Kaum Homoseks Juga Manusia
Cari Berita

Kaum Homoseks Juga Manusia

13 March 2018

Hemat penulis, pandangan yang ekstrem ini terdapat dominasi kuasa dan memiliki potensi untuk  membatasi kebebasan kaum minoritas tertentu. (Foto: Ilustrasi)
​Masalah seputar homoseksualitas menjadi persoalan yang aktual untuk diperbincangkan dewasa ini, sekaligus menjadi persoalan yang rumit untuk mengakhiri persoalan homoseksualiatas yang tidak mendapat tempat bagi kaum homoseks.

Sebagian besar orang menganggap perilaku homoseksualitas sebagai perilaku yang tidak dibenarkan karena tidak sesuai dengan konsep mayoritas. Persoalan homoseksualitas memang menimbulkan berbagai pandangan yang berbeda dari kebanyakkan orang.

Penilaian seksual mengenai homoseksualitas cendrung mengarah kepada sikap penolakan terhadap keberadaan kaum homoseks.
​Penilaian terhadap perilaku homoseksualitas selalu mengarah kepada hal yang ekstrem dari setiap orang.

Hal ini berdampak terhadap penilaian yang buruk terhadap kaum homoseks. Perilaku homoseksualitas dianggap sebagai dosa, jahat, tidak normal, penyakit dan penyimpangan sosial, karena itu harus diberangus.

Penilaian ini oleh orang-orang heteroseksual menjadi hal biasa dan lumrah. Sementara dari pihak homoseks, persoalannya agak lain dan menganggap penilaian tersebut semata-mata karena berangkat dari kondisi sepihak dari kaum heteroseksual.

Hemat penulis, pandangan yang ekstrem ini terdapat dominasi kuasa dan memiliki potensi untuk  membatasi kebebasan kaum minoritas tertentu. Lantas penilaian buruk terhadap kaum homoseks disebabkan karena tidak sesuai dengan pandanngan umum tentang orientasi seksual yang bertolak dari kaum mayoritas dan mengabaikan konsep minoritas.  

Kecenderungan homoseksual bukanlah pilihan dan berada di luar kehendak seseorang, karena itu setiap orang mempunyai kehendak yang bebas untuk menentukan pilihan hidupnya. Kenyataan yang dialami oleh kaum homoseks memang pahit dan mereka juga tidak menghendaki keadaan seperti demikian berbeda dari kebanyakan orang lainnya. Dan tentunya kita yang notabene sebagai heteroseksual tidak menginginkan hal yang serupa yang alami oleh kaum homoseks.

Mereka adalah korban ketidakadilan, mereka juga manusia yang membutuhkan kenyamanan dan butuh dihargai sebagai layaknya seorang manusia sejati yang bebas menentukan pilihan hidupnya.
​Namun kebebasan menentukan pasangan  hidup seseorang rupanya kurang mendapat tempat bagi kaum homoseks.

Hal ini disebabkan karena perspektif yang hemat penulis adalah suatu pemikiran yang keliru. Kerena keinginan itu bukan keinginan yang dibuat-buat tetapi itu lebih kepada dorongan seksual yang asalinya tanpa alasan.

Sehingga tidaklah benar apabila kita menganut klaim kebenaran bertolak dari kebenaran umum yang dihasilkan oleh kaum penguasa yaitu kaum mayoritas. Memaksa kaum homoseks untuk mengikuti keinginan kaum heteroseksual untuk mengarah orientasi seksualnya sangat tidak mungkin.

Sama halnya apabila menghendaki kaum heteroseksual untuk mengikuti kaum homoseks mengarahkan orientasi seksualnya kepada sama jenis.

​Orientasi seksual tidak bisa mengikuti kehendak orang lain dan ia akan menemukan kepuasan apabila ia melakukan orientasi seksualnya berdasarkan dorongan yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Orang lain tidak bisa membatasi kebebasan setiap individu lain sejauh ia tidak melanggar hak kebebasan orang lain. Semestinya kita harus menghargai sesama ciptaan Tuhan karena manusia esensinya adalah memiliki harkat dan martabat yang sama.

Namun rupanya hal ini hanyalah omong kosong belaka, sebab banyak diantara kita yang menunjukkan sikap penolakan terhadap kaum homoseks. Penolakan terhadap kaum homoseks nampak dalam relasi atau sikap orang terhadap kaum homoseks.

​Sikap penolakan terhadap kaum homoseks cendrung mendiskreditkan keberadaan mereka.  Hal ini berdampak pada kehidupan kaum homoseks, sehingga mereka cendrung mengurung diri  dan berusaha untuk menyembunyikan gairah seksualnya. Hal ini hemat penulis dapat berakibat buruk. Hal buruk tersebut membuat para homoseks cendrung melakukan perilaku homoseksualitas dengan cara paksa atau secara diam-diam, sehingga banyak diantara mereka yang telah menjadi korban sekaligus pelaku dalam tindakan asusila.

Selain itu, ada pandangan yang mengatakan bahwa kaum homoseks adalah kaum yang tidak normal karena itu harus disingkirkan dari hadapan mereka.  Pandangan seperti ini mesti disingkirkan dalam pikiran setiap orang, kalau tidak akan menimbulkan berbagai praktik penolakan dari kaum homoseksual.

Karena toh, pada dasarnya manusia memiliki harkat dan martabat yang sama dan bebas menentukan pasangan hidupnya.  Lantas apa alasan dasar orang menilai bahwa sikap kaum homoseks dalam menentukan orientasi seksualnya terhadap  jenis seks yang sama itu adalah hal yang buruk, jahat dan berdosa?

​Hemat penulis, sejauh individu itu tidak melanggar hak orang lain atau memaksakan kehendak orang lain dalam hal menentukan orientasi seksualnya, maka tindakannya itu dinilai tidak buruk dan hal itu wajar-wajar saja.

Sebaliknya, sejauh ia memaksakan kehendak orang lain untuk melakukan tindakan seksual maka tindakannya dinilai buruk, jahat dan berdosa. Atau apabila ia melakukannya dengan semena-mena terhadap individu lain, maka ia akan dinilai buruk dan hukum harus bertindak.

Berlandaskan konsep di atas, sikap penolakan terhadap kaum homoseks adalah sikap yang keliru. Sebagaimana yang ditandaskan oleh Pater Oto Gusti dalam kuliahnya tentang Hak Asasi Manusia (HAM) di STFK Ledalero pada 08 Maret 2018 bahwa, “membatasi dan melarang kaum LGBT untuk menentukan orientasi seksualnya merupakan kriminalisasi terhadap hak-hak kaum minoritas".

Dan ini merupakan pelanggaran berat yang dilakukan apabila kita melarang kaum homoseks dalam menentukan pilihan hidupnya.” Termasuk dalam hal ini, pemerintah tidak berhak melarang mereka karena toh, manusia itu memiliki harkat dan martabat yang sama sebagaimana manusia pada umumnya.

Tidak semua hal membutuhkan intervensi  negara untuk mengatur masyarakat, dalam arti ada ranah privat yang tidak boleh disentuh oleh negara. Demikian halnya dengan kaum homoseks yang memiliki orientasi seksual yang berbeda dengan yang lazimnya, namun setiap orang harus menerima hal itu dan perlu menghargai mereka sebagai ciptaan Tuhan yang utuh dan sempurna.

​Setiap manusia hendaknya menerima kaum homoseks sebagai lazimnya seorang manusia. Sebab, kecenderungan homoseksual bukanlah pilihan dan berada di luar kehendak seseorang.

Sebagaimana manusia lainnya, kaum homoseks membutuhkan ruang yang maha bebas untuk mengekspresikan dirinya. Sebab tidak ada manusia di dunia ini yang ingin  hidup dibawah tekanan atau kungkungan ketidaknyamanan dari luar dirinya.

Sebagai sesama ciptaan sudah  selayaknya setiap orang menghargai mereka sebagai ciptaan yang bermartabat luhur dan yang paling mulia.

Oleh: Nanto Fabian 
Mahasiswa STFK Ledalero