Cerpen: Impianku Pupus di Kota Madia
Cari Berita

Cerpen: Impianku Pupus di Kota Madia

MARJIN NEWS
29 March 2018

“Andai engkau tau alasan dari semua ini, engkau pun tak sembarang berbicara,” ucapku dalam hati. (Foto: Istimewa)
Tak terhitung entah berapa lama aku berdiri di sini. Sudahlah itu yang menjadi hitunganku dalam setiap waktu. Langkah pijakanku yang sepertinya semakin tak membekas, membuat aku berhenti berpikir untuk  terus melaju di kota ini.

Kota Madia yang katanya kota ‘kasih’ ternyata tak memberi ruang yang pasti untukku, mengejar sang impian yang dulunya kuincari. Lenggak-lenggok langkah harian, membawa harapan yang tak pasti. Berharap diakhir akan ada makna yang dituai, namun semuanya sirna ditelan arus sang waktu.

Lima tahun lamanya kakiku melangkah tanpa menuai hasil, semua berlalu begitu saja. Aku bagaikan barle yang tertata lepas pada emperan toko di Paris. Kesana-kemari diangkat, dilirik, namun tak satu pun yang dipilih. Aku cape, lelah bahkan malu karna itu semua. Bibir ini terasa keram  untuk menjawab berbagai leceh kata yang terasa bernikmat pedis.

“Dasar si pemimpi yang tak pasti, bagai anak jalanan yang berjalan tanpa tujuan. Sadarkah engkau akan waktu yang selalu kau lewati, kau buangi begitu saja? Percuma saja jika kamu tak paham  tentang waktu!” seruan itu sungguh terasa pedis.

“Andai engkau tau alasan dari semua ini, engkau pun tak sembarang berbicara,” ucapku dalam hati.

Andai kata rumah para pemimpi sudah teresmikan dengan hati, tanpa sebuah wacana yang cukup panjang. Aku pastikan tidak akan terjadi seperti ini.

Aku menyesal telah memilihmu, rumah yang dulunya akan membawaku pada sebuah impian ternyata pupus ditengah jalan. Kamu bak rumah yang tak bertuan. Kepada siapa aku harus melangkah. Kamu lepas begitu saja, membuatku bak anak jalang yang kian liar tak terawat. Tujuanku bukan untuk itu, aku datang untuk mencari jati diri yang sesungguhnya dan akan menjadi harapan hidupku dikemudian hari.

Ingatanku masih kuat tuan, dikala pertama kali aku masuk di rumahmu yang megah ini. Sapaanmu begitu hangat, mampu membuatku terlena. Ternyata semua itu obrolan singkat menarik simpatisan. Saya pernah bermimpi bahwa rumah ini menjadi tujuan bagi siapa yang datang, untuk menjawab segala impian. Berapa carik telah kusisipkan pada ransel, yang selalu kubawa kemana-mana  untuk menjawab setiap pertanyaanmu. Sepotong kertas kau berikan pada setiap tamu yang baru datang, sebagai data diri untuk menjadi bagian dari keluarga.

“Ah..., ini sudah harapanku, aku siap berjalan akhiri setiap impian ini,” gumamku dalam hati.

Wahai engkau universitasku, tempat yang kunamai rumah bagi segala pemimpi. Aku tak pernah bermimpi seperti ini. Kegagalan dan cibiran bukanlah permintaan dan tujuan utamaku datang kesini. Karya tulis disenja perjuangan yang akan kuberikan padamu, menjadi suatu gambaran dan lintas pengetahuanku yang telah kau berikan. Harapanku engkau mampu memberi aku secarik kertas dan sebuah topi, dikala kepalaku kepanasan menghadap mimbar kesuksesan.

Namun aku tak tau kegagalan entah milik siapa? Aku atau kamu, yang menjawab setiap mimpi. Sudahlah sang penguasaku, cukup aku mengelus dada meminta balik kerugian. Urusan waktu, biarkan aku sendiri yang mencari untuk kembali berjuang dan berjalan ke arah lain mengejar mimpi yang sudah tertanam.

Biarkan segala cibiran tetap terhembus bagai badai dimusim kemarau. Lecehan kata yang terasa pedis seakan memusnahkan segala impianku. Sudahlah semua telah terjadi, mimpiku masih menjadi hantu, selalu menghantui dan menghampiri bahkan menyuruhku untuk terus berjuang mencari dan menemukan jalan lain. Sebab tak ada tanda titik dalam sebuah mimpi, selain episode baru yang selalu diberikan.

Karya: Gordi Jenaru
Mahasiswa Fisip Undana Kupang