$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

Kebudayaan Kita Sedang Sakit

Masyarakat kita dikonstruksikan menjadi amnesia, kebudayaan yang menjadikan masyarakat tercerabut dan tak pernah bisa kembali pada identitasnya semula, sehingga memengaruhi pola prilaku masyarakat kita. (Foto: Dok.Pribadi)

Bila kita bertanya, bagaimana kondisi sosial budaya kita saat ini? Jawabannya tunggal: tidak normal. Berbagai sebab kemungkinan  tidak normalnya  kondisi sosial budaya kita dapat diduga pertama, kebudayaan kita telah mengalami involusi. Generasi muda akan rapuh kepribadiannya dan mudah diombang ambing oleh proses perubahan yang tidak menentu.

Kedua, masyarakat kita akan  semakin menipis perasaan kolektif dan  mengalami disharmoni luar biasa. Karena kurang menghargai konsensus dalam mengelola kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kekerasan menjadi pilihan masyarakat yang nota bene tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan yang secara sah memiliki monopoli atas perangkat kekerasan (organized violence).

Masyarakat akan tenggelam dan terpaksa ikut arus oleh kebijakan pemerintah yang tidak terkontrol sebab pemerintah tidak punya pengendalian arah dan perubahan di sekitar kita.

Ketiga, lapisan dalam kebudayaan kita “ethico-mythical nucleus” yang merupakan  central point of reference  (Leo Kleden, 1995) telah mengalami pembusukan, seperti moral dan etika. 

Dalam masyarakat akan terjadi penyimpang etika dan moral yang serius, seperti penyalagunaan wewenang, KKN dan pelanggaran HAM akan tetap menghiasi ruang publik dan media.

Tidak normalnya kondisi sosial budaya tadi bisa disebut ”sakit” seperti yang dimaksudkan oleh Erich Fromm ketika ia menulis The Pathology of Normacy atau yang diucapkan oleh Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito yakni jaman iki  edan yen ora edan ora keduman (jaman sekarang zaman edan (gila) kalau tidak ikut gila tidak kebagian).

Oleh karenanya kita mesti mencoba memahami proses perubahan yang kondisional dari kebudayaan Indonesia. Sekarang sedang ada perubahan besar mayarakat modern, dari masyarakat  industri ke masyarakat informasi.

Modernisme yang bergerak sampai ke pedesaan, agaknya telah mengubah bukan hanya mentalitas bangsa, tetapi juga kondisi materialitas bangsa.

Bahkan beberapa orang yang berharap melihat perubahan yang terjadi, mengharapkan Indonesia menjadi ”Indonesia Incoporated”. Modernisasi kita lebih meniscayakan munculnya teknokrasi, energi listrik, transportase lancar, semua merupakan perwujudan dari teknologi ini (Darmanto Yatman, 1996). 

Demikianlah modernisme di Indonesia terjadi tidak dengan sendirinya mengundang emansipasi dan humanisasi, bahkan memakan anak kandungnya sendiri.

Di tengah gegap gempitanya pemerintah kita membangun Indonesia ini telah mengorbankan segala nilai kemanusiaan, maka tampak para generasi muda maupun tua  mengalami krisis kebingungan luar biasa. 

Mereka terjebak dalam keserakahan arus kuat modernisasi, dan bahkan melepaskan segalanya yang dimiliki. 

Akankah mereka memilih sikap agresif?

Tiga Tipologi

Sadar atau tidak pembangunan saat ini maupun ke depan akan memisahkan masyarakat menjadi tiga tipologi yang berbeda tajam. 

Pertama adalah kelompok inti (core society ), mereka  adalah penguasa atau orang-orang yang dekat dengan penguasa atau bisa disebut sisa-sisa penguasa feodal yang memonopoli sebagian besar sumber daya alam milik rakyat.

Kedua, kelompok setengah pinggiran (semi peripheral society), mereka adalah   para idealis, masyarakat rasional, mereka tidak  membutuhkan penghargaan yang tinggi. Yang termasuk dalam komunitas ini adalah golongkan cendekiawan, seniman, penulis. Mereka jauh dari kekuasaan atau harta, yang menurut WS. Rendra mereka adalah  orang-orang yang “berumah di atas angin “, tidak mau terikat oleh suatu sistem yang menghalangi kebebasannya.

Ketiga, kelompok pinggiran (peripheral society), kelompok  tidak stabil, mudah bergeser dari satu sektor ke sektor lain, cepat berpindah pekerjaan, tidak mempunyai idealisme, hidupnya sederhana, kehidupan ekonominya berlangsung dari tangan ke mulut.

Namun mempunyai andil besar terhadap kekuasaan ( contohnya pada waktu pemilu). Masyarakat ini kita sebut saja “masyarakat miskin” dan membutuhkan pembelaan.

Pola interaksi sosial ketiga tipologi masyarakat  di atas dikendalikan oleh kekuasaan dan kekuatan modal. Dengan demikian kesenjangan budaya semakin lebar, ternyata menimbulkan gesekan-gesekan justeru karena masih kuatnya pengaruh beasmtaat pada lapisan core society.

Kecenderungan hidup eksploitatif pada core society melahirkan tirani kekuasaan, dan menempatkan kekayaan atau kesewenangan sebagai tujuan prilaku dan faktor penentu untuk mengukur kedudukan sosialnya dalam masyarakat.

Bagaimana pula hubungan negara dengan warga negara saat ini? Hubungan warga negara dengan negara mengandaikan hubungan oposisi biner, negara diposisikan sebagai institusi yang kuat, sementara warga negara pada posisi lemah. 

Negara yang  memiliki kekuasaan menindas dan warga negara ditempatkan di bawah kekuasaan negara. Sangat mungkin terjadi negara mendikte warga negara sampai pada ruang privat.

Kontrol negara begitu kuat atas warga negara secara politis akan melahirkan wacana juridicapolitis, ruang yang secara politis dikontrol ketat oleh suatu jenis kekuasaan tertentu (Gayatri Spivak, 2008).

Menurut Spivak, dampak yang paling parah hubungan negara dengan warga negara dalam oposisi biner sebenarnya bukan terletak pada kerusakan sistem ekonomi semata, namun lebih pada kerusakan psikologis. 

Dalam oposisi biner terdapat struktur kekuasaan di mana warga negara diposisikan sebagai warga tidak berdaya. Demikian pula dalam struktur kebudayaan masyarakat muncul oposisi minoritas mayoritas, pusat dan daerah yang begitu kuat karena dikonstruksi dalam binaritas kuat lemah.

Masyarakat kita dikonstruksikan menjadi amnesia, kebudayaan yang menjadikan masyarakat tercerabut dan tak pernah bisa kembali pada identitasnya semula, sehingga memengaruhi pola prilaku masyarakat kita. 

Masyarakat yang dibentukpun seolah-olah mengalami krisis identitas atau krisis percaya diri, tidak memiliki pegangan kebudayaan dan  mudah digagalkan dan diombang ambingkan oleh relasi ketergantungan ( Simon Philpott, 2000).

Kondisi sosial budaya kita saat ini tidak banyak berubah, bahkan beberapa aspek penting dari kebudayaan kita mengalami degradasi, terutama menyangkut nilai, tujuan latar belakang dan sifat dasar penampilannya. 

Misalnya dalam kehidupan demokrasi. Demokrasi menjadi kehilangan spiritnya yang justeru mendewasakan orang Indonesia dalam berpolitik, demokrasi mulai menampakkan dirinya sekadar slogan.

Agar kondisi sosial budaya menjadi lebih baik dari sekarang ini kita  harus membangun kebudayaan baru yang relevan dengan alam pikiran kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan dengan mengutamakan pendidikan karakter, mengutamakan etika dan  moral, mengutamakan demokrasi, mengutamakan HAM, mengutamakan iptek yang humanis  dan ramah lingkungan

Mengutamkan pendidikan berbasis kebudayaan, mengutamakan bisnis yang beretika, mengutamakan politik yang bermartabat, mengutamakan nasionalisme dan cinta tanah air, mengutamakan komunikasi yang beretika.

Semuanya itu akan menjadi baik jika penyelenggara negara maupun masyarakat kita berhati baik dan menaati segala aturan yang berlaku.

Oleh: Ben Senang Galus, pemerhati masalah sosial, tinggal di Yogyakarta

COMMENTS

Name

Artikel,141,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,160,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,3,BPJS,1,Budaya,38,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,183,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,579,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,38,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,280,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,50,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,114,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,71,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,294,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,258,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,419,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,20,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1148,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,38,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,88,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,20,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,71,Sumba,8,Surabaya,35,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,48,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,14,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Kebudayaan Kita Sedang Sakit
Kebudayaan Kita Sedang Sakit
https://4.bp.blogspot.com/-DGyR0CFTFQs/Wr9ktRCKXFI/AAAAAAAAAQc/GXXS3naBTxAqb7a0U094rnkCXPRDgvXHQCLcBGAs/s320/IMG-20180331-WA0012.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-DGyR0CFTFQs/Wr9ktRCKXFI/AAAAAAAAAQc/GXXS3naBTxAqb7a0U094rnkCXPRDgvXHQCLcBGAs/s72-c/IMG-20180331-WA0012.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/03/kebudayaan-kita-sedang-sakit.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/03/kebudayaan-kita-sedang-sakit.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close