Jangan Jadikan Manggarai Sebagai Ladang Pembantaian Orang
Cari Berita

Jangan Jadikan Manggarai Sebagai Ladang Pembantaian Orang

31 March 2018

Kejadian serupa pada beberapa bulan yang lalu terjadi di Manggarai Timur, warga Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, bernama Hilarius Woso, pada tanggal 23 September 2017 yang lalu (Foto: Istimewa)
Kepolisian RI, Cq (dalam hal ini-red)  Polres Manggarai harus segera memastikan sekaligus menunjukkan tangung jawabnya sebagai Institusi Negara yang wajib melindungi segenap Warga Masyarakat tidak terkecuali warga Masyarakat Manggarai. Hal itu disampaikan Petrus Selestinus Koordinator TPDI

Jangan biarkan Manggarai, Flores, NTT menjadi "The Killing Fields" atau "Ladang Pembantaian" nyawa manusia. Ferdinandus Taruk (24), pria warga Sondeng, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Ruteng, merupakan korban yang kesekian dari warga Ruteng, Flores yang terluka dengan peluru bersarang di kepalanya akibat terjangan peluru yang diduga berasal dari oknum anggota "Kepolisian", pada tanggal 27 Maret 2018. Terang Petrus

Kejadian serupa pada beberapa bulan yang lalu terjadi di Manggarai Timur, warga Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, bernama Hilarius Woso, pada tanggal 23 September 2017 yang lalu, juga ditembak oleh oknum bersenjata diduga dari oknum Polres Manggarai. Tambahnya.

Kemudian peristiwa yang sama terjadi juga pada tanggal 4 Juli 2013, dua orang nelayan yang berasal dari Pulau Pemana di Sikka, Maumere yaitu, Salim Umar Al Asis (15 thn) dan Bahruddin Labaho (45 thn) yang kebetulan berlayar dekat perairan Reo-Riung, juga menjadi korban penembakan oknum Anggota Polres Manggarai, yang mengarahkan laras senjatanya kepada kepala korban yang berprofesi sebagai nelayan tradisonal asal Pulau Pemana, Sikka, Maumere.

Terlepas dari siapapun pelakunya, dan siapa korbannya, namun peristiwa penembakan yang mengakibatkan Ferdinandus Taruk, di Karot, hingga saat ini masih berbaring di Rumah Sakit akibat peluru bersarang di kepalanya dan belum berhasil dikeluarkan oleh Dokter Rumah Sakit setempat, sungguh meresahkan  dan memilukan Keluarga Korban dan masyarakat.Karena kejadian yang menakutkan itu terjadi pada saat umat Kristiani di Ruteng akan merayakan Hari Suci Paskah.

Selain itu juga belum ada hasil yang nyata dari upaya Kepolisian setempat untuk menemukan dan mengungkap identitas pelaku penembakan tersebut, membuat warga merasa Polisi tidak maksimal dalam menciptakan ketenteraman. Ujar advokat PERADI itu

Iyapun meminta polri untuk menjalankan tugasnya secada profesional salah satunya yaitu memberikan rasa aman kepada masyarakat

"Polisi seharusnya memberikan prioritas tinggi berupa jaminan keamanan bagi warga Ruteng yang akhir-akhir ini daerahnya tergolong tidak aman karena beberapa kali terjadi penembakan secara misterius terhadap warga silil, dimana peristiwa penembakan itu dengan mudah terjadi dan dilakukan oleh oknum anggota Polri, sebagaimana disebutkan di atas." Tegasnya

Hal ini akan berpotensi menurukan kepercayaan Masyarakat Manggarai terhadap Institusi Polri, khususnya Polres Manggarai. Kapolres Manggarai harus bertanggung jawab dan harus memberikan pernyataan yang menyejukan, mengayomi dan melindungi masyarakat dari tindakan brutal siapapun, sekalipun itu adalah oknum anggota Polri di Manggarai.

Tambahnya lagi, jika kemudian ternyata pelaku penembakannya adalah anggota Polri, maka Kapolres Manggarai harus meminta maaf kepada Keluarga Korban dan membayar ganti rugi atas segala kerugian yang diderita korban aerta harus ada jaminan bahwa kejadian penembakan secara misterius.

Sebagai bentuk penyalahgunaan senjata api dan penyalahgunaan wewenang, harus diakhiri, karena jika tidak dihentikan, maka dikhawatirkan Manggarai kelak akan menjadi "The Killing Fields" atau ladang pembataian, tanpa ada yang bertanggung jawab. Tutup pria kelahiran NTT tersebut

(MN)