Valentine untuk Tuhan
Cari Berita

Valentine untuk Tuhan

13 February 2018

Sebelum Valentine dihukum mati, Valentine masih sempat menulis pesan kepada gadis kenalannya itu. (Foto: Ilustrasi)
Valentine’s Day telah menjadi satu momen yang membudaya di Indonesia, meskipun bukan merupakan budaya asli Indonesia.

Salah satu versi mengatakan bahwa Valentine’s Day berasal dari nama seorang Santo beragama Katolik Roma, yaitu Santo Valentinus.

Kisahnya bermula ketika raja Claudius II (268 - 270 M) mempunyai kebijakan yang melarang prajurit-prajuritnya untuk menikah. Menurut raja Claudius II, bahwa dengan tidak menikah maka para prajurit akan agresif dan potensial dalam berperang.

Kebijakan ini tidak dijalankan oleh Santo Valentine, bahkan seorang Valentine secara diam-diam tetap menikahkan para parujurit dan muda-mudi di kota itu.

Tidak lama berselang tindakan santo Valentine diketahui oleh raja Claudius, sang rajapun marah dan memutuskan untuk memberikan sangsi kepada Valentine yaitu berupa hukuman mati.

Sebelum dihukum mati, Santo Valentine digiring ke dalam sebuah penjara. Dan selama berada di penjara seorang Valentine berkenalan dengan seorang gadis anak sipir penjara, kemudian gadis ini selalu setia menjenguk valentine hingga menjelang kematian Valentine.

Sebelum Valentine dihukum mati, Valentine masih sempat menulis pesan kepada gadis kenalannya yang isinya:

'From Your Valentine'

Setelah kematian Santo Valentine, orang-orang selalu mengingat santo tersebut dan merayakannya sebagai bentuk ekspresi cinta kasih Valentine. 200 tahun kemudian yaitu tahun 496 Masehi setelah kematian Santo Valentine, Paus Galasius meresmikan tanggal 14 Pebruari 496 sebagai hari Velentine.

Itulah sejarah singkatnya, hari Valentine ternyata untuk mengenang dan memperingati orang suci Kristen Katolik yang mengorbankan jiwanya demi melayani kasih sayang orang banyak.

Setelah saya membaca artikel lain tentang sejarah valentine, ternyata ada banyak versi yang menyebutkannya. Tetapi, dari sekian banyak versi tersebut  saya menyimpulkan bahwa hari valentine tidak memiliki latar belakang yang jelas.

Namun tidak terlepas dari keadaan sekarang ini. Valentine's day tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dimana Hari Valentine bertepatan dengan Hari Raya Rabu Abu, 14 Februari 2018.

Setelah saya memahami arti dari valentine's day yang sebenarnya. Dari beberapa artikel yang saya baca, saya merasa bingung karena valentine identik dengan pesta kasih sayang, sementara Rabu Abu identik dengan puasa dan pantang; juga masa tobat.

Kedua hari ini sama-sama penting untuk dirayakan karena diakui resmi oleh Gereja Katolik. Hari Valentine kita memperingati St. Vallaksas sebagai seorang tokoh perintis kasih sayang, sementara Rabu Abu kita memulai masa tobat atau awal masa Prapaskah.

Apakah tetap berpesta kasih sayang di hari valentine ataukah kita harus fokus masa prapaskah?
Berikut ulasannya:

1. Menahan diri
Perayaan hari valentine dan Rabu Abu sama-sama penting. Tapi baru tahun ini setelah sekian lama, Velentine dan Rabu Abu jatuh pada hari dan tanggal yang bersamaan yakni hari Rabu, 14 Februari.

Mengingat kelangkaan ini, kita diminta untuk lebih mengutamakan awal masa prapaskah atau tobat dengan tetap berpantang dan berpuasa.

Pahamilah bahwa di hari itu juga seperti hari-hari lainnya dalam hidup kita, Tuhan melimpahkan kasih sayang-Nya yang tak terbatas terhadap diri kita masing-masing. Maka sebaiknya pula khususkan hari itu untuk mengunkapkan kasih sayangmu kepada Tuhan.

2. Berdoa dan masuklah dalam keheningan

Setelah memilih untuk lebih mendahulukan puasa dan pantang pada hari Rabu, 14 Februari nanti, kita bisa pergi ke gereja untuk mengikuti Misa Rabu Abu.

Anggap saja itu merupakan kasih sayang yang hendak kita ungkapkan bukan pertama-tama kepada orang-orang yang kita sayangi tetapi kepada Tuhan yang telah memberi kita hidup dan kasih sayang tanpa batas.

3. Kasih sayang dalam bentuk kerja nyata

Setelah mengungkapkan kasih sayang kepada Tuhan dalam Ekartisti Rabu Abu dan doa pribadi, sekarang giliran kita untuk mewujudkan kasih sayang kepada orang yang kita sayangi, tanpa harus dengan pesta pora.

Terlepas dari ketiga poin diatas menurut Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentine:

"Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Sato Valentine juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang di sebut 'penebusan dosa' (apolytrosis) dan "tempat pelaminan".

Dari pernyataan itu, saya dapat menyimpulkan tempat pelaminan yang dimaksud Hoeller merupakan kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya Valentine itu merupakan hari percintaan, bukan hanya kepada pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

Bagaimana dengan mereka yang masih jomblo dan belum menikah?
Kasih sayang terkadang bukan selalu tentang pujaan hati. Ungkapkan dengan meminta maaf kepada teman-teman atau orang tua jika pernah berbuat salah kepada mereka.

Untuk kaum jomblo, ini bisa jadi kesempatan untuk menunjukkan kepada “si dia” bahwa hati dan kasih sayang lebih besar dari yang dia kira.

Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka ataupun teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Kesimpulanya adalah merayakan valentine atau tetap berpuasa dan pantang pada 14 Februari? Saya lebih memilih untuk mengikuti prayaan Rabu Abu. Setelah beberapa kaitannya Rabu Abu menjadi ajang untuk bertobat dan di laksanakan dalam kurun waktu setahun sekali, sedangkan kasih sayang selalu kita dapat hampir setiap hari.


Oleh: Osth Junas
marjinnews.com Surabaya