$type=carousel$cols=3

Wajah Politik Kita

Anarkisme, konflik, kekerasan, kerusakan lingkungan, banalitas politik, korupsi, keboongan, dan penyakit sosial lainnya tidak lagi diseles...

Anarkisme, konflik, kekerasan, kerusakan lingkungan, banalitas politik, korupsi, keboongan, dan penyakit sosial lainnya tidak lagi diselesaikan secara fragmentaris dan bersifat individu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama (Foto: Dok. Pribadi)
Wajah dalam tubuh manusia seperti halaman muka sebuah rumah. Santun dan tidaknya seseorang, ramah atau bengisnya seseorang, bisa dideteksi dari identitas tampilan wajahnya, dari raut mukanya.

Maka, misalnya, bagi filsuf kontemporer perancis, Immanuel Levinas, wajah menyimpan banyak makna. Pembenahan sengkarut politik dan kemanusiaan harus dimulai dari penataan wajah.

Wajah seagai roh untuk mewujudkan persaudaraan dan penggerak utama tergelarnya persatuan, perdamaian dan keadilan. Agar kehidupan menemukan kembali ontensitasnya, harus ada gerakan kembali kepada kita wajah itu.

Wajah sebagai ekspresi epifani ilahi. Wajah menjadi alamat utama keharusan kita memperlakukan orang lain dengan penuh respek dan rasa tanggung jawab. Wajah yang tidak membunuh dan nyiyir bagi mereka yang berlainan, baik keyakinan, budaya maupun etniknya.

Wajah memiliki lima rukun kebaikan utama; pertama, terbuka kepada siapapun  tanpa melihat asal usul sejarah dan budayanya; kedua, mengulurkan persahabatan yang ikhlas; ketiga, memberikan kegembiraan; keempat, bersikap lapang; kelima, memperlakukan satu dengan lainnya secara etis.

Lima rukun inilah pada giliranya yang akan membangun persekutuan yang solid sekaligus satu sama lain tanpa sungkan bekerja sama menghadirkan keadaban hidup. Perbedaan tak lagi di pandang sebagai ancaman, tetapi sebagai ancaman, tetapi sebagai kkesempatan unruk mendewasakan diri dan fakta sosila yang harus dikelola penuh keijaksanaan.

Anarkisme, konflik, kekerasan, kerusakan lingkungan, banalitas politik, korupsi, keboongan, dan penyakit sosial lainnya tidak lagi diselesaikan secara fragmentaris dan bersifat individu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Atau dalam istilah hans kung, tatanan dunia baru membutuhkan komirmen etik semua kalangan yang dijangkarkan pada ssemnagt dialog.

Wajah inklusif
Persolan wajah bukanlah sekedar kecakapn berbicara, keindahan merangkai kata, keelokan retorika yang membakar semangat massa ata kecermatan membrikan senyuman, mudahnya melelehkan air mata, atau jidat hitam karena dianggap sering bersujud. Ia lebih dari itu. Melampau semua itu.

Wajah sebagai saluran epifani ilahia menjadi media untuk melakukan transendensi kearah kehidupan yang beradab. Wajah menjadi lekat hubungannya dengan kesadaran rohaniah yang salah satunya dimanefestasikan dalam hidup yang toleran dan penuh kasih sayang.

Wajah harus punya kemampuan melampaui dirinya. Wajah yang bisa membebaskan diri dari sekapan egoisme, politik partisan, dan hal-ihwal yang bersifat diskriminatif, baik berhubungan dengan keyakinan maupun paham politik. Atau dalam istilah levinas ia terumuskan dalam ungkapan de i’evasion.

De evasion semacam proses pembebasan diri dari selubung sifat primitifnya, “katak dalam tempurung" , menuju wawasan baru yang lebih luas.

Dengan antaranya melihat "liyan" sebagai jalan kebaikan bersama (public good). Tidak sekedar melulu berbicara dan membicarakan dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana memosisikan orang lain dalam derajat yang setara.

Orang lain bukan objek yang bisa dieksploitasi secara sewnang-wenang atau dimobilisasi untuk kepentingannya, tetapi mereka adalah individu merdeka yang harus dihormati sebagai manusi seutuhnya.

Orang lain bukanlah bebek yang bisa diiringi dengan memanipulasi kesadarannya, tetapi mereka adalah manusia otonom yang harus diajak berbicara penuh kejujuran.

Buruk muka
Selama ini, diakui atau tidak, wajah dan perpolitikan kita justru menemukan gejala yang bopeng. Seringkali kita begitu cermat melihat wajah yang kita miliki dari cermin yang setiap hari dibawa, tetapi pada saat yang sama tidak bersedia menggunakan cermin lain, apalagi mau keluar melihat wajah orang lain dengan resppek.

Politik itu menjadi negatif kerena adanya sikap keengganan membuka diri. Orang lain dianggap berguna manakala bisa dijadikan sekedar konsituen, kader, atau dapat dipastikan menjatuhkan pilihan pada dirinya saat pemilu atau pilkada liyan dalam politik yang telah melenceng dari khitahnya melulu diposisikan lebih hanya “angka" yang bisa dikonversikan dengan "benda" dan kekuasaan, hanya “kartu penduduk" yang dapat dihimpun untuk melengkapi administrasi politik.

Maka dititik ini sesungguhnya awal mulanya transaksi politik. Politik uang berlangsung dengan marak dan barter kepentingan (kekuasaan) dilakukan tanpa merasa berdosa. Orang lain didekati bukan jiwanya, melinkan tubuhnya minimal lima tahun sekali atau saat reses.

Tubuh yang suudah dibeli itu yang kemudian digiring kelapangan untuk mendengarkan pidato dan kampanye politiknya yang sesungguhnya kalau dicermati bukan pidato politik, melainkan lebih menyerupai sebuah hasutan dan kebohongan yang dipanggungkan dengan gempita.

Demikian juga agama menjadi negatif ketika dikembangkan adalah teologi yang meneguhkan wajah diluar dirinya sebagi sesat bkafir, munafik dan sindik. Ditik ini teologi yang semestinya djangkarkan di atas haluan “ rahmatan lil alamin “ jadi menyemburkan aroma penuh kebencian, kesumat dan dendam.

loading...
Tidak ada lagi kesempatan untuk bercermin karena sejak awal yang diteguhkan adalah keyakinan dirinya sebagi surga dan liyan tak lebih adalah neraka. Surga yang ditanamkan dalam isi kepala itu ditanami akan semakin lapang  manakala liyan yang dipandang neraka itu terus menerus ditertibkan lewat teror, ancaman, pedang, dan kekerasan.

Di titik persimpangan wajah yang serba paradoksal ini, alih-alih  menimpakan kesalahan kepada diri sendiri, seperti dibilangg dostoyevsky, tetapi yang terjadi adalah terus menerus menyalahkan orang lain yang tak hentinya mengkhotbahkan kekeliruan kepada liyan sembari menyematkan jubah kesucian bagi diri dan kaumnya.

Orang lain sebagai alasan terjadinya kemungkaran. Orang lain pihak yang telah menjadi penyebab utama bagi terciptanya kebrobokan moral. Wajah angakara yang surplus kebengisan dan minus kesantunan inilah riwayat mutakhir wajah topeng politik dan keagamaan kita.

Awal tahun 2018, demi menyambut fajar keadaban , wajah seperti itu harus selekasnya ditanggalkan karena bukan saja  tak sesuai dengan nilai - nilai dasar Pancasila, melainkan juga bertentang dengan budaya ketimuran.

Oleh:Paulus A.R. Tengko 
Akktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Eksekutif kota Ende 


Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,211,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,94,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,39,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,135,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,433,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,3,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,27,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,4,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,6,Imlek,2,Indonesia,1,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,1,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,222,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,121,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,45,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,7,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,13,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,104,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,320,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,783,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,100,PKRI,1,PMII,1,PMKRI,21,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,31,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,14,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,3,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Wajah Politik Kita
Wajah Politik Kita
https://1.bp.blogspot.com/-4jhtbqwBIuc/Wo1KDykW_QI/AAAAAAAAC_0/-Bd9gxZ4CZQR7BNK2NwEL2E6jUoKR457ACLcBGAs/s320/LMND%2BEnde.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-4jhtbqwBIuc/Wo1KDykW_QI/AAAAAAAAC_0/-Bd9gxZ4CZQR7BNK2NwEL2E6jUoKR457ACLcBGAs/s72-c/LMND%2BEnde.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/wajah-politik-kita.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/wajah-politik-kita.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy