JRUK Sumba dan Kelompok Bakti Sosial dr. Hans Manjoer Melakukan Pengobatan Gratis Di Sumba Barat Daya
Cari Berita

JRUK Sumba dan Kelompok Bakti Sosial dr. Hans Manjoer Melakukan Pengobatan Gratis Di Sumba Barat Daya

11 March 2018

Sebagai komunitas sosial, Jruk Sumba sering menerima donasi dalam bentuk buku-buku atau barang lain yang dapat meningkatkan kesehatan masyarakat seperti perlengkapan utuk meningkatkan PHBS (Foto: JRUK Sumba)
Sumba, marjinnews.com - Jruk Sumba adalah sebuah komunitas relawan yang beranggotakan anak-anak muda yang punya perhatian terhadap Sumba, baik yang kini berdomisili di Sumba maupun di luar Sumba.

Sejak dibentuk pada tahun 2014, Jruk Sumba telah berkomitmen untuk mengambil bagian dalam upaya perlawanan terhadap perdangan manusia dalam bentuk usaha-usaha preventif seperti edukasi masyarakat terkait tata cara menjadi pekerja imigran yang legal.

Sebagai komunitas sosial, Jruk Sumba sering menerima donasi dalam bentuk buku-buku atau barang lain yang dapat meningkatkan kesehatan masyarakat seperti perlengkapan utuk meningkatkan PHBS.

Dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat, Jruk Sumba berkesempatan untuk melakukan pengobatan gratis bersama kelompok bakti sosial dr. Hans Mansjoer. Kelompok baksos ini merupakan kelompok yang sering melakukan kunjungan ke berbagai tempat di indonesia sejak tahun 1990an dan pada setiap tempat yang dikunjungi, komunitas ini selalu melakukan bakti sosial dalam bentuk pengobatan gratis.
JRUK Sumba dan Tim (Foto: JRUK Sumba)
Untuk saat ini, rombongan yang berjumah 24 orang ini melakukan pengobatan gratis di sumba, tepatnya di Waimarama, desa Lete Loko kecamatan Kodi bangedo pada hari Jumat, 9 Maret 2018. Rombongan ini di sambut dengan tarian dan sapaan khas Sumba kepada tamu yang datang membawa kebaikan.

Warga sangat antusias dengan kegiatan baksos tersebut. Hal ini terlihat dari banyaknya warga yang mulai berdatangan sejak pagi hari, bahkan ketika rombongan baksos tiba, sudah banyak warga yang menunggu di bawah tenda yang disediakan dan sementara pengobatan berlangsung pun warga masih terus berdatangan bahkan hingga sore hari.

Warga yang datang bukan hanya dari Kecamatan Kodi Bangedo, tempat kegiatan berlangsung tetapi juga dari Kecamatan Kodi dan Kecamatan Kodi Balaghar. Untuk memperlancar komunikasi, telah disiapkan sejumlah anak muda lokal yang menjadi translator lantaran banyak warag yang belum bisa berbahasa indonesia.

Sejumlah pos pengobatan telah disiapkan sebelum kedatagan tim baksos. Kegiatan ini melibatkan beberapa dokter spesialis, seperti spesialis penyakit dalam, spesialis bedah, spesialis kulit dan kelamin serta spesialis anak. Beberapa pemeriksaan lain juga dilakukan selain pemeriksaan spesialis di atas seperti pemeriksa kehamilan, pemeriksaan gula darah, pemeriksaan gigi dan juga pembagian kaca mata baca.

Melihat antusias peserta yang begitu besar dr. Petrus S. Atmajaya Sp.B, selaku pimpinan rombongan menilai bahwa hal tersebut merupakan hal yang wajar di mana masyarakat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memeriksa kesehatan mereka.
Aksi pengobatan gratis untuk masyarakat (Foto: JRUK Sumba)
“Hal tersebut wajar dan itu menunjukkan kepedulian masyarakat pada kesehatannya. Apalagi jumlah pasien yang sangat jauh dari target awal kita yang berjumlah 500 orang.” demikian kata beliau ketika ditanya terkait baksos tersebut.

Senada dengan yang disampaikan dr Petrus, Prof. Dr. Dr. Riyanto Setiabudy , SpFk pun melihat antusiasme masyarakat sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap kesehatan mereka sendiri.

“Meskipun ada banyak kekurangan, misalnya obat yang kami bawa tidak bisa memenuhi semua kebutuhan pasien yang datang, namun dari kegiatan ini kita melihat bagaimana masyarakat peduli dengan kesehatan mereka. Kedepannya diharapkan penyakit-penyakit yang berkepanjangan seperti darah tinggi, kencing manis, sakit jantung dan lainnya harus ditangani secara teratur di Puskesmas.” Lebih lanjut prof. Riyanto mengatakan bahwa peran puskesmas dalam dunia kesehatan sangat penting.

Dalam beberapa kasus, follow up dari pihak Pukesmas terhadap pasien sangat dibutuhkan. Beliau memberi contoh bahwa dalam kegiatan baksos tersebut didapati adanya pasien TB paru yang putus pengobatan setelah dua bulan berobat, hal ini tentu saja akan merugukan pasien tersebut karena akan ada kemungkinan pasien itu kebal terhadap obat TB paru yang diberikan.
Romo Yanto, selaku tokoh agama melihat kegiatan ini sebagai bentuk pembelajaran bagi semua masyarakat tentang kerelaan untuk memberi bagi sesama manusia (Foto: JRUK Sumba)
Adapun Bapak Kristianus Kanda Kendu merupakan salah satu tokoh masyarakat yang hadir. Beliau mengapresiasi dan memberikan ucapan terima kasih mewakili masyarakat yang hadir sebab baksos yang dilakukan sangat bermanfaat. Pengobatan yang tidak memungut biaya ini sangat membantu masyarakat yang memang berada dalam tingkat ekonomi yang rendah. Beliau juga berharap kedepannya kegiatan serupa bisa diadakan lagi.

Romo Yanto, selaku tokoh agama melihat kegiatan ini sebagai bentuk pembelajaran bagi semua masyarakat tentang kerelaan untuk memberi bagi sesama manusia.

“Ada sekitar 600an anak yang hadir, dan mendapatkan edukasi terkait kesehatan dalam acara yang menarik, sementara itu remaja dan orang dewasa bahkan ada dalam jumlah yang lebih banyak lagi dari pada jumlah anak-anak tersebut. Hingga siang tadi orang dewasa yang sudah terdaftar sudah lebih dari 600 orang, apalagi ditambah dengan yang mendaftar di sore hari. Jumlah yang banyak ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor pengobatan yang tidak pungut biaya serta kehadiran dokter-dokter.”  ujarnya.

Lebih lanjut beliau katakan “Pengobatan gratis sekarang masih dibuat oleh dokter-dokter spesialis dari luar, kapan kita di Sumba sini ada anak-anak mudanya yang bisa membuat pengobatan seperti ini?” beliau juga mengungkapkan kerinduan besar agar makin banyak anak muda Sumba yang bisa menjadi dokter spesialis agar makin banyak orang sakit yang  bisa dilayani di Sumba oleh dokter-dokter spesialis dan pelayanan itu tidak hanya berlangsung dalam satu hari saja.

Ketika ditanya terkait harapan kepada jruk sumba, dr. Petrus, Prof. Riyanto, Bapak Kristianus dan Romo Yanto memiliki jawaban yang serupa yakni tetap semangat dalam setiap kegiatan, tetap bekerja dengan totalitas dan tetap peduli dengan isu sosial karena ini semua bukan tentang uang tapi tentang kemanusiaan itu sendiri.

Sementara itu, Benyamin Manuluena, salah satu dari relawan Jruk Sumba yang juga ikut mempersiapkan baksos mengatakan bahwa semua yang terjadi saat itu adalah sebuah berkat dan untuk itu secara pribadi dan atas nama komunitas Jruk Sumba ia mengatakan sangat bangga dan terharu karena komunitas Jruk Sumba bisa menjadi perpanjangan tangan untuk berkat tersebut.

Kedepannya ia berharap agar komunikasi dan kerja sama dengan tim ini atau pun tim lainnya yang mau berbagi dan melaukan sesuatu untuk masyarakat tetap ada dan terjaga untuk jangka waktu yang lama.

Oleh: Asto Datut
Komunitas JRUK Sumba, Surabaya