Bualan Budiman Sudjamiko dalam Buku Anak-Anak Revolusi
Cari Berita

Bualan Budiman Sudjamiko dalam Buku Anak-Anak Revolusi

19 March 2018

Terbesit niat untuk mulai memikirkan bagaimana buku-buku itu nantinya menjadi pegangan anak-anak saya membentuk aras pemikirannya lebih baik (Foto: Dok. Pribadi).
Perjuangan hidup dan mempertahankan sebuah ideologi yang telah diyakini, tidaklah mudah, apalagi jika kemudian berbenturan dengan realita yang tak bersahabat. Budiman Sudjatmiko salah satu aktivis politik yang menentang rezim Soeharto adalah orang yang turut andil merasakan hal-hal seperti itu.

Pertanyaan-pertanyaan di masa belia yang muncul sejak dirinya melihat kematian Mbah Dimin, terus membekas dalam benaknya hingga dewasa. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi dasar pemikiran yang kemudian datang bertubi-tubi. Ditambah lagi dengan penemuan “harta karun” dari gudang rumah Sang Kakek, buku-buku yang menginspirasinya.

Meski untuk masalah ideologi atau pemikiran saya tidak terlalu sejalan dengan Budiman, tetapi buku ini tetap memberikan pelajaran berharga. Kisah masa kecilnya tentang bagaimana penulis begitu terinspirasi oleh buku-buku yang dikoleksi oleh Kakeknya, membuat saya berpikir untuk kembali melirik koleksi buku yang saya miliki.

Terbesit niat untuk mulai memikirkan bagaimana buku-buku itu nantinya menjadi pegangan anak-anak saya membentuk aras pemikirannya lebih baik. Merekonstruksi ideologi yang dianutnya dengan cara saya sendiri. Sehingga ia bisa memiliki kemampuan yang terukur jika kelak tongkat estafet kemajuan bangsa ini berada dalam genggamannya.

Terlalu optimis, itu mungkin yang akan anda simpulkan dengan pernyataan saya. Pertanyaan apakah sesuatu yang sedang saya pikirkan saat ini sudah benar atau minimal bisa diterima pada zaman mereka nanti? Sudah saya pertimbangkan.

Perjalanan Budiman Sudjatmiko untuk meyakinkan dirinya untuk berjuang membela rakyat miskin, tak luput dari peran besar dari kehausannya untuk membaca buku. Membaca buku tak sekadar menjadi keinginan, tapi kebutuhannya untuk menopang, memperkuat, membenahi gejolak pemikiran yang mengisi otak dan pikirannya. Menurut saya itulah makna penting dari membaca buku. Dan buku-buku itu harus kita persiapkan sedari sekarang.

Membaca buku tak sekadar hobi, tapi sarana untuk membantu kita mengenal dan memahami apa tujuan kita hidup, apa yang ingin kita raih di dunia, sehingga ilmu yang kita serap dari membaca tak akan pupus dalam waktu sekejab, karena membaca yang dibarengi dengan perenungan, hasilnya luar biasa.

Lalu, apa yang mendasari judul tulisan ini menyebut "Bualan" seorang Budiman Sudjamiko dalam bukunya itu?

Jika kita menelisik secara mendatail buku Anak-Anak Revolusi, kisahnya dibagi menjadi dua alur berjalan beriringan, yaitu masa kecil Budiman Sudjatmiko dan saat peristiwa pemburuan serta penangkapan beliau oleh rezim Orba.

Kemasan bergaya novel yang tidak kaku, menjadikan memoar ini lebih nikmat untuk dibaca. Meski begitu ada bab-bab yang dipadati dengan pemikiran-pemikiran dari berbagai tokoh serta referensi judul-judul buku yang mengiringi perjalanan pemikiran atas ideologi yang dipegangnya.

Ideologi dan pemikiran yang dipegang seorang Budiman pasca ceritanya 20 tahun lalu menarik untuk kita bahas untuk masa sekarang. Sebagai salah satu orang yang menjadi bagian dari kelompok pro demokrasi, suara-suara pembaharuan aktivis sekelas Budiman malah kalah nyaring dibanding omong kosong yang masif diproduksi oleh sebut saja Fahri Hamzah dan Fadli Zon.

Sangat menarik ketika "kecemasan" yang dirasakan oleh Pater Friedz Meko, SVD dalam sebuah tajuk berjudul "Gagang Reformasi yang Rapuh" digambarkan secara singkat dan lugas yang kira-kira bunyinya begini: "...pemberian yang disertai dengan wasiat (para pejuang, -red), kepadamu kutitipkan negeri ini, kini seolah berubah menjadi rintihan, di negeri ini kamu biarkan demokrasi babak belur...".

Babak belur yang dimaksud Pater Friedz dimaksudkan untuk menggambarkan realitas faktual kita sekarang ini. Cinta dan keikhlasan para pejuang untuk merebut bangsa ini dari para penjajah tiba-tiba berubah menjadi kebencian dan keculasan yang nampak dalam pembunuhan antar anak bangsa sendiri, pengrusakan tatanan masyarakat, pemerkosaan manusia dan hukum, serta hancurnya wibawa para pengendali negeri ini.

Reformasi yang lahir kesadaran akan sumbatan demokrasi pada Orde Baru sarat akan persepsi bahwa bangsa Indonesia terdiri dari kaum cendekia seperti Budiman Sudjamiko melahirkan prediksi logis bahwa gagang perjuangan mereka merupakan kekuatan rasio yang ditampakkan melalui diplomasi yang jujur dan tulus untuk berpikir bersama mengenai bagaimana merekonstruksi puing-puing kehancuran di Indonesia.

Namun, kenyataan yang kita hadapi sekarang ini seperti kebalikannya. Menjadikan agama sebagai instrumen politik membawa kita ke awal abad pertengahan, menyebabkan kadar intelektualitas kita mundur 400 atau 500 tahun. Ironis, namun kenyataannya seperti itu.

Bukan hanya itu, praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang menjadi momok besar orde baru sepertinya hanya mengganti baju. Kalau orba, praktek KKN hanya dilakukan oleh satu partai kini hampir semua partai melakukan praktek haram tersebut. Prodak reformasi menyisakan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) karena Mahkamah Konstitusi juga menjadi sarang para koruptor seperti Akil Mochtar.

Dua dekade reformasi, kondisi kita semakin bergejolak. Saling melempar kesalahan seolah kaum milenial adalah biang dari segala masalah di negeri ini. Dengan berpangku kaki seorang politisi yang mengaku mantan aktivis 1998 dengan enteng meledek Ketua BEM UI ketika memberi kartu kuning Jokowi, "...kalau mau membela kaum buruh, kamu harus terjun ke lapangan menjadi buruh. Tidur dengan mereka dan rasakan sendiri bau badan mereka...". Sialnya, beliau itu tengah duduk di menara gading kekuasaan atas nama rakyat. Aneh, tragis, dll.

Saya kemudian akhirnya hanya menyukai bagaimana seorang Budiman Sudjamiko menggambarkan Chaterine, kekasih hatinya yang tanpa kenal lelah mencintainya apa adanya. Meski kemudian tidak menghasilkan cerita yang happy ending, minimal Budiman telah menggambarkan bagaimana CINTA dan KEIKHLASAN seperti harapan Pater Friedz Meko, SVD untuk membangun demokrasi itu dipadukan menjadi sebuah puisi singkat Sapardi Djoko Damono:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikanya abu. Aku ingin mecintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada  -Sapardi Djoko Damono, 1989  

Oleh: Andi Andur