Catatan Kelam, Kasus Pembunuhan di Bali yang Melibatkan Diaspora Flobamora Asal Sumba
Cari Berita

Catatan Kelam, Kasus Pembunuhan di Bali yang Melibatkan Diaspora Flobamora Asal Sumba

21 March 2018

Polisi mengorek keterangan Ariel yang turut membuang mayat korban ke selokan Desa Sedang Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung Selasa 21 Oktober. (Foto: Istimewa (
Denpasar, Marjinnews.com - Catatan kelam kasus pembunuhan di Bali yang dilakukan oleh warga diaspora Flobamora cukup banyak.

Sejumlah kasus pembunuhan yang terjadi di Pulau Dewata itu kerap melibatkan warga asal Bumi Flobamora yakni dari Pulau Sumba, NTT.

Korbannya beragam, mulai dari bocah, orang dewasa hingga warga negara asing.

Atas perbuatan keji tersebut, para pelaku harus rela mendekam dibalik jeruji besi, walau di usia yang relatif masih muda.

Berikut ini empat kasus pembunuhan di Bali yang mengguncang publik, pelakunya pemuda asal Bumi Flobamora yaitu Sumba.

1. Membunuh WNA Asal Inggris

Robert Kelvin Eliz (60), tewas dengan leher nyaris putus tergorok di Desa Sedang, Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, Oktober 2014 lalu.

Pembunuhan bule asal Inggris itu didalangi istri korban, Julaikah Noor Ellis (45).

Julaikah menyewa 7 orang pembunuh untuk menghabisi suaminya yang akrab disapa Mr Bob di Villa Emerald Jalan Karangsari Blok C 6, Sanur, Denpasar.

Mayat Mr Bob dibuang di pematang sawah di kawasan Petang, Badung.

Kasat Reskrim Polres Badung Ajun Komisaris Wisnu Wardhana menuturkan jika pihaknya mengidentifikasi setidaknya ada 5 pelaku pembunuhan.

Satu di antaranya berhasil dibekuk, yaitu Andrianus Ngongo alias Ariel (23), asal Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, NTT.

Ariel dibekuk di Pelabuhan Padang Bay, Selasa (21/10/2014) sore saat hendak pulang ke kampung halamannya.

"Satu pelaku asal Sumba, NTT atas nama Ariel sudah kami amankan, Dia kita tangkap di kapal di Pelabuhan Padang Bay saat hendak kebur ke kampung halamannya," tutur Wisnu Wardhana, Rabu (22/10/2014).

Polisi mengorek keterangan Ariel yang turut membuang mayat korban ke selokan Desa Sedang Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung Selasa 21 Oktober.

Ariel mengatakan tidak sendiri tetapi bersama empat rekannya terlibat pembunuhan. Polisi memburu empat pelaku lainnya, yaitu UR, NT, DN dan EJ.

Beberapa saat kemudian polisi mengkap Rangga, yang sebelumnya ditetapkan sebagai buron. Rangga ditangap di Sumba Timur pertengahan Januari 2015.

"Setelah berbulan-bulan diburu, kita berhasil menangkap Rangga yang bersembunyi di Sumba Timur," kata tim khusus Polda Bali, Kompol Pande Sugiarta, Selasa 20 Januari 2015.

Sementara, dua pelaku lainnya yakni Yohanes Sairo Kodu alias Yonis dan Urbanus Yoh Ghoghi alias Ur dibekuk di Sumba Barat Daya.

"Keduanya ditembak lantaran melawan dengan senjata tajam jenis panah beracun sehingga dilumpuhkan kedua kakinya," ungkap Pande.

Sampai saat ini, total tersangka yang sudah diamankan Polda Bali sebanyak 7 orang dari 8 pelaku pembunuhan warga asing tersebut.

2. Terlibat Pembunuhan Engeline

Masih ingat kasus Engeline?

Bocah berusia 8 tahun dinyatakan hilang oleh ibu angkatnya, Margriet CH Megawe (60).

Sejak dinyatakan hilang 16 Mei 2015, Engeline menjadi mendapat perhatian publik.

Engeline ditemukan sudah menjadi mayat di kediaman Margriet di Jalan Sedap Malam 26 Denpasar, Bali setelah dilaporkan hilang sleama lebih tiga minggu.

Kasus ini terungkap setelah polisi mencium bau bangkai saat beradai di rumah Margriet.

Polisi melakukan pencarian bahkan menggali beberapa tempat yang diduga sebagai kuburan Engeline.

Setelah mencangkul beberapa tempat dan akhirnya menemukan kuburan Engeline. Permukaan kuburan Engeline nampak dipenuhi kotoran ayam dan sampah.

Setelah menggali sekitar setengah meter, ditemukan kain putih dan Engeline. Engeline dikubur dalam posisi duduk dengan boneka yang disematkan di dadanya.

Saat itu Engeline tidak mengenakan pakaian apapun. Engeline telanjang hanya dibungkus dengan kain warna putih.

Dari hasil penyelidikan polisi, terungkap bahwa terjadi persekongkolan pembunuhan berencana terhadap Engeline, murid SDN 12 Sanur ini.

Pihak-pihak yang terlibat, yakni Margriet dan para pembantu rumah tangganya.

Salah satunya, Agustinus Tai Hamdamai alias Agus Tai, pria asal Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba.

Agus Tai mengaku disuruh Margriet untuk menggali lubang. Kemudian, Agus juga dijanjikan Rp 2 miliar oleh Margriet.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Agus Tai divonis 10 tahun penjara oleh majelis hakim. Sedangkan Margriet divonis penjara seumur hidup.

3. Sayat Leher Pacar

Sakit hati karena cintanya ditolak, Lega (27) nekat menyayat leher pacarnya, Ita Haumin (26).

Peristiwa tersebut terjadi di tempat kos korban, Jalan Uluwatu 66 X, Lingkungan Tengah Pecatu, Jimbaran, Badung, Bali, Kamis (19/5/2016) malam.

Pria asal Kabupaten Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, NTT ini langsung diciduk dan ditahan polisi.

Lega dan Ita baru tiga bulan menjalin hubungan asmara.
Keduanya bekerja di sebuah toko bangunan di bilangan Jimbaran.

Hingga Kamis petang, hubungan keduanya baik-baik saja.
Persoalan muncul sekitar pukul 22.00 Wita. Keduanya terlibat pertengkaran hebat.

"Selang berapa lama tak ada suara, saya curiga ada sesuatu. Tuan kos lihat ke lantai dua dan melihat korban tergeletak bersimbah darah. Saya langsung bawa Ita ke RS Kasih Ibu untuk dirawat, pemilik kos lapor ke Polsek Kuta," ujar seorang rekan kos korban yang enggan menyebutkan namanya di Mapolsek Kuta, Jumat (20/5/2016).

Karena luka yang dialami Ita cukup serius, termasuk luka tusuk di perut, korban dirujuk ke RSUP Sanglah.

Kapolsek Kuta Selatan, Kompol I Wayan Latra, menjelaskan, sebelum terlibat pertengkaran, korban dan pelaku membicarakan kelanjutan hubungan asmara keduanya.

Diduga karena cintanya ditolak, pelaku naik pitam dan menyayat leher korban.

Pelaku, kata Latra, membawa pisau dapur dari tempat kosnya di Jalan By Pass Nurah Rai, Gg Gaing Mas, Jimbaran.

"Saat pacaran korban pernah minta uang kepada pelaku sebesar Rp 300 ribu. Karena putus, pelaku meminta kembali uang itu, namun korban tidak mau mengembalikannya. Dari situlah muncul pertengkaran sampai leher dan perut korban disayat," ujar Wayan Latra.

Pelaku berhasil ditangkap setelah polisi meneleponnya dan mengaku sebagai teman sekampungnya."

Saat ditelepon pelaku berada di kawasan Ubung.
Pelaku berhasil diajak untuk bertemu di patung kuda, kawasan Cargo.

Saat bertemu di kawasan Cargo, polisi yang menyamar sebagai tukang ojek langsung menangkap pelaku tanpa perlawanan.
Polisi juga berhasil mengamankan barang bukti sebilah pisau di lahan kos korban.

4. Pembunuh Buruh Bangunan

Naas dialami Hadi Ekwanto (35) asal Lumajang, Jawa Timur dan rekan kerjanya, Panjiono (28) asal Jember, Jawa Timur.

Kedua pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini ditusuk saat melerai keributan yang dilakukan oleh sekelompok pemuda asal Sumba, NTT.

Peristiwa tersebut mengakibatkan Hadi meninggal dunia dan Panjiono harus dirawat intensif di rumah sakit.

Informasi yang dihimpun dari Raffi (30) teman korban mengatakan, insiden berdarah hingga menghilangan nyawa salah satu rekannya tersebut terjadi di rumah Bedeng di daerah Bungalu, Sarila, Nusa Dua, Sabtu (23/9/2017) sekitar pukul 23.00 Wita.

Peristiwa mengerikan ini berawal dari perkelahian antara sesama pemuda Sumba, NTT dilantai dua bangunan.

Pemicu perkelahian tersebut hanya karena masalah gaji.
Mendengar keributan terjadi, Panjiono yang saat itu berada di lantai bawah bangunan di rumah bedeng tersebut langsung berlari ke lantai atas.

Panjiono dengan niat baiknya hendak melerai perkelahian tersebut. Namun Panjiono malah langsung ditusuk oleh sekelompok pemuda yang berkelahi.

Panjiono yang dalam kondisi terluka tersebut pun dikejar lalu dikeroyok lagi saat berlari menyelamatkan diri.
Halaman selanjutnya
Halaman

Melihat Panjiono dikeroyok, Hadi pun datang dengan niat hendak melerai.
Namun nahas, Hadi pun ikut dipukul hingga ditusuk.
Tragisnya, Hadi ditusuk sebanyak 14 kali pada bagian tubuhnya.

Peristiwa tersebut membuat kedua korban pun tergeletak.
Sementara sekelompok pemuda tersebut dilaporkan langsung kabur dari lokasi kejadian.

"Saat saya tiba di lokasi kejadian, kedua teman saya (Hadi dan Panjiono) sudah tergeletak di lantai dengan kondisi penuh luka di bagian tubunya. Dari informasi yang saya dapat, ada sekitar 6 orang pemuda yang melakukan pengeroyokan terhadap kedua teman saya," ucap pria asal Jember Jawa Timur ini.

Lebih lanjut Raffi mengatakan, saat melerai perkelahian antar sekelompok pemuda itu, Panjiono berucap dengan baik-baik karena merasa istirahatnya terganggu.

"Panjiono bilang ke mereka, teman kalau berkelahi jangan disini. Lebih baik berkelahi diluar saja karena sekarang waktu untuk istirahat. Saat itu juga dia (Panjiono) langsung ditusuk. Kemungkinan sekelompok pemuda yang ditegur tersebut tidak terima," ujarnya.

Dijelaskan Raffi, kedua temannya yang merupakan buruh bangunan tersebut langsung dievakuasi menuju RSU Surya Husada, Nusa Dua.

Namun saat dalam perjalanan, nyawa Hadi tak tertolong.
Hadi meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Sementara Panjiono sempat mendapat perawatan medis di RSU Surya Husada dan di rujuk kembali ke RSUP Sanglah, Denpasar.

Akibat peristiwa tersebut terjadi, Hadi mengami 14 luka tusukan diseluruh bagian tubuhnya dan meninggal dunia.

Jenazah Hadi hingga semalam masih dikamar jenazah RSUP Sanglah. Sementara Panjiono mengalami luka tusuk di perut sebelah kiri hingga tembus ke belakang.

"Penyebab kematian Hadi karena mengalami banyak pendarahan. Senjata tajam yang digunakan saat pengeroyokan itu digunakan sebilah pisau. Kasus ini kami serahkan ke pihak kepolisian. Saya juga meminta kepada polisi agar jenazah Hadi tidak diautopsi agar secepat saya bawa pulang ke kampung," ungkap Raffi saat di temui diruangan IGD RSUP Sanglah, Denpasar, Minggu (24/9/2017). (RN/MN)