Ke Daerah, Aku Ingin Kembali
Cari Berita

Ke Daerah, Aku Ingin Kembali

MARJIN NEWS
23 March 2018

Daerah tempat mereka dilahirkan. Itu kampung halaman. Tanah rantau hanya membesarkan mereka. Itu Jakarta. Jakarta sampai kapanpun tidak sama dengan _tana mbate dise ame, tana ledong dise empo_. Itu tanah magis. Tanah yang selalu memanggil pulang. Siapa pun. (Foto: Istimewa)

Feature, Marjinnews.com - Ada banyak pejabat Jakarta yang kembali ke daerah. Jabatan dilepas. Kehormatan digadaikan. Bagi mereka, kemewahan bukan nomor satu.  Kesenangan juga hanya sementara. Lalu, apa yang dicari?


Mereka tidak mencari apa-apa. Hanya ingin mengabdi. Berbuat lebih banyak. Berterima kasih dengan tindakan yang nyata dipandang dan rasa di hati. Mereka _cikar kanan_. Jakarta dianggap sebagai tempat untuk belajar. Tapi medan pengabdian terbaik ada di daerah.

Daerah tempat mereka dilahirkan. Itu kampung halaman. Tanah rantau hanya membesarkan mereka. Itu Jakarta. Jakarta sampai kapanpun tidak sama dengan _tana mbate dise ame, tana ledong dise empo_. Itu tanah magis. Tanah yang selalu memanggil pulang. Siapa pun.

Memang kepulangan mereka ke daerah ditanggapi aneka pernyataan. Hanya saya tidak cukup menikmati berbagai pro kontra itu di linimasa. Pikiran saya hanya tertuju kepada orang-orang yang pernah berada di Jakarta, khususnya di Senayan. Sekarang mereka ingin pulang. Saya apresiasi.

Tidak semua orang bisa melakukan itu. Yang kebanyakan dilakukan adalah pulang kampung sekali setahun, sekali lima tahun atau lebih. Kita punya rindu, tapi rindu saja tidak cukup. Harus lebih dari itu. Keinginan dan niat yang kuat untuk kembali ke daerah, juga hal penting. Mungkin ini yang disebut panggilan nurani, panggilan hati.

Sebelumnya, beberapa orang mengikuti panggilan hati seperti ini. Kembali ke daerah. Sebut saja, Bupati Banyuwangi-Azwar Anas, Gubernur Jawa Tengah-Ganjar Pranowo, atau Fadel Muhammad ketika menjadi Gubernur Gorontalo. Ini contoh.

Azwar Anas bukanlah siapa2 di Senayan sebelum kembali ke Banyuwangi. Tapi Banyuwangi disulapnya menjadi daerah pujaan. Teknologi dipergunakan, inovasi dihidupkan dan birokrasi dibuat berdaya, dll.

Sedangkan Fadel Muhammad dan Ganjar Pranowo adalah dua tokoh yang sebelumnya sudah mendapatkan kursi terhormat di Senayan. Kehormatan mereka bukan karena duit yang mendongkrak tetapi karena kapasitas. Mereka dilibatkan dalam banyak hal di senayan oleh fraksinya. Pada saat tertentu mereka menjadi juru bicara partai.

Namun yang tidak banyak terungkap ke publik soal rahasia dibalik kesuksesan mereka membangun daerah adalah keberadaan wakil-wakil mereka.

Wakil-wakil mereka adalah orang-orang daerah. Bukan orang dari daerah lain. Bukan pula orang yang lama di Jakarta. Tapi orang yang mengenal betul daerahnya, mengenal betul jaringan lokal dan sangat paham dengan kondisi daerah secara keseluruhan.

Perpaduan pengetahuan, pengalaman, dan jaringan antara dua orang di tempat yang berbeda (baca: Jakarta dan daerah) menjadi kunci dan jaminan kesuksesan. Demikianlah perpaduan antara BKH dengan Benny A Litelnoni. BKH lama di jakarta, Benny Litelnoni lama di NTT. BKH orang yang banyak mendapat kepercayaan di senayan dan bahkan salah satu tokoh berpengaruh di DPR.

Ini perpaduan yang mengikuti Azwar Anas, Ganjar Pranowo dan Fadel Muhammad. Bukan perpaduan yang sama-sama berasal dari daerah atau sama2 berasal dari Jakarta. Mungkin semua perpaduan itu, baik adanya. Tetapi yang terbaik adalah satu dari daerah, satu dari Jakarta. Kita telah melihat contoh, dan contoh itu perlu kita praktekan di wilayah kita.

#SaatnyaKitaSejahtera

Oleh: Eltari Purnama