Belajar Kehidupan dari Dua Ekor Semut
Cari Berita

Belajar Kehidupan dari Dua Ekor Semut

21 March 2018

Terkadang kita terlalu dikuasai oleh ego dan mimpi sesaat. (Foto: Dok.Pribadi)

Ada sebuah kisah tentang dua ekor semut. Keduanya sudah berteman sejak kecil. Semut yang pertama biasa dipanggil Ce, sedangkan yang satunya lagi sering dipanggil Se.

Kemana saja keduanya hampir selalu berbarengan. Mereka berdua ibarat perangko yang selalu lengket.

Ada sebuah tempat yang menjadi tempat favorit keduanya. Di tempat itu keduanya saling berbagi cerita, saling mencurahkan isi hati, dan bertukar pikiran.

Disana pula tempat keduanya untuk membahas jika memiliki masalah. Mulai dari hal ringan, sampai hal-hal yang serius, seperti membahas rencana mengenai perjalanan hidup keduanya di hari-hari yang akan datang.

Tempat itu, bagi mereka adalah lokasi yang terbaik diantara tempat-tempat lain. Tempat itu namanya pohon asam.

Pohon asam yang mereka pilih, bukan  saja  strategis karena banyak semut cewek yang ikut menikmati kerindangan dari pohon asam itu.

Namun, lebih dari pada pohon asam itu juga menghasilkan makanan buat mereka, jika saja pohon itu berbuah. Dan bahkan kadang kala jika mereka mendapatkan makanan dari luar keduanya kerap  membawanya kesana untuk makan bersamaan sambil duduk santai menikmati pemandangan yang ada di sekitar itu.

Suatu sore keduanya duduk bercerita sambil menikmati sebutir gula yang didapati pagi tadi. Gula itu mereka dapat dari seseorang anak kecil.

Anak kecil itu namanya Rio, dia kelihatan menangis karena berantem dengan kakaknya si Falens. Keduanya berantem gara-gara rebutan permen.

Falens tidak adil membagi permen yang dibeli dari kiosnya Om Timo. Sebab, Rio tahu kalau di kiosnya Om Timo biasanya jika membeli seribu akan dapat lima.

Falens kasih ke Rio dua saja, dirinya pikir, Rio tidak mengetahui bahwa di kiosnya Om Timo sekarang jika beli seribu akan tetap dapat lima. Dia masih memikirkan dengan kios yang di pertigaan menuju kampung, yaitu warungnya tanta Lena. Memang, di kiosnya Tanta Lena jika beli seribu sekarang dapatnya empat.

Ternyata dari tadi saat ayah mereka memberi mereka uang seribu, Rio secara diam-diam mengikuti Falens dari belakang ke kiosnya Om Timo. Saat Falens belanja, Rio ternyata sembunyi di belakang tumpukan batu bata milik Om Timo yang ditata persis di sudut kiosnya.

Falens kemudian pulang, dan mecari adiknya Rio. Ternyata Rio sudah duluan balik dan pura-pura bermain mobil-mobilan di samping rumah.

Falens memanggilnya, "Rio, kamu dimana dek? Ini sudah permennya. Kita berdua sama-sama dapat dua. Ternyata permennya Om Timo sekarang dapat empat jika beli seribu. Sama seperti di kiosnya Tanta Lena," ujar Falens dengan menyodorkan dua permen ke adiknya itu.

Rio tidak menerima permen yang diberikan kakanya itu. Dia kemudian menanyakan bahwa kalau di kiosnya Om Timo tetap dapat lima jika kita beli seribu.

"Masa sekarang dapat empat, saya tidak yakin. Sementara barusan tadi pagi si Helmi baru beli seribu juga. Dan dapatnya lima. Saya ikut dengan Helmi tadi pagi beli permen ke kiosnya Om Timo," jelas Rio.

"Benar ta de, jika kamu tidak percaya pergi tanya langsung ke Om Timo saja," papar Falens.

Falens kemudian membuka bungkusan satu permen itu. Dia berpikir mungkin karena melihat kebaikannya itu, Rio adiknya itu lantas menerima permennya. Dia kemudian memberikan permen yang sudah dibukanya itu ke Rio.

"Ini sudah dek, saya telah bantuin untuk buka kau punya permen," ujar Falens dengan pura-pura perhatian.

Rio langsung saja menghalau tangannya Falens, dan jatulah permen itu ke tanah. Dan mengenai debu yang di tumpuk oleh keduanya untuk dipakai bermain karet Ceha Kebok (Salah satu permainan karet gelang dengan cara sembunyi di debu)

Permen itu pun dikenai oleh debu, dan tidak bisa dimakan lagi. Rio menangis karena ulah kakaknya itu.

Ternyata si Se dan Ce udah dari tadi melihat pertengkaran kakak beradik ini.

Melihat permen yang jatuh itu, terasa kedua  semut itu mendapat rejeki yang tiada tara. Keduanya pun kemudian menggotong permen itu. Si Se dan Ce memang keduanya hidup saling berbagi dan sangat bahagia. Di antara para Semut yang lain.

Keduanya kemudian menggotong permen tadi ke tempat biasa mereka nongkrong yaitu di pohon asam.

Sambil melahap permen tadi, si Se mulai bertanya, "jika pada suatu hari akan terjadi musim kering di tempat tinggal kita, apa yang akan kamu lakukan"?

Dengan semangat si Ce menjawab, "aku akan pergi jauh, ke kota yang begitu banyak gula, dan berbagai kehidupan manis lainnya".

"Kenapa?" tanya si Se padanya.

Jawab si Ce, "karena aku tidak suka menunggu. Dan penyesalan seumur hidupku adalah aku bertahan di sini tanpa pergi dan mimpi burukku adalah berada di sini."

"Dan kamu, apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya pada si Se.

Dengan tenang si Se menjawab, "aku akan tetap berada di sini, aku akan berusaha memperbaiki situasi saat itu dengan baik, karena jikalau aku pergi, aku meninggalkan begitu banyak bekas dan kenangan yang seharunya tak ku lakukan, papar si Se sambil menguyah permen tadi.

Sambung si Se "maka dari itu akan menunggu hasil dari usahaku itu, karena aku mencintai semua yang ada disini, semua pengalaman, hari dan cerita di dalamnya sejak aku memulai untuk hidup".

Mendengar itu, si Ce langsung diam dan merenung kata-kata sahabatnya itu.

***
Begitulah hidup, begitu pula dengan kita, terkadang kita terlalu dikuasai oleh ego dan mimpi sesaat. Kita sering melupakan 3 hal yang sangat berharga dalam hidup;

1. Bertahan
2. Menunggu dan,
3. Mencintai segalanya & selamanya

Oleh: Yuliana Sulastri Halima 
Mahasiswa Universitas Udayana Bali