Jangan Ajarkan Rasa Takut untuk Generasi Masa Depan
Cari Berita

Jangan Ajarkan Rasa Takut untuk Generasi Masa Depan

7 March 2018

Yang berbeda dari kita adalah cara melibat atau menghadapi kegagalan. Ada yang melihat kegagalan sebagai taman yang indah untuk menyemai kesuksesan (Gambar: Ilustrasi/timex)
Semua orang pernah gagal. Saya pernah. Anda pun pernah. Kita semua pernah gagal. Mulai dari lingkup rumah tangga, pacaran, usaha bisnis, politik dan lain sebagainya.

Yang berbeda dari kita adalah cara melibat atau menghadapi kegagalan. Ada yang melihat kegagalan sebagai taman yang indah untuk menyemai kesuksesan. Ada pula yang melihatnya sebagai jurang kehidupan untuk berhenti melangkah.

Tetapi saya mau mengatakan kehidupan ini tidak saja berisi kesuksesan tapi juga kegagalan. Hubungan antara pria dan wanita tidak saja berisi ciuman dan pelukan, tapi juga umpatan dan perkelahian. Inilah bumbu kehidupan. Dialami untuk dijalankan, bukan untuk ditakuti, apalagi dihina.

Lihatlah anak kecil. Ketika dia jatuh saat terantuk. Dia tersungkur. Kulitnya mungkin tergores. Air matanya pun meleleh. Dia menangis. Kemudian dia berdiri kembali. Selang beberapa saat, air matanya berhenti. Itu anak kecil. Dia mengajarkan bagaimana bangkit dari rasa sakit.

Kita? Ada banyak pebisnis, penulis, sutradara film, politisi sukses atau profesi lainnya yang berangkat dari kegagalan. Anda bisa melihat siapa saja sebagai contoh. Namun saya mengambil secuil kisah Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16 itu.

Lincoln dilahirkan di sebuah gubuk kecil di Hardin County, Kentucky, 12 Februari 1809. Orangtuanya miskin dan bahkan tidak berpendidikan. Dia anak rakyat jelata sebagaimana kita umumnya di NTT ini. Berkat ketekunanannya dia bisa menjadi seorang ahli hukum pada usia 28 tahun.

Hidup Abraham Lincoln kerap diwarnai kisah-kisah gagal. Namun setiap kali dia gagal, dia tahu bagaimana untuk bangkit. Dia bukan tipe pecundang. Dia pantang untuk menyerah. Inilah warisannya untuk generasi masa depan Amerika.

Bagi orang-orang yang pesimis dengan masa depan, kehidupan masa kecil Lincoln yang biasa saja, mungkin tidak menyangka dia akan menjadi sosok yang terkenal. Namun orang-orang optimis akan melihat itu sebagai kemungkinan bagi siapa saja yang setia dan tekun.

Abraham berhasil menjadi seorang presiden yang terkenal dan dikenang di seluruh dunia sebagai presiden yang berhasil mengakhiri perbudakan di Amerika. Itu di usianya yang ke-51.

Calon gubernur kita, Benny K.Harman yang akrab disapa BKH akan berusia 54 tahun. Mimpinya mungkin juga menjadi mimpi kita semua. Hanya ingin membuat NTT sejahtera dan makmur.

Tidak salah, pada tahun 2008 lalu, dia sempat mengelilingi sebagian besar wilayah NTT sebagai kandidat calon gubernur. Tetapi dia gagal. Partai politik tidak mengamomodasinya.

Dia tidak kecewa. Semangatnya terus tumbuh dan tumbuh. Pada tahun 2013, dia kembali. Inilah kali pertama, BKH muncul sebagai calon gubernur. Tidak lagi sebatas kandidat. Walau demikian, publik NTT belum memberikannya kepercayaan. Dia belum berhasil. Lalu BKH pun diejek sebagai orang yang selalu gagal.

Benarkah? Saya tidak yakin. Apakah hidupmu selalu sukses? Saya juga tidak yakin. Karena itu, coba lirik kisah hidup masing-masing.

Di tepi ring kehidupan ini, saya dan anda hanya perlu membuka lembar demi lembar, membacanya dengan seksama atau menjadikan diri kita sebagai penonton. Penonton akan melihat siapa yang meninggalkan pentas dengan elegan, siapa yang tidak.

Namun BKH menyadari bahwa ejekan adalah milik para pecundang dan penakut. Mereka harus dihadapi dengan kuas-kuas seorang seniman atau lentik-lentik jemari penari sanggar. Seorang seniman atau penari sejati tidak akan pernah berhenti melukis atau menari hanya karena celaan.

Celaan adalah kekuatan. Jangan pernah matikan semangat hanya karena kata-kata bernada sinisme dan pesimis. Namun itu diperlukan. Celaan dan sinisme seorang musuh terkadang lebih jujur dari pujian seorang teman.

Atas dasar itu semua, BKH tidak menoleh dan juga tidak mencerca. Dia hanya terus melangkah, masuk ke dalam cita-cita dan panggilan kemanusiaannya untuk membebaskan NTT dari kemiskinan dan keterbelakangan, sebagaimana Lincoln membebaskan bangsanya dari perbudakan.


Di teras belakang rumahnya, tempat kami biasa menghabiskan kopi dan ubi rebus, BKH selalu mengingatkan bahwa orang yang tidak pernah berbuat salah, tidak akan pernah belajar dari kehidupan.


Karena itu, jangan pernah merasa takut, apalagi takut gagal. Alam semesta ini memiliki kebikasanaannya sendiri. Yang bisa kita lakukan untuk hidup yang sementara ini adalah mewariskan hal-hal yang positif kepada anak cucu.


Anak cucu adalah milik kehidupan ini yang sebenarnya. Mereka harus dibekali semangat dan kisah-kisah heroisme. Kenapa? Bagi BKH, sukses itu bukan milik orang pintar tapi milik orang-orang yang memperjuangkan impiannya.


Karena itu, tantangan harus dihadapi. Jangan dihindar. Orang yang menyukai tantangan, adalah orang yang memberi ruang pada impian untuk menjadi kenyataan.

Oleh: Eltari Purnama