$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

Cerpen: Anak Lawo


"Bilang saja kau mau pamer gelangmu yang sudah ratusan kali kau bangga-banggakan." Ketus Hendra dibalas dengan tawa gurih Mawar (Foto: Dok. Pribadi). 
"Anak Lawo?" Kening Hendra berkerut.
"Ini cerpen terasing yang kamu buat maksudnya apa?" Tanyanya lagi.
 "Ini bahasa apa?" Hendra tidak kekurangan pertanyaan.

"Itu bahasa Manggarai dan pengertiannya bisa kamu cari sendiri. Tantangannya tidak terletak dalam translatenya tapi pada apa yang menggelitik orang Manggarai ketika mendengar kata "anak lawo". Anak lawo bukan hanya menyerang mereka yang phobia untuk merasa aneh. Akh, sudahlah." Jawab Mawar yang tidak menjelaskan pasti maksudnya.

 "Kamu berbicara tentang daerahmu? Target menulis kamu sudah sejauh mana? Kamu yakin ini bisa diterima pembaca? Bukankah lama-lama kamu bisa dianggap etnosentrisme? Pembaca kamu meluas sekarang kan?" Hendra sepertinya sedang hobby mengawali percakapan senja ini dengan beberapa pertanyaan. Dia membenarkan duduknya di kursi lalu bergeser ke arah Mawar dengan tatapan tajam ke depan.  seakan berpuas diri mendapati judul cerpen itu. Anak lawo.

Tumpul kamu! Keunikan sedang diincar sekarang. Kamu lihat kan pameran di Gallery Nusantara minggu lalu?  Barang seni tawanan Mas Remon berasal dari berbagai daerah berbeda di Indonesia justru menghadirkan penikmat berkelas dengan lapisan orang-orang ternama di Gallerynya. Lebih jelasnya kamu masih pasti ingat pengamat seni dari Bali yang menyalami kita berdua sebagai anak muda yang muncul disana.  Bapak Dewa  yang berdongkar tetapi tetap ingin memburu dongkar-dongkar yang ada di gallery itu.

Beda itu manjur Hen.

"Atau kamu hanya perlu menengok gelang ini?. Mahal Hen. Limaratus ribu.  Sebiji ini." Kata Mawar dan memberi penekanan pada kata gelang.

Sambil mengangkat tangan kiri, tangan kanan Mawar bergeser ke arah tangan kiri. Tempat gelang itu dipasang.  mengusap-usap pergelangan yang dihiasi satu gelang dengan garis berwarna dasar hitam dan dipenuhi garis-garis bintik sederhana merah, putih dan kuning itu. Gelang asli Papua.

"Bilang saja kau mau pamer gelangmu yang sudah ratusan kali kau bangga-banggakan." Ketus Hendra dibalas dengan tawa gurih Mawar.

"Hen,  kalau ceritamu saja tak pantas untuk dirimu sendiri bagaimana kamu bisa berpikir itu pantas bagi penikmatnya? Toh kalaupun tidak dinikmati intinya kamu benar-benar tahu apa yang sedang kamu tulis. Banyak cerita yang rumit dan butuh diinjak lebih dalam justru bernilai estetika tinggi bukan? Percaya aku. Ini akan menarik." Ucap Mawar sambil menggenggam erat tangan sahabatnya sambil memastikan dengan yakin pada bola mata hitam pekat Hendra.

Hendra berdiri.  Merasa perlu melepas lelah mendengar Mawar yang biasa mencurahkan segala isi hati apa adanya kepada Hendra. Begitupun sebaliknya.

"Yup. Itulah mengapa penulis harus jujur dengan apa yang dirasakan. Agar ketidakpahaman pembaca justru menjadi nikmat ketika pembaca membuka diri untuk membaca berkali-kali dan menemukan kepolosan di dalam misteri penulis. Lalu pelan dan pelan pembaca girang, bersedih, meratap atau terbahak-bahak mendapati diri merasa sedang ada dan ikut dalam  alur si penulis." Mawar melototi Hendra yang seperti berpidato.

Tidak merasa bersalah mengutip persis kata-kata Mawar. Hendra melihat ke awan yang merasa tidak penting dipelototi setelah senja berlalu. Bulan tidak berbintang kali ini. Dia menghindari tatapan Mawar.

"Itu kan, kamu benar-benar membaca diaryku yang ketinggalan di kelas minggu lalu?" Mawar meraih tangan Hendra dan meremasnya erat. Perasaan Hendra mulai tidak tenang.

 Tangan kekar itu  dalam hitungan detik serentak dibawanya menikuk tajam dibelakang punggung pria berjaket hitam polos ini.

"Ampun War, ampun." Hendra mulai gerah dalam ketakutannya. Membayangkan dalam beberapa kesempatan wanita berpostur tubuh tinggi hampir sejajar dengannya sangat bergairah menyakiti tubuhnya dengan berbagai cara.

"Ayo pulang. Aku sudah menemukan targetku." Kata Mawar sambil mengganti  mencubit kuping Hendra dan menjewer menjadikannya seperti permainan. Dia tidak melepasnya.

"Apa? Kamu gila? Kamu benar-benar melakukan itu? Oh Tuhan." Mawar kaget mendengar seruan Hendra. Mawar melepas keras tangannya dari kuping Hendra yang mulai memerah.

Hendra mengerang kecil.

"Kamu menentukannya darimana? Atau dengan cara apa?" Interogasi Hendra.

 "Aku kan sudah cerita sama kamu waktu itu." Jawab Mawar enteng.

"Aku tidak ingat. Tapi aku yakin kamu mengatakan sesuatu yang biasa. Yang membuatku tak habis berpikir dan tidak ingin menanggungnya dalam pikiranku."


"Tidak semua orang beruntung memiliki pacar karena cinta Hen. Aku sudah lama sendiri. Kesepian. Aku menginginkan sesuatu sekarang. Saatnya mencoba. Aku menganggap ini permainan yang seru. Untunglah nanti jika dalam pencarianku aku menemukan seseorang".

Kucing berbulu abu-abuku ku ajak jalan-jalan ke taman tadi pas lopas pagi dan sesuai perjanjianku aku mendekati pria yang dia endus pertama.

"Kau tahulah bagaimana aku bisa membuat pria itu menantikan janji sebuah chat dariku malam ini. Dia lebih tinggi darimu tentunya. Aku yakin banyak orang diluar sana memiliki alasan sendiri selain cinta untuk bersama. Jangankan pacaran. Pernikahan yang selalu kau anggap sakral kadang didasari alasan yang membawa jauh  cinta bukan? Status sosial, kekayaan, pekerjaan, popularitas,tuntutan bahkan tanpa alasan sekalipun." Aku Mawar santai.

"Kamu bilang ini keinginanmu? Keinginan. Yah, keinginan. Tapi bukan kebutuhan War. Kamu bukan tipe orang yang membandingkan dirimu dengan siapapun untuk setiap keputusanmu. Jangan hanya karna yang kau sebut  kesepian. Tetapi sebenarnya masalah itu ada pada dirimu sendiri. Bukan mereka. Atau mau cari korban lagi? Semua kembali ke kamu War".

Berapa kali kamu harus menganggap ini permainan? Sudah banyak korban. Ini percobaanmu yang entahlah sudah keberapa kali.  Jatuh cintalah ketika kamu sudah siap. Tapi akh, aku tidak yakin kamu akan jatuh. Kamu sebenarnya pengecut. Tidak pernah mau menyerahkan hatimu selama 20 tahun hidupmu. Mengaku sajalah, kamu hanya takut terluka dibanding tergiur dengan nikmat yang bahkan ditawari pada cerita-cerita bertuah cinta pada hasil tanganmu sendiri di berbagai media.

Takutmu adalah akar dari semua yang terjadi. Putus sebelum jadian, lucu tapi itu penyakit. Atau kamu yang tiba-tiba menghilang ingin merasa lebih mampu tidak merindu dari pria yang mengincarmu yang dulu kau incar? Kamu pengecut.

 Dan tunggu, pria yang kemarin kau janjikan kontrak pacaran tiga minggu itu menghubungiku. Kamu tega yah, setelah bahkan kamu berhasil menaruh laki-laki pada titik terendah harga dirinya dengan mengiyakan kekuatan rencana konyolmu kamu malah menggantungnya. Dia menanyakan kabarmu kepadaku dengan berapi-api.

Sekarang kamu mau menimbang hatimu kepada pria yang hanya berdasarkan endusan kucing kesayanganmu? Kamu gila! Kamu tidak akan tau akibatnya kalau dia paham alasannya terpilih.

Aku tidak memintamu untuk berhenti. Tetapi kamu lebih baik dari ini Mawar. Lebih. Kamu lebih berharga dari semua teori-teorimu yang bahkan tidak kamu pahami sendiri.  Tolong hentikan ini!"

"Tapii.. ini mungkin akan menjadi cerita menarik nantinya." Aku Mawar gugup.

Hendra mengangkat satu sisi bibir merah muda miliknya dan tersenyum sinis. "Ayolah Mawar, keputusan-keputusanmu yang dibarengi kepentingan konyol tidak selalu  berakhir indah seperti cerita-ceritamu. Kau hanya menaruh mereka pada proses. Proses tanpa hasil. Dan itu menyakitkan.
Kau pikir fantasimu berlaku untuk hatimu yang bahkan tak yakin pada dirinya sendiri?" Hendra memejamkan mata beberapa saat.

Ketika membukanya dia mendapati  mata Mawar tertutup. Berkerut dan berair.

"Kau menghancurkan hatimu dalam ketidakpastian War."

"Tidak." Ujar Mawar singkat. Dia gelisah membiarkan percakapan ini berlanjut.

"Yang perlu aku lakukan hanyalah pergi dari sini. Akan selalu ada orang pertama dengan keputusan pertama melakukan sesuatu. Aku pamit." Mawar hendak beranjak.

"Akh, itu kata Paus Wojtyla dalam filmnya yang kemarin kita nonton. Tapi percuma kusebutkan namanya. Toh kamu lebih mengingat isi kata-kata daripada nama tokoh dalam setiap film atau buku yang kau baca. Orang pertama yang melakukan sesuatu untuk pertama kali. Kau harus tahu Bapak Paus yang kita nonton itu adalah toko ternama melebihi tokoh Tinus dalam ceritamu. Tinus,  nama yang biasa dan umum".

"Paus Wojtyla tidak meninggal setelah ditembak kejam. Dia pergi melakukan sesuatu karna dia tau apa yang dia buat. Tidak kalah penting, dia percaya apa yang dia lakukan. Tapi kamu? Akh, tolong. Kamu seperti Lord Wray yang tidak akan pernah memenangkan siapapun dalam keputusan menikahi Lidya di novel Where is My Hero?"

"Kekayaan dan kesamaan menyukai matematika dirasa cocok bagi akal mereka untuk bersatu. Tapi tidak bagi hati mereka. Pada akhirnya Lidya berontak ketika sadar tak ada cinta dan balik mengusik Lord. Mengusik mereka berdua. Mereka harus berpisah. Karna itu benar. Begitu juga denganmu. Ini hanya menunggu waktu. Hatimu atau hatinya sadar kalau kalian akan dipertemukan hanya karna logika bodoh hasil percobaan fantasimu." Sambung Hendra dengan tangan terkepal di jaket tipisnya.

Menepis dingin tapi mengeraskan lebih hatinya yang mulai risih dengan sikap wanita yang dikenalnya lama.

Mawar berhenti.

"Sekurang-kurangnya dalam segala katamu janganlah seperti Sherlock Holmes satu-satunya pemain pria yang kau hafal namanya. Dia memiliki segala yang dibutuhkan dalam berpikir. Tapi tidak untuk wanita. Kisah the women yang hadir dalam sesinya yang kesekian kalipun tidak berlanjut bukan? No women. Kamu bukan dia. You are you. Seseorang yang harus direngkuh agar tidak tersandung. Pada jalan ini kamu butuh dirimu dan seseorang lagi." Kalimat terakhir Hendra diucapkan dengan tak yakin.

Tapi dia merasa puas melihat wanita di sampingnya kali ini benar-benar memperhatikan kata-katanya.

"Kamu sudah selesai kan?" Hendra mendengus lemah mendengar respon Mawar.

"Baiklah. Aku tdak akan melanjutkan ini. Anggaplah ini sebagai hadiah perpisahan. Karna aku sebenarnya sekalian mau pamit. Rencananya akan kuutarakan di rumah. Tapi untuk menutup mulutmu kurasa ini saat yang tepat. Besok aku akan ke Jepang.

Mungkin benar aku membaur dengan semua orang. Menyerahkan diri tanpa harga. Itu menyenangkan selama ini. Tidak perlu repot-repot dihakimi diri dengan ini dan itu. Sejak semula semua sama rata. Semua orang disamaratakan.

Kali ini liburanku bukan hanya sekedar liburan biasa. Rupanya aku harus menambah memikirkan kata-kata Hendra si psikopat kumat semalam dalam agendaku. Memikirkan semua kata-katamu tadi sampai pada titik dimana merasa sama rata bukan berarti adil kan? Tidak adil bagi mereka, baginya dan bagi dia juga tidak adil bagi diriku sendiri.

Akh, ini saatnya mencoba memungut apa yang bisa dipungut dari diri sendiri. Menyerahkan diri pada seseorang. Utuh. Sepulang ini. Doakan aku Hen."
Kata Mawar serius.

Pergilah berlibur. Tapi jangan lupa pulang. Kamu harus selesaikan cerpen "anak lawo"mu  di samping sahabat setiamu ini. Ocehanku akan memberi inspirasi banyak. Lihat saja, aku sudah kembali yakin pada dirimu. Cerpen anak lawo ini pasti akan tak biasa. Lawo bukan hanya berarti tikus kan? Anak lawo juga berarti benjolan-benjolan akibat pukulan atau cubitan di sekitar lengan yang muncul menyerupai anak tikus.

Jadi anak lawo bukan hanya menggelitik orang yang phobia sama tikus tapi semua anak Manggarai yang merasa pernah mengalami ini. Hampir semuanya.

Tidak usah tanya darimana aku paham. Segera pulang dan siapkan pakaian-pakaianmu.

Aku punya relasi banyak dengan anak Manggarai. Ketika kamu di toilet aku chat 9 diantara 10 teman-temanku. Berliburlah. Cintai dirimu sendiri.

"Siap. Pastikan kita akan dinner setelah aku pulang. Kalau aku tak pulang sebulan lagi kamu berhak membuat anak lawo di lengan kiriku. Tetapi kalau aku kembali dan kamu tidak ada waktu di malam pertamaku disini dengan dinner berdua aku wajib membuat anak lawo dilengan kananmu setelahnya. Kau seperti racun yang menyengat malam ini. Aku berharap menjadi lebah yang menyajikan madu dengan dinner kita berdua nanti. Satu lagi, untuk cerita anak lawo  perbincangan kita malam ini akan ku isi menjadi bagian seluruhnya. Kamu tak perlu repot memikirkan itu. Hanya pikirkan baju dan minyak rambut mana yang kau pakai untuk dinner kita." Mawar kelihatan serius. Dia menatap Hendra lama.

 "Semua manusia sama. Benar-benar sama. Hanya kau agak berbeda di antara persamaan-persamaan itu."

Hendra pria berdarah Jawa ini tertawa bingung dan pasrah melihat Mawar mematung memperhatikannya. Mawar mengayunkan santai tangan pada dagu terbelah wanita itu sendiri.

"Sialan kau War, jangan masukkan aku dalam daftar percobaanmu. Karna akan kupastikan pulang ini kuajak kau berlari ke hutan sebelum makan malam. Menggigit kesunyian hutan yang masih perawan dengan membius dan membuat anak lawo bertubi-tubi di hatimu."


Mawar tertawa. Hendra tertawa.

Mereka tertawa lepas. Lepas dan hangat.

Mereka berjalan perlahan. Kikuk.

Selanjutnya kisah dramatis terjadi.

Hujan deras menyapu malam. Petir menyambar kejam. Mawar kaget dan tersentak. Dia memeluk sahabatnya seperti sebelumnya. Tapi kali ini hujan lebat, malam dan pria bisa membuatnya mendapati hangat yang berdebar pada dada bidang pria ini.  Kehangatan dan kenyamanan sekaligus tercipta dalam pengasingan dirinya.

Hendra memeluk Mawar rapi jauh dari rumus rumit phytagoras.

Tangan Hendra menyusup pinggang wanita itu perlahan. Tangan satunya mendekap kepala Mawar. Hendra menenangkan bahu wanita yang basah kuyup ini dengan menepuk bahu Mawar kekar. Kekar dan lambat.

Tetapi entah berawal darimana keduanya tiba-tiba merasa gerakan itu bukan lagi rapi. Ada ketidakaturan disana.

Suasana yang menjelma menjadi kekuatan asing menyeret mereka kemana-mana. Memenangkan siapapun.

Memenangkan Hendra dan Mawar. Atau  memenangkan satu sebutan yang kita juluki "mereka" berdua dan yang Hendra juga Mawar  namakan sebagai "kita".

Hangat, kikuk dan meluap-luap.

Oleh: Tini Pasrin
marjinnews.com Malang

Catatan: Anak Lawo, bahasa daerah Manggarai yang berarti Anak Tikus

COMMENTS

Name

Artikel,141,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,160,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,3,BPJS,1,Budaya,38,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,183,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,579,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,38,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,280,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,50,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,114,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,71,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,294,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,258,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,419,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,20,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1148,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,38,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,88,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,20,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,71,Sumba,8,Surabaya,35,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,48,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,14,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Cerpen: Anak Lawo
Cerpen: Anak Lawo
https://1.bp.blogspot.com/-DBNqTQUycvM/Wp7IjU15PjI/AAAAAAAAA8E/O1Gg6XND-c8hDOqZZkkltSnzkXSzQLIHACLcBGAs/s320/Tini%2BPasrin.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-DBNqTQUycvM/Wp7IjU15PjI/AAAAAAAAA8E/O1Gg6XND-c8hDOqZZkkltSnzkXSzQLIHACLcBGAs/s72-c/Tini%2BPasrin.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/03/cerpen-anak-lawo.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/03/cerpen-anak-lawo.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close