Ada Pasar Nganggur di Ruteng, Anggota Dewan: Itu Ada Karena Kerjanya Calo
Cari Berita

Ada Pasar Nganggur di Ruteng, Anggota Dewan: Itu Ada Karena Kerjanya Calo

9 March 2018

Pasar yang dibangun tepat disamping Ruko Sentosa, Ruteng oleh Pemkab Manggarai sejak tiga tahun silam itu dianggap mubasir.(Foto: RN)
Ruteng, Marjinnews.com - Pasar Rakyat yang terletak di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Mbaumuku, Kecamatan Langke Rembong kini menjadi perhatian dari masyarakat Manggarai.

Pasar yang dibangun tepat disamping Ruko Sentosa, Ruteng oleh Pemkab Manggarai sejak tiga tahun silam itu dianggap mubasir karena tidak bisa memberi pemasukan untuk mendongkrak PAD bagi Manggarai.

Pasar yang tujuan awalnya diberikan untuk warga guna menjual produk lokal, kerajinan tangan dan tempat usaha lainya nganggur, alias tidak ada pedagang yang mau menggunakannya.

Melihat kondisi seperti itu, Marselinus Nagus Ahang anggota DPRD Manggarai buka suara.

Menurut Ahang, nganggurnya pasar yang pembangunnanya memakai uang rakyat tersebut, ada dugaan bahwa stan-stan dipasar tersebut milik orang tertentu yang punya kepentingan.

Sehingga, pembagianya tidak tepat sasaran dan pedagang asli harus tersingkir karena tidak dapat jatah. Demikian kata Marsel Ahang ketika dihubungi Marjinnews.com pada Jumaat (9/3/2018) pagi.

"Yang menjadi penyebab stan-stan tersebut tidak ada yang mau menyewa atau mau beli karena ada calo diatas calo", tutur Ahang.

Ahang menegaskan, bahwa Pemda dalam hal ini Bupati sudah kebangatan salah dan harus bertanggung jawab.

"Bupati Deno harus bertanggung jawab atas nganggurnya stan-stan di pasar rakyat tersebut, karena setelah saya selidik semua stan tersebut memo Bupati", tegas Ahang.

Anggota DPRD dari fraksi PKS tersebut menjelaskan, jika diteliti nama-nama pemilik stan tersebut bukan asli pedagang, dan itu sudah syarat dengan praktek KKN.

"Sebagai anggota Dewan saya akan tetap berpihak pada para pedagang yang benar-benar butuh stan tersebut untuk berdagang, serta akan mencari bukti-bukti bahwa ada dugaan KKN disana", tutup Ahang. (RN/MN)