Emi Nomleni, Batu Sandungan Paslon Lain Pada Pilgub NTT 2018?
Cari Berita

Emi Nomleni, Batu Sandungan Paslon Lain Pada Pilgub NTT 2018?

9 March 2018

Perempuan bernama lengkap Emilia Juliana Nomleni itu semakin menarik simpati publik pasca tertangkapnya sang Cagub Marianus Sae karena diduga melakukan tindak pidana korupsi selama menjabat sebagai Bupati Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Istimewa)
Feature, marjinnews.com - Dalam peringatan Hari Perempuan Internasional 2018 yang jatuh tepat pada Kamis, 8 Maret kemarin beberapa kejutan terjadi di tanah air. Hal yang paling disoroti adalah ketika Presiden Republik Indonesia kelima Megawati Sukarnoputri menerima gelar Doktor Honoris Causa (HC) bidang politik pemerintahan dari Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Bandung.

Ketua tim promotor sekaligus Rektor IPDN Ermaya Suradinata mengatakan Megawati merupakan orang pertama yang mendapat gelar HC dari IPDN. Alasan pemberian gelar itu adalah Megawati dianggap telah berjasa dalam mendorong tata pemerintahan yang baik dan memperkuat desain desentralisasi otonomi daerah.

“Tim promotor telah mempelajari nilai dan mempertimbangkan gagasan, semangat, jasa yang terhormat Ibu Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri, selama menjabat sebagai presiden kelima, terutama terkait kebijakan strategis politik pemerintahan,” kata Ermaya seperti dilansir Tirto.id.

Pengakuan tersebut bukan semata-mata hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap seorang Megawati tetapi juga bagi para perempuan lain yang memberanikan diri terlibat dalam politik.

Ditengah kerisauan akan minimnya angka keterlibatan perempuan dalam dunia perpolitikan Indonesia, di Nusa Tenggara Timur muncul sosok perempuan bernama Emi Nomleni yang sejak awal dipasangkan dengan Marianus Sae maju dalam lingkaran politik Pilkada pada bulan Juni mendatang.

Perempuan bernama lengkap Emilia Juliana Nomleni itu semakin menarik simpati publik pasca tertangkapnya sang Cagub Marianus Sae karena diduga melakukan tindak pidana korupsi selama menjabat sebagai Bupati Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Berjuang sendirian memenangkan paket Marhaen, Emi mengakui bahwa selama ini ada begitu banyak isu dan cercaan menimpa mereka. Tak urung, banyak orang yang meremehkan dan berupaya menjatuhkan paslon ini.

Kendati demikian, Emi bersama tim pemenangan mampu menghadapi itu semua.

"Memang saat mendengar kabar bahwa Pak Marianus Sae ditangkap KPK dalam OTT, saya sempat menangis. Tapi dalam derai air mata tersebut, saya mendapat jawaban Tuhan bahwa kenyataan itu merupakan tantangan untuk kita harus selalu bersama-sama dalam membangun daerah ini. Kita harus bersatu padu, bergandengan tangan untuk sama-sama berjuang meraih kemenangan," ujar Nomleni seperti dilansir Kupang.tribunnews.com pada Kamis 8 Maret 2019.

Emi pun menegaskan bahwa segala sesuatu yang menimpa mereka sudah ia serahkan kepada Tuhan. Sebagai perempuan, katanya, ada pihak yang memang meremehkan kemampuannya. Tetapi publik harus sadar bahwa kemampuan perempuan melebihi kaum pria. Dan, itu telah dibuktikan dalam medan kampanye saat ini.

Dari informasi yang dirangkum media tersebut, Emi sampai ke Lembata setelah menempuh perjalanan darat tanpa henti selama beberapa hari berturut-turut. Rencananya dari Lembata, ia bersama tim harus kembali lagi ke Larantuka untuk ke Kupang selanjutnya ke Kalabahi, Kabupaten Alor untuk menyapa konstituen di daerah tersebut.

Pesan dari Marianus Sae
Meski tengah ditahan KPK dengan status tersangka yang melekat dalam diri salah satu punggawa politik dalam Pilkada NTT 2018, Marianus Sae masih memiliki tanggung jawab moral untuk memenangkan paket Marhaen.

Samabari menunggu hasil penyelidikan KPK, Marianus masih sempat mengirimi pesan kepada para pendukungnya untuk tetap berjuang bersama Emi meski tanpa kehadiran didirinya.

Pesan Marianus tersebut dibacakan puteranya sulungnya Rintho Sae, saat hadir dalam kampanye terbatas/dialogis di Aula Dekenat Lembata di Lewoleba, Kamis (8/3/2018) sore.
Saat itu, Rintho mendampingi Nomleni bersama tim pemenangan Paket Marhaen, kampanye di dua titik, yakni di Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur dan di Lewoleba.

"Bapa mama sekalian, saya hadir di tempat ini untuk menyampaikan pesan dari bapa saya, Marianus Sae (Calon Gubernur NTT) yang sekarang ini sedang menjalani proses hukum di KPK-Jakarta. Bapa bilang, kita semua harus terus berjuang dengan semangat tinggi. Jangan biarkan Ibu Nomleni (Emilia Juliana Nomleni, Calon Wakil Gubernur NTT) jalan sendiri. Saya adalah Nomleni, Nomleni adalah saya. Mari kita terus berjuang bersama Paket Marhaen untuk membangun menuju hidup yang lebih baik." Ungkap Rinto dilansir Pos Kupang pada hari yang sama ketika Emi dan tim melakukan kampanye.

Tanggapan
Menurut Brigita (25) alumnus Jurusan Psikologi sebuah kampus Negeri di Surabaya ketika ditanya marjinnews.com mengatakan bahwa, keunggulan perempuan dalam segala sesuatu hal adalah kepandaiannya menyentuh ruang terdalam nurani manusia lain.

"Perempuan itu luar biasa. Dengan segala sesuatu yang melekat dalam dirinya, ia mampu membuat orang lain tidak hanya melihatnya dengan cara yang rasional tetapi juga secara irasional. Perasaan" ujar gadis yang juga jurnalis itu.

Ketika ditanya soal tanggapannya mengenai Emi Nomleni, ia mengaku tidak terlalu paham politik NTT. Tetapi ia yakin jika nanti perempuan di NTT pasti sebagian besar memilih Emi karena ikatan batin yang ia sebut dengan istilah sistershood. (AA/MN)