Kedaulatan Pangan Lokal Ribuan Tahun Warga Papua Tergerus Karena Raskin
Cari Berita

Kedaulatan Pangan Lokal Ribuan Tahun Warga Papua Tergerus Karena Raskin

19 March 2018

Hal ini membuat banyak warga enggan lagi untuk menanam petatas dan keladi, dua makanan pokok masyarakat dataran tinggi Arfak ini (Foto: Istimewa).
Feature, marjinnews.com - Papua menjadi sorotan akhir-akhir ini dikarenakan fokus pembangunan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo di daerah paling Timur itu. Selain itu, kasus gizi buruk yang menimbulkan banyak korban jiwa membuat Papua menyita banyak perhatian publik.

Terakhir, KOMPAS cetak edisi Selasa (13/3/2018) merilis secara khusus soal revolusi pola konsumsi masyarakat Papua dari kedaulatan pangan lokal yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu menjadi pengonsumsi beras dan makanan instan lainnya yang sulit didapat oleh masyarakat dengan akses sulit dari kota penyedia bahan makanan tersebut.

Menurut ulasan tersebut, KOMPAS menyimpulkan bahwa program beras subsidi atau raskin menjadi momok besar bagi masyarakat Papua.

"Anak-anak tidak mau makan keladi (talas) dan petatas (ubi talas) lagi. Maunya beras terus. Orang tua akhirnya ikut juga" ungkap Sadrak Waran (33), warga Kampung Awibi, Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak seperti dilansir kompas pada Rabu (7/3/2018).

Realitas ini menjadi beban yang cukup berat bagi mereka. Pasalnya, untuk membeli raskin seharga Rp 12.000 (untuk beras kualitas bagus Rp 25.000) per kilo gram di kota yang memerlukan waktu dua hari dengan berjalan kaki dan membutuhkan waktu sekitar 3 jam memakai mobil dengan ongkos Rp 120.000 per orang.

Hal ini membuat banyak warga enggan lagi untuk menanam petatas dan keladi, dua makanan pokok masyarakat dataran tinggi Arfak ini.

Menurut kajian SG Harbele dan tim dari Australian National University tahun 1991 menemukan jejak penghunian masyarakat di dataran tinggi Lembah Baliem, Papua sejak sekitar 27.000 tahun lalu dan mulai membudidayakan keladi 7.000 tahun lalu.

Sementara itu, Tim Denhan, arkeolog dari Flinders University di Adelaid, Australia pada tahun 2003 memublikasikan temuannya tentang jejak budidaya keladi di Kuk Swamp, Papua Niugini sejak 10.000 tahun lalu dan kemudian budidaya pisang sejak 6.950 tahun lalu.

Dengan demikian orang Papua yang merupakan imigran pertama di Asia Tenggara sekitar 50.000 tahun lalu ini memiliki tahapan revolusi pertanian sendiri yang terpisah dengan peradaban lain.

Kemampuan budidaya tanaman ini telah dimiliki jauh sebelum kedatangan petani Austronsia ke Nusantara sekitar 4.500 tahun lalu. Selain keladi dan pisang, tanaman tebu pertama kali didomestifikaso oleh nenek moyang orang Papua.

Data dari Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian tahun 2009-2013, konsumsi umbi-umbian di Papua Barat tinggal 9,94 persen. Sementara konsumsi beras mencapai 51,39 persen.

Konsumsi beras ini menempati peringkat keempat terendah di Indonesia setelah Papua, Maluku Utara, dan Maluku. Adapun Papua, konsumsi umbi-umbian sekitar 30,39 persen atau yang tertinggi di Indonesia.

Program pemerintah pemberian akses beras murah kepada masyarakat ini dinamakan operasi pasar khusus pada tahun 1998 dan kemudian diubah menjadi raskin pada tahun 2002. Pada 2017, program ini kemudian diganti Jokowi menjadi beras sejahtera.

Meski sering berganti nama, pemenuhan kebutuhan pangan yang dipercayai pemerintah ini adalah kecukupan beras. Padahal, tidak semua masyarakat di Indonesia secara tradisional mengonsumsi beras, seperti masyarakat Papua.

Tanggapan kalian bagaimana sobat muda? Jika kalian berminat memberikan pendapat, sampaikan di kolom komentar. (AA/MN)