Unkris Kupang Berbohong, Ribuan Mahasiswa Terancam
Cari Berita

Unkris Kupang Berbohong, Ribuan Mahasiswa Terancam

4 February 2018

Pihak kampus telah melakukan penipuan terhadap acesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT), untuk mendapatkan akreditasi B. (Foto: Ilustrasi)
KUPANG, Marjinnews.com - mahasiswa fakultas Teknologi dan Pertanian Program Studi Mekanisasi Pertanian (Keteknikan Pertanian) Universitas Kristen Artha Wacana Kupang NTT, nasibnya ‘terancam’.

Pasalnya, sejak fakultas tersebut dibuka, pihak universitas tidak menyiapkan peralatan laboratorium sesuai yang dipromosikan pihak kampus diawal penerimaan mahasiswa.

Selain itu, pihak kampus telah melakukan penipuan terhadap acesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT), untuk mendapatkan akreditasi B.

“Sejak fakultas ini berdiri, tidak ada alat laboratorium seperti yang disampaikan pihak kampus saat masuk pendaftaran kulia,” ungkap North Lewi Mule Mahasiswa Fakultas Teknologi dan Pertanian Unkris, Sabtu (3/2/2018).

North mengatakan, selama ini pihak kampus menggunakan alat laboratorium milik Politani Negeri Kupang yang dipinjamkan. Sementara, setiap tahun setiap mahasiswa membayar uang laboratorium sebesar Rp 200 ribu. Tidak hanya itu, pihak universitas setiap tahunnya mengalokasi anggaran pengadaan alat laboratorium senilai Rp 120 juta (untuk tahun 2018).

“Alat labor itu dipinjam dari Politani. Tiap tahun kita bayar Rp 200 ribu. Jadi kampus tipu acesor untuk akreditasi dan kami juga ditipu. Kami gelisah nanti setelah tamat mau kerja apa. Kami semester tujuh saja belum pernah pegang dan tahu alat labor,” kata North dan Jhony V. Lelangulu.

Jhony mahasiswa semester 7 ini mengatakan, pihak kampus harus segera bertanggung jawab atas hal tersebut, karena telah melakukan penipuan publik.

“Kampus terutama fakultas harus bertanggung jawab. Ini tipu namanya,” tegas Jhony.

Lanjutnya, bahkan pihak kampus melakukan tekanan kepada para mahasiswa untuk tidak melakukan aksi terkait hal ini.

“Mahasiswa yang lain ditekan untuk tidak aksi. Diancam tidak diberi nilai, jadi ada yang ikut, ada yang takut,” pungkas Jhony. (RN/MN/LN)