prospektif historical-faktual dan empirisme.

Sebagai seorang mahasiswa yang cukup lama berada di Kampus tentunya merasakan betul seperti apa model pendidikan yang dijalankan dalam proses pembelajaran selama ini. Hingga sampai pada saat ini, saya berijtihad untuk menyimpulkan bahwa model pendidikan yang diterapkan sejauh ini adalah model pendidikan pedagogis atau mologisme dan sentralistik.

Mungkin kita akan bertanya apa sih pendidikan pedagogi atau monologisme itu? Pendidikan monologisme, menyitir gagasan Yasraf A?

Piliang, merupakan sebuah sistem pendidikan yang di dalamnya dikembangkan model komunikasi satu arah, antara Dosen dan Mahasiswa. Di dalamnya terjadi sebuah proses transfer pengetahuan dari dosen (yang dianggap pakar) kepada mahasiswa (yang dianggap tidak pakar) di dalam satu model yang di dalamnya tidak ada interaksi komunikatif timbal balik (dialogisme).

Yang ada hanya pengalihan pengetahuan, tidak ada proses pengetahuan atau pengembangan pengetahuan (inovasi). Tidak dikembangkan wacana, yang di dalamnya dikembangkan kemampuan argumentasi, sikap kritis, analitis, dan sikap meragukan sebagai landasan dari tumbuhnya intelektualisme.

Sedangkan pendidikan sentralistik adalah pendidikan tinggi yang diatur berdasarkan sebuah model pengendalian manajemen yang bersifat memusat (sentrifugal).

Terjadi sentralisasi hampir disegala bidang dalam aspek pendidikan : landasan ideologi, tujuan, struktur, visi, misi, bentuk kurikulum, metode pengajaran, kode etik mahasiswa dan termasuk juga ‘kontrak’ belajar antara pelajar dan pengajar.

Dari beberapa gagasan diatas, terlihat jelas relasi kuasa yang beroperasi dibalik model pendidikan monologisme dan sentralistik. Jika kita kontekstualisasikan pendidikan monologisme dan sentralistik kedalam prespektif kekuasaan, maka akan terbentuk struktur oposisi-biner antara penguasa dan yang dikuasai. Dalam hal ini, penguasa ditempati oleh dosen dan mahasiswa sebagai obyek yang di kuasai.
****
Pada situasi seperti ini, mahasiswa yang dikuasai oleh Dosen dalam proses pembelajaran selalu dituntut untuk mengikuti alur penguasa.

Apakah kita sebagai mahasiswa rela dikuasai oleh Dosen? Terkait dengan wacana tentang kekuasaan, menarik untuk kita renungkan bersama ternyataan dari Nietzsche dalam magnum opusnya Der Wille zur Macht (The Will to Power), “kehendak berkuasa adalah motif dasar dari setiap makhluk hidup, tak terkecuali manusia, pertarungan memperoleh kekuasaan merupakan pertarungan abadi sepanjang sejarah manusia.

Memberikan diri untuk dikuasai oleh orang lain adalah rela untuk diperbudak.

Proses pendidikan di kampus akan menjelma menjadi penjara pengetahuan atau perangkap pikiran yang membatasi ruang gerak, menghambat kebebasan, dan mematikan daya kreatifitas mahasiswa.

Perangkap pikiran yang dimaksud adalah ketika pendidikan tinggi menjadi tindak lanjut atau bukti nyata dari sebuah sistem kekuasaan pemerintah dan kapitalis.

Lalu, bagaimana solusi agar Mahasiswa bisa keluar dan mampu mendobrak sistem, model pendidikan seperti itu?

Atau pertanyaan yang lebih extreme lagi bagaimana agar mahasiswa merebut dan berkuasa atas Dosen?

Untuk menjawab hal itu, mahasiswa di tuntut untuk mulai membaca dan mau bergabung dalam organisasi mahasiswa. Disana karakter seorang mahasiswa akan di rancang agar dengan mudah menghadapi situasi seperti ini.

Salah satu narasumber yang bernama Prof. Qasim Mathar (Guru Besar Filsafat UIN Alauddin Makassar) menyampaikan  inspirasi kepada seluruh peserta dialog, dalam acara dialog kepemudaan. Profesor Mathar pernah mengatakan “salah satu cara untul melawa dosen dengan membaca buku, karena belum tentu dosen membaca buku yang saudara-saudara baca”.

Dari pernyataan ini sebenarnya mengajak kita untuk dapat menyimpulkan bahwa sumber pengetahuan tidak selalu bersumber dari dosen dan kegiatan belajar dan mengajar di dalam kelas.

Pengetahuan itu juga bersumber dari buku, lingkungan sosial, politik, ekonomi dan budaya. Dan proses untuk memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber tersebut adalah MEMBACA!

Namun terkadang banyak orang belum paham apa itu membaca?
Membaca adalah proses menafsirkan teks untuk mendapatkan sebuah hal baru. Membaca tentu mengantarkan kita pada pengetahuan. Mahasiswa yang mempunyai pengetahuan, atau dalam istilah penulis ‘pengetahuan tandingan’ sebenarnya sudah mempunyai modal dasar untuk melakukan perlawanan terhadap kemapanan sistem yang dibentuk oleh kampus.

Sebagai mahasiswa seharusnya menjadikan proses pembelajaran sebagai arena atau gelanggang peperangan, dan senjatanya adalah pertanyaan dan sanggahan kritis, maka pendidikan monologisme dengan mudah dapat diatasi.
***
Bagaimana dengan pendidikan sentralistik? Apakah mahasiswa dapat mengatasinya hanya dengan membaca? Tentu saja tidak!
Penulis berkeyakinan bahwa untuk keluar dari situasi yang satu ini Mahasiswa tidak hanya bermodalkan membaca. Akan tetapi Mahasiswa membutuhkan massa.

Imam Ali pernah berkata; “kejahatan yang terstruktur akan mengalahkan kebaikan yang tidak terstruktur”. Disinilah letak urgensi Mahasiswa (harus) berorganisasi. Karena di organisasilah Mahasiswa mempunyai basis massa yang banyak untuk melakukan perlawanan. Mahasiswa harus terlibat di organisasi ekstra kampus, seperti HMI, PMII, IMM, dll.
Dan juga organisasi intra kampus, seperti HMJ, SEMA, DEMA dan PRESMA.

Di organisasi ekstra kampuslah pematangan ideologi kita peroleh, lalu organisasi intra kampus dapat kita jadikan ujung tombak strategi struktural dalam melakukan perlawanan terhadap pendidikan sentralistik yang merugikan Mahasiswa.

Bentuk perlawanan tersebut adalah dengan membuat wacana dan gagasan alternatif seperti mewujudkan pendidikan demokratis yang harus melibatkan Mahasiswa dalam merumuskan kode etik mahasiswa, kurikulum atau penyusunan mata kuliah yang akan dijalankan oleh mahasiswa itu sendiri. Yang harus disadari oleh mahasiswa adalah untuk sampai pada titik tersebut, mahasiswa harus memiliki pengetahuan yang kokoh. Sehingga, perlawanan struktural melalui organisasi harus di back up oleh budaya membaca.

Membaca dan berorganisasi merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan ibarat dua sisi pada mata uang logam.

Diakhir tulisan ini, penulis menyimpulkan kembali pokok-pokok pikiran dalam tulisan ini adalah:
pertama, pendidikan atau kampus kita sekarang sedang tidak dalam keadaan stabil. Disana ada pertarungan kekuasaan yang hegemonik.

Kedua, perkuatkan budaya membaca, berdiskusi, berorganisasi lalu aksi. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa sejajar dalam derajat kemanusiaan untuk menuntuk hak dan kewajiban yang sama.

Tidak terlepas dari hal tersebut, dalam tulisan seorang Jawahral Nehru mangatakan “sukses sering datang kepada orang yang berani bertindak, jarang datang kepada penakut yang tidak berani menerima konsekuensi”.

Tidak hanya Nehru, Tan Malaka juga mengatakan “senjata yang paling kuat yang sebenarnya dimiliki seorang pejuang adalah keyakinan dan konsekuensi”.

Penulis merupakan Kader HmI Komisariat Adab dan Humaniora & Pengurus Dewan Mahasiswa (DEMA) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar 2016-2017. Aktif melakukan propaganda dan perlawanan kultural terhadap hegemoni Barat.

Oleh: Sulatin Chuank

COMMENTS

Name

Artikel,141,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,160,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,3,BPJS,1,Budaya,38,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,183,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,579,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,38,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,280,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,50,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,114,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,71,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,294,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,258,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,419,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,20,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1148,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,38,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,88,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,20,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,71,Sumba,8,Surabaya,35,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,48,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,14,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Ketika Kampus Menjadi Ajang Perebutan Kekuasaan
Ketika Kampus Menjadi Ajang Perebutan Kekuasaan
https://3.bp.blogspot.com/-oOTzkb1ZlC8/WrFQe4jIwII/AAAAAAAACtU/5-dWPmDTeBImdTPp5StkHS3lxLHd_WwWACLcBGAs/s320/IMG-20180321-WA0002.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-oOTzkb1ZlC8/WrFQe4jIwII/AAAAAAAACtU/5-dWPmDTeBImdTPp5StkHS3lxLHd_WwWACLcBGAs/s72-c/IMG-20180321-WA0002.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/03/ketika-kampus-menjadi-ajang-perebutan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/03/ketika-kampus-menjadi-ajang-perebutan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close