Wibawa Sang Pemilik Jalan

Bumi terus berotasi membikin senja berlalu. Cahaya matahari tak terlihat lagi, yang ada hanya gemerlap kelap-kelip lampu di gedung dan jal...

Bumi terus berotasi membikin senja berlalu. Cahaya matahari tak terlihat lagi, yang ada hanya gemerlap kelap-kelip lampu di gedung dan jalanan, menerangi gelapnya malam (Foto: Ilustrasi)
Senja kini mendapati bumi. Cahaya matahari yang kian memerah memeluk hangat muka bumi yang nampak murung mendapati alam yang sudah dirusaki manusia, cahaya keemasanya menampar gedung-gedung mewah menjulang tinggi.

Aku dengan secangkir kopi duduk berdiam dalam kesendirian, menatap langit dengan tatapan tiada arti. Mata sedikitpun tak berkedip. Bersiaga merekam gambar, lalu menyalurkannya ke otak untuk dimintai keterangan melalui saraf-saraf.

Otak lantas memberikan komentar “Hey, itu adalah gambar langit, berwarna biru dan cerah sekali. Lihatlah kemilau yang indah itu, itu namanya cahaya matahari. Sebentar lagi dia akan hilang dari penglihatanmu dan kembali nampak esok pagi. Bersiaplah, sebentar lagi malam segera tiba. Kamu tidak akan memberikanku gambar yang jelas karena gelap. Tapi tidak usah kawatir akan ada cahaya bulan dan bintang yang akan menemanimu nanti malam”.

Sementara itu, anggota tubuh yang lain bekerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Ada pula yang diam sambil siap siaga menunggu perintah selanjutnya dari otak. Semuanya bekerja secara spontan dan tersistematis. Begitu indah Tuhan menciptakan tubuh ini. Tentu saja melalui campur tangan kedua orangtuaku.

Bumi terus berotasi membikin senja berlalu. Cahaya matahari tak terlihat lagi, yang ada hanya gemerlap kelap-kelip lampu di gedung dan jalanan, menerangi gelapnya malam. Malam Minggu kali ini sudah tiba, ditandai dengan suara adzan yang kian meraung, memanggil umat muslim untuk kembali keperaduan Tuhan.

Aku yang sedari tadi berdiam diri lantas beranjak dari tempat dudukku setelah Otak yang teringat akan suatu hal bahwa pada pukul 19.00 nanti aku yang sudah berjanji untuk bertemu Sinta pacarku lalu memberi komando kepada anggota tubuh yang lain untuk bekerja mewujudkan itu.

Kaki diperintahkanya untuk memindahkan onggokan daging ini ke tempat yang dia inginkan, berjalan diantara himpitan tembok yang membentuk lorong didalam sebuah bangunan tua, menuju kamar tidurku, mengambil keranjang sabun dan handuk  lalu mengarahkannya ke kamar mandi.

Selepas itu, kembali ke kamar tidur untuk bersiap-siap. Setelah semuanya dianggap siap, otak mengarahkan seluruh tubuh ini untuk keluar dari kamar menuju ke halaman rumah. Menyalakan mesin motor dan melaju cepat melintasi jalanan rata berkelok-kelok, beradu kecepatan dengan kendaraan lain.

Di persimpangan jalan tepat disekitaran lampu rambu lalu lintas berdiri tegap pak polisi. Sang pemilik jalanan yang terlihat sedang memantau situasi jalanan. Dengan seragam kebesaranya juga peluit yang digenggam ditangannya, memastikan tak ada yang melanggar.

Priitt.. Bunyi peluit itu seketika mengalihkan perhatian. Bunyi yang juga isyarat dan perintah kepadaku untuk segera menepi ke bahu jalan. Ya tidak salah lagi, bunyi peluit itu memang ditunjukan kepadaku. Aku yang lugu tidak tau apa-apa menuruti perintah itu. Memperlambat laju kendaraan motor dan menepi. Dengan perasaan was-was dalam ketidaktahuan. Apa pula yang terjadi.

Seketika, tubuh tegap penuh wibawa dengan seuntaian gambar wajah yang menggambarkan dedikasi dan pengorbanan yang tinggi dari pria berkumis ini datang menghampiriku.

Seragam kecokelatan yang dibalut dengan rompi hijau terlihat samar dalam kegelapan malam menambahkan kewibawaan yang amat pada sesosok manusia yang nampaknya adalah keturunan Jawa tulen.

"Assalamualaikum. Selamat malam mas. Mohon maaf mengganggu perjalanannya​" logat jawa yang kental dari mulutnya terdengar seperti sebuah bisikan di tengah riuhnya suara kendaraan yang berlalu lalang hanya beberapa meter dari tempat kami berdialog.

"Walaikumsalam pak. Ini ada apa ya pak?" Jawabku kebingungan.

Tanpa bertele-tele, dia langsung menjelaskan panjang lebar beberapa peraturan lalu lintas seperti yang tertuang dalam UU nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Lebih tepatnya mengenai beberapa pasal yang merujuk pada pelanggaran lalu lintas. Sejujurnya baru tau persis tentang Undang-Undang ini. Setau saya, sesorang pengendara motor harus menggenakan helm, dilarang menerobos lampu lalu lintas, dan beberapa lagi. Selebihnya saya tidak tau.

"Jadi, ijinkan saya memeriksa surat-surat kendaraan motornya mas, beserta SIM, KTP dan persyaratan lainnya seperti yang saya jelaskan tadi " katanya diakhir penjelasan.

Aku telah melakukan banyak pelanggaran yang tidak aku ketahui berdasarkan UU nomor 22 Tahun 2009. Diantaranya Pasal 107  tentang kewajiban untuk menyalakan lampu utama, Pasal 68 ayat 1 yang mengharuskan setiap pengendara untuk membawa serta STNK, kemudian kewajiban untuk memiliki SIM pada pasal 177. Ditambah lagi dengan perlengkapan kendaraan seperti lampu sein kaca spion dan masih banyak lagi.

"Jadi, begini mas. Mas sudah banyak melakukan pelanggaran seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Untuk sementara waktu motor mas ditahan. Silahkan mengisi sebuah formulir ini -surat tilang-. Kalau mau motornya diambil, silahkan ke kantor dan ikuti persidangan” katanya lagi seraya menyerahkan sebuah formulir. Aku disuruh mengisi formulir itu. Sebelumnya aku sempat membela diri.

“Pak, aku benar-benar tidak tau akan aturan ini. lagian aturan ini bahkan tidak pernah disosialisasikan sebelumnya”

“Maaf mas, kami dari kepolisian hanya menjalankan tugas sebagai aparat penegak hukum. Bagi kami, apa yang sudah ditulis dalam Undang-Undang harus dipatuhi. Entah kamu tau tentang Undang-Undang atau tidak itu sama sekali bukan urusan kami”

Aku baru sadar kalau di negara kita menganut asas  fiksi hukum. Artinya adalah kita warga Indonesia dianggap tau akan hukum, tanpa terkecuali. Bagiku, ini sangat tidak masuk diakal. Undang-Undang yang sudah dibuat di negara kita berjumlah ribuan halaman. Dan kita semuannya dianggap tau akan hal itu. Diperparah lagi dengan minimnya sosialisasi ke masyarakat akan peraturan-peraturan itu. Oke.

Semua salinannya memang sudah dibagikan ke internet, tetapi bagaimana dengan masyarakat pedalaman yang tidak mempunyai akses internet, bagaimana pula dengan masyarakat kita yang buta huruf. Kita seperti berjalan di kegelapan sambil tutup mata dengan kain hitam. Kita tidak tahu, apakah didepan ada jurang atau tidak. Kita hanya akan tahu jika kita terjatuh kesitu. Ya, kurang lebih hukum kita seperti itu.

Aku benar benar tidak berdaya saat itu.

Kemudian aku ditariknya menuju ke tempat yang agak gelap lalu menjelaskan sesuatu, katanya urusan ini diselesaikan dengan damai tanpa melalui persidangan terlebih dahulu dengan membayar dengan uang.

Aku baru dengar tentang istilah jalur damai dalam urusan ini. Mungkin semacam mediasi sebelum menuju ke pengadilan atau apalah namanya. Entahlah. Dalam benakku, aku harus menemui pacarku yang sudah lama menunggu. Aku sudah janjian untuk ketemu malam ini. Aku tidak mau berurusan dengan kantor polisi.

"Bayar berapa pak?" Kataku seketika tanpa berpikir panjang

"Jadi gini mas, berhubung mas sudah terlalu banyak melanggar, jadi mas harus membayar Tiga Ratus Ribu”.

“Jancok” aku memaki dalam hati. Aku tidak punya uang segitu. Aku hanya memiliki uang Lima Puluh Ribu disaku.

“Pak, aku hanya punya uang segini” kataku seraya mengeluarkan uang Lima Puluh Ribu dari saku dan menyodorkan padanya

“Tidak bisa begitu mas” jawabnya

“Ayolah pak” aku sedikit memelas

“Ya sudah. Aku terima. Tapi lain kali, jangan ulangi lagi ya. ” katanya lagi sambil menerima uang yang saya sodorkan

“Terimakasih ya pak” kataku kepadanya

Aku kemudian berpamitan kepada beliau, menyalakan motor dan melaju menuju tempat pacarku menunggu.

Diperjalanan, saya memikirkan kejadian tadi. Saya merasa bersalah karena telah melakukan hal yang tidak terpuji. Aku telah melanggar hukum. Diperparah lagi, aku melakukan penyogokan, walaupun angkanya kecil tetap saja aku telah melakukannya.

Aku tidak tahu apakah harus berterimakasih kepada bapak polisi yang  tidak menahan motorku. Huh, Aku tidak mau peristiwa itu terulang lagi. Dari kejadian ini aku mendapat pelajaran berharga belajar UU itu perlu, sebelum berurusan dengan polisi.

Oleh: Beni Pankri
marjinnews.com Surabaya

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,45,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,157,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,259,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,352,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Wibawa Sang Pemilik Jalan
Wibawa Sang Pemilik Jalan
https://2.bp.blogspot.com/-BMi551b-n2g/WoW98uzbMLI/AAAAAAAAAqA/RuIuQqXJ3JMG-uyWYSkqMHUSfhswoaPnwCLcBGAs/s320/Polisi%2Bmarjinnews.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-BMi551b-n2g/WoW98uzbMLI/AAAAAAAAAqA/RuIuQqXJ3JMG-uyWYSkqMHUSfhswoaPnwCLcBGAs/s72-c/Polisi%2Bmarjinnews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/wibawa-sang-pemilik-jalan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/wibawa-sang-pemilik-jalan.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close