Berkat Dua Pengacara Ini, Dua Warga Diaspora Flobamora di Bali Bebas Dari Tuntutan Hukum
Cari Berita

Berkat Dua Pengacara Ini, Dua Warga Diaspora Flobamora di Bali Bebas Dari Tuntutan Hukum

MARJIN NEWS
24 March 2018

Keduanya dibebaskan dari tuntutan hukum berkat perjuangan dari dua orang Pengacara yang membelanya dalam menjalankan proses hukum di Polsek Denpasar Selatan. (Foto: Remigius)
Denpasar, Marjinnews.com - Dua warga diaspora Flobamora di Bali, atas nama Bram dan Yakup yang ditahan oleh aparat Kepolisian Sektor Denpasar Selatan karena diduga melakukan tindakan pencurian sepeda motor di wilayah hukum Densel ahirnya bisa legah setelah mendengar keduanya akan dibebaskan Senin pekan depan (26/3).

Keduanya dibebaskan dari tuntutan hukum berkat perjuangan dari dua orang Pengacara yang membelanya dalam menjalankan proses hukum di Polsek Denpasar Selatan.

Yulius Benyamin Seran dan Siti Sapurah adalah dua sosok yang berada dibalik bebasnya dua warga diaspora  Flobamora di Bali ini.

Kepada Marjinnews.com, Yulius Benyamin Seran dan Siti Sapurah menuturkan bagaimana proses perjuangan di balik bebasnya dua tersangka kasus dugaan pencurian satu unit sepeda motor milik seorang warga Banyuwangi atas nama Nio Kharyra di Denpasar beberapa waktu lalu.

"Awalnya, kami mendengar cerita yang miris tersebut, kami terpanggil dan sepakat membantu. Rekan saya Siti Sapurah yang tidak pernah kenal sebelumnya dengan kedua tersangka, bukan juga warga NTT namun bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran secara cuma-cuma untuk mendatangi Polsek Densel, menemui Penyidik, Kanit, Kapolsek, dan berhasil melakukan pendekatan secara kekeluargaan dengan korban hingga akhirnya korban mau berdamai dan mencabut pengaduannya," tutur Benyamin Seran.

Merujuk pada Surat Kapolri No Pol: B/3022/XII/2009/SDEOPS tanggal 14 Desember 2009 tentang Penanganan Kasus Melalui Alternatif Dispute Resolution (“ADR”) (“Surat Kapolri 8/2009”). Akhirnya, perkara pidana berhasil didamaikan. Secara pribadi, saya sangat berhutang budi kepada Rekan saya Ibu Sity Sapurah alias Mba Ipung atas pengorbanannya tersebut, terang Benyamin Seran.

"Semoga Tuhan membalas segala kebaikannya dengan dibukakan pintu rejeki," ujarnya.

Benyamin Seran melanjutkan, Inilah profesi kami, kami mengedepankan hukum. Kami tidak pandang bulu. Membantu yang benar-benar membutuhkan bantuan hukum.

"Entah dia orang Sumba kek, Afrika kek, Bugis kek, Aborigin kek, asal ada nilai kebenaran yang harus dibela, maka demi penegakan hukum, kami siap melayani. Asal bukan pelaku kejahatan terhadap anak, wanita, dan narkoba, pengaruh miras, perkelahian, dan sejenisnya karena kami ANTI kejahatan tersebut. Dan perlu di catat, kami bukanlah siapa-siapa. Hanyalah Advokat yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun," tukas Benyamin Seran.

Sementara itu, Siti Sapurah alias Mba Ipung lebih menjelaskan bagaimana dirinya merasa kecewa terhadap pihak finance WOMS yang seakan cuci tangan dari masalah yang melilit kedua warga diaspora Flobamora yang juga adalah karyawan mereka.

Menurut Mba Ipung, pihak finance WOMS tidak bisa menjelaskan kepada Pelapor bahwa apa yang dilakukan oleh kedua tersangka itu bukanlah sebuah tindakan pencurian, melainkan karena tuntutan kerja yang diperintah oleh atasan mereka untuk menarik kendaraan yang menunggak berbulan-bulan.

"Saya sangat menyesal kepada pihak finance WOMS, mereka tidak bisa membela para karyawannya." ujar Mba Ipung.

Dirinyapun juga menghaturkan banyak terima kasih kepada pihak Pelapor yang telah mau diajak berdamai.

"Jangan salah lho, kedua klien kami itu sudah jadi tersangka, dan kalau sudah jadi tersangka sangat sulit untuk dibebaskan. Namun syukur keduanya bisa bebas dan segala urusan berjalan lancar. Ini benar-benar mukjizat Tuhan," terang Siti Sapurah yang juga pernah menjadi penasehat hukum kasus Anggeline itu.

Di lain tempat ketua Ikatan Keluarga Besar Alor Bali, Ishak Walaka menghaturkan banyak terima kasih kepada Siti Sapurah dan Benyamin Seran yang telah membantu warganya yang terkena kasus hukum di Bali.

"Saya haturkan limpah terima kasih, lebih khusus kepada Ibu Siti Sapurah. Dia bukan orang NTT, tetapi hatinya begitu mulia membantu orang NTT di Bali. Dan juga saya ucapkan terima kasih, dan salut kepada Pak Benyamin Seran yang telah berjuang bersama Ibu Siti dalam membebaskan warga saya di Bali, apalagi ini free alias Probono," tutup Ishak.(RN/MN)