DLH Batam Mangkir dari Panggilan RDP DPRD Batam
Cari Berita

DLH Batam Mangkir dari Panggilan RDP DPRD Batam

21 March 2018

RDP diselenggarakan oleh DPRD kota Batam terutama oleh komisi 3  yang membidangi pengawasan terkait lingkungan hidup mengundang beserta Dinas Lingkungan kota Batam dinyatakan dibatalkan. (Foto: Joni)
Batam, marjinnews.com - Rapat Dengar Pendapat (RDP) dijadwalkan pada tanggal 20 Maret 2018  pada pukul 14.00 WIB oleh DPRD Batam terkait lingkungan hidup di kota Batam dan pengolahan sampah serta limbah BSE yang dibuang di TPA Telaga Punggur.

RDP diselenggarakan oleh DPRD kota Batam terutama oleh komisi 3  yang membidangi pengawasan terkait lingkungan hidup mengundang beserta Dinas Lingkungan kota Batam dinyatakan dibatalkan.

Pembatalan RDP terkait lingkungan hidup di kota Batam dan pengolahan sampah serta limbah BSE yang dibuang di TPA Telaga Punggur terkesan secara sepihak oleh pihak DLH-Batam.

Pembatalan RDP dikarenakan DLH-Batam tidak dapat hadir karena ada kegiatan kunjungan kerja ke TPA Telaga Punggur untuk meninjau keadaan di seputaran TPA Telaga Punggur, terang Nyanyang Harris Patimura ketua komisi 3 DPRD Batam.

Terkait pembatalan RDP di komisi 3 DPRD kota Batam tersebut sangat disesalkan oleh Nyanyang selaku ketua Komisi 3 DPRD kota Batam.

Seharusnya DLH-Batam harus berani membuka diri untuk menerima masukan baik oleh masyarakat maupun oleh DPRD Batam selaku wakil rakyat ucap Nyanyang.

Selaku DPRD kota Batam komisi 3 membidangi lingkungan hidup akan menjadwalkan ulang RDP terkait lingkungan hidup di kota Batam dan pengolahan sampah serta limbah BSE yang dibuang di TPA Telaga Punggur pada awal April 2018 janji Nyanyang Harris Patimura.

Batam sekarang menghadapi masalah sangat rumit terkait pengolahan sampah, sampah yang dihasilkan oleh masyarakat dan industri sekitar 800 sampai 1000 ton setiap harinya, terang Nyanyang.

Sebaiknya kemungkinan terburuk dari ketidakmampuan dalam mengolah sampah yang jumlahnya cukup 800 sampai 1000 setiap harinya harus dicarikan solusinya dengan cepat himbau Nyanyang.

Sampah yang dihasilkan 800 sampai 1000 ton setiap harinya tidak mungkin dibakar terang Ketua komisi 3 DPRD kota Batam.

Sangat disayangkan jika sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar 800 sampai 1000ton harus dibakar, sampah tersebut jika dibakar sangat berakibat fatal bagi masyarakat sekitarnya tegas Nyanyang.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah yang dibuang di TPA Telaga Punggur sangat berdampak langsung terhadap dunia penerbangan di kota Batam terutama di bandara Hang Nadim terang Nyanyang.

Jangan sampai Batam ditegur negara Singapura nantinya karena terkena dampak asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah di TPA Telaga Punggur tegas Nyanyang.

Mendengar perbatalan RDP tersebut dikarenakan DLH-Batam tidak bisa datang maka Hery Marhat selaku aktivis lingkungan dari organisasi KPLHI-Kepri menuding bahwa DLH Batam tidak menghormati DPRD Batam sebagai wakil rakyat.

Wakil rakyat yang memanggil tidak digubris oleh DLH-Batam , bagaimana kondisi lingkungan hidup di kota Batam jadinya nanti terang Herry Marhat.

Sebenarnya wakil rakyat harus dihargai oleh DLH-Batam tidak boleh seperti sekarang DLH cuek dengan panggilan DPRD Batam dengan surat pemanggilan RDP tegas Herry.

Terlihat jelas bahwa DLH-Batam terkesan tidak mau menerima masukan dari masyarakat dan wakil rakyat untuk pembenahan Batam supaya Batam bersih dan pengolahan sampah di Batam berjalan dengan benar sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang ada di NKRI ucap Herry dengan kesal.

Melihat kondisi lingkungan hidup di kota Batam yang sangat memprihatikan maka selayaknya DLH-Batam harus mampu berkoordinasi dengan DPRD Batam bersama masyarakat ucap Joni Pandiangan selaku Mahasiswa STIE Bentara Persada.

DLH-Batam jangan menutup diri melainkan DLH-Batam harus siap menerima kritik dan saran dari seluruh lapisan masyarakat baik Mahasiswa, LSM, Ormas, DPRD Batam terang Joni selaku Mahasiswa yang mengambil Fakultas Manajemen di STIE Bentara Persada.

Seharusnya DLH-Batam harus bersyukur jika masih ada elemen masyarakat baik Mahasiswa, Ormas, LSM dan DPRD yang peduli serta prihatin dengan kinerja DLH terang Joni.

Jika elemen masyarakat di kota Batam tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Lingkungan Hidup kota Batam maka kelak Batam akan terjadi banyak musibah dikarenakan alam murka terhadap perbuatan DLH-Batam tutup Pandiangan. (JP/MN)