$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

Teruntuk Yang Kurindu

Ayah, aku mencintaimu, aku merindukanmu sejak dari engkau meninggalkanku. Aku berharap ayah melihat perjuanganku disini, aku berharap ayah merestui setiap usahaku disini (Foto: Istimewa)
"Mendengarkan suara dan melihat senyummu di tengah keluarga ini adalah keinginan terbesarku. Rinduku akan engkau terus membara dalam diriku dan merasuki pikiranku. Aku merindukan engkau hadir dalam mimpiku, aku merindukan engkau memanggil “Maria” yang adalah namaku. Dan aku ingin agar engkau mendengar langsung kata ”ayah” keluar dari mulutku".

Kututup lembaran diary biruku dan merebahkan diri di atas kasur. Anganku terbang kembali ke masa laluku. Ke masa-masa saat aku baru menginjak usia 5 tahun.

“Ibu, aku merindukan ayah!’’ kataku pada ibu ketika aku menemaninya sore itu di kebun. Ibu menoleh ke arahku. Raut mukanya menjadi sedih. Ia tidak menggubrisku, tetapi kembali melakukan pekerjaannya.

“Ibu, aku rindu ayah!” aku kembali berkata pada ibu. Ibu tetap tidak menggubris kata-kataku. Ia hanya terdiam tanpa kata. Diambilnya keranjang dan parang yang ada di dekatku kemudian menarik lenganku, lalu berjalan pulang. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi. Ada duka dan kesedihan yang terlukis disana.

Dalam perjalanan, tak ada suara yang keluar dari mulut ibu, hanya desahan nafas dan irama langkah kakiku dan langkah ibu yang terdengar. Bibirnya pun seakan terkunci karena kata-kata yang kuucapkan barusan, seolah-olah kalimat yang keluar dari mulutku mengandung arti yang menimbulkan luka di hatinya.

Dan aku! Aku tak ingin mengganggu ibu lagi dengan pertanyaan konyolku. Aku tak ingin kesedihan terus melanda ibu. Yang kulakukan  hanyalah  menggenggam erat jemari tangan ibu dan sesekali menggigit kuku tanganku. Kadang-kadang pula aku menendang kerikil kecil yang menghalau jalanku sebagai pertanda bahwa aku bosan bila hanya terus diam.
***
Namaku Maria. 2 bulan lagi aku akan berusia 24 tahun. Bisa dikatakan aku masih berusia muda. Aku bungsu dari 3 bersaudara. Kakak sulungku adalah seorang perempuan yang terpaut 9 tahun usianya denganku, sedangkan kakak keduaku laki-laki yang usianya terpaut 5 tahun denganku.

Kedua kakakku sudah menyelesaikan studi mereka dan sekarang sudah kembali bekerja di kampung. Mereka berdualah yang menemani ibu disana. Sedangkan aku, setahun setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas, aku merantau ke kota ini. Kota yang penuh dengan kebisingan dan godaan duniawi yang menggiurkan.

Aku merantau demi untuk menggapai cita-citaku menjadi seorang guru seperti ayahku dan membuat ibu dan kedua kakakku bangga terhadapku. Aku rela meninggalkan ibu dan kenangan-kenangan indahku selama di kampung halamanku. Aku rela dipisahkan oleh ruang dan waktu dengan keluargaku.

Sudah sekian tahun aku disini, tak pernah pulang untuk menjenguk ibu dan kedua kakakku. Bukan karena aku tak merindukan mereka sehingga aku tak pernah pulang. Tapi karena aku belum memenuhi keinginan ibu untuk membawa sesuatu yang membanggakan mereka. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tak akan pulang sebelum aku memperoleh apa yang ibu inginkan. Aku juga ingat pesan ibu sebelum aku datang kesini.

Ibu pernah berkata "Maria, Pergilah raih impianmu dan pulanglah membawa sesuatu yang bisa membahagiakan dan membanggakan ibu dan kedua kakakmu. Janganlah mengecewakan ibumu”. Dan ketika aku berpikir untuk pulang, maka pesan ibu akan kembali merasuk pikiranku.

Namun kini! aku bersyukur kepada Bapakku, sebab sebentar lagi rindu akan ibu dan kedua kakakku akan terobati. Beberapa bulan lagi aku akan menyelesaikan studiku. Aku bisa pulang dan  berkumpul bersama mereka lagi. Aku tidak perlu lagi bercengkrama dengan mereka lewat telepon genggam yang selalu bertengger dalam saku celanaku. Aku akan bisa menyulam kembali kenangan-kenanganku bersama ibu juga bersama kedua kakakku.

Aku terlalu mencintai ibuku, lebih dari aku mencintai diriku. Bagiku ibu adalah matahari yang selalu memberikan cahaya dalam setiap gelap hidupku, beliau adalah mutiara yang selalu bersinar dalam rumah kami. Beliau bagaikan air penghilang dahaga di tengah panas yang membakar.

Beliau adalah seorang yang sabar dan lembut hati. Tak pernah namanya ibu menunjukkan sedihnya depan kami, ataupun menunjukan bahwa hatinya rapuh oleh duka yang menyelimutinya. Ibu selalu tegar dan kuat depan kami.

Pernah di suatu malam setelah sekian bulan ayah pergi untuk selamanya, aku melihat ibu meneteskan air mata dan mengeluh di depan patung Yesus,  ia mengeluh karena Bapa masih membiarkan dia merindukan kekasih hatinya yang telah Dia ambil dari tengah keluarga kami, ia mengeluh karena Bapa membiarkan ibu terkungkung dalam sedih dan duka selama berbulan-bulan.

Ia tidak mengeluh karena kami anak-anaknya, bahkan ibu menyelipkan doa untuk kami dalam pertemuannya dengan Bapa kala itu:

"Bapa Yang Maha Baik, kuserahkan nama-nama anakku kepada-Mu, genggamlah erat jemari mereka, andai saatnya aku melepaskan mereka. Jagalah dan lindungilah selalu mereka. Berikanlah mereka keberanian untuk menghadapi ketakutan dan kesepian yang suatu saat akan mereka hadapi, kuatkanlah mereka dalam menghadapi dunia yang penuh dengan godaan, mampukanlah mereka menghadapi dunia yang semakin kejam, biarlah segala penderitaan mereka Engkau hapuskan. Berilah kemudahan bagi mereka dalam menggapai cita-cita mereka. Biarlah mereka menjadi yang terbaik dalam kehidupan mereka selanjutnya, Amin.”

Aku menangis saat melihat ibu saat itu "Aku mencintaimu ibu, aku berjanji akan menjadi yang terbaik dan membanggakanmu”, gumamku.

Tentang ayahku yang selalu kurindukan, sudah 18 tahun ayahku pergi meninggalkan kami berempat. Beliau meninggalkanku saat aku masih berusia 5 tahun, saat aku masih belum sepenuhnya merasakan kasih sayang seorang ayah. Sebuah penyakit yang diderita ayah telah membunuhnya dan membuatku terpisah darinya.

Dia pergi ke tempat yang tak bisa kujangkau sekarang ini, ke tempat yang abadi dan penuh dengan kebahagiaan. Dia pergi meninggalkan ibu yang adalah kekasih terhebatnya yang adalah mutiara abadinya, dia pergi meninggalkan mereka yang mencintainya dan yang pasti dia pergi meninggalkanku.

Sekian minggu setelah kepergiannya, barulah aku merasa kehilangan. Saat-saat itulah rasa rinduku pada ayah menggebu dalam dadaku. Rindu melihat senyum dan tawanya, rindu ketika setiap pagi ia membagikan segelas kopi hitamnya denganku, rindu bercerita dengannya. Dan kini senyum dan tawa itu hanya  bisa kulihat pada lembaran berbingkai yang kupajang di tembok kamarku.

Kini! Walaupun 19 tahun sudah berlalu, aku masih merindukan sosok ayahku. Aku ingin sekali menggenggam jemarinya, menyentuh kulitnya,  berbagi cerita dengannya, dan  melihatnya tertawa bahagia dengan ibu.

Aku ingin mendengar nasihatnya, dan ingin sekali lagi melihat seperti apa ekspresi wajah ayah ketika marah. Dahulu pernah ketika waktu aku masih berusia 4 tahun, saat ayah masih ada di tengah kami, beliau marah padaku karena tingkahku yang cengeng dengan ibu, tetapi ingatanku tentang itu masih samar-samar, jelasnya kakakku dan ibu yang sering menceritakannya padaku.

Mereka juga sering bercerita bahwa ayah itu orangnya keras dan tegas, tetapi ayah adalah tipe penyayang. Ayah selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri, tak pernah ada kata manja dalam kamusnya. Ayah juga punya jiwa kepemimpinan yang besar, pembicara yang handal, dan tipe pekerja keras. Dia cukup berpengaruh di kampung halamanku.

Tak jarang ayah dipercayakan untuk menjadi pemimpin dalam beberapa pertemuan di gereja, sekolah tempatnya bekerja, maupun dalam urusan desa. Pokoknya ayah adalah yang terhebat bagi keluarga kecil kami.

Rasa iri terkadang timbul dalam diriku bila kedua kakakku bercerita tentang ayah. "Mengapa mereka merasakaan kasih sayang ayah lebih dariku? mengapa bukan aku yang lahir lebaih dahlu dari mereka?” pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikiranku.

Bukan hanya dengan kedua kakakku aku sering merasa iri, tetapi juga dengan teman-teman sepermainanku di sekolah. Setiap memasuki Natal atau Paskah, atau saat mereka mendapat rangking dalam kelas, mereka sering bercerita bahwa  ayah mereka memberikan mereka hadiah, membelikan mereka  baju baru, sepatu baru.

Kadang juga sering kulihat teman-temanku bergelayut manja di lengan ayah mereka, tertawa dan bercanda bahagia saat bersama ayah mereka.

Pemandangan yang menyakitkan untukku!
Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai mengerti bahwa tak ada gunanya aku iri dengan kedua kakakku atau pun dengan teman-temanku, toh itu tidak akan membangunkan ayah lagi atau mengembalikan ayah kepadaku. Biarlah semuanya berjalan seperti yang seharusnya cukuplah rindu ini yang menggebu dalam dada.

***
Alarm di handphone berdering. Kulirik jam di layar samsungku, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WITA. Hmmmm!!Ternyata cukup lama juga aku terhanyut dalam kisah masa laluku dan tentang ingatanku akan ayah,  hingga tak terasa malam sudah sangat larut. Kubangun dari temapt tidurku, kuambil skapulir yang terlingkar dileherku dan kemudian kulingkari di tanganku yang terkatup.

Aku memejamkan mataku, membawaka diriku dalam keheningan bersama Bapa. “Atas Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin”. Dalam heningnya malam, aku mempersembahkan permohonanku pada Tuhan. Tak banyak yang kuminta malam ini. Aku hanya meminta agar Bapa melindungi Ibuku yang saat ini mungkin sedang merindukanku dan mengharapkan aku cepat pulang agar ku bisa bercerita tentang bahagia dan sedihku padanya.

Agar Bapa menyertai kedua kakakku dan selalu diberi kesuksesan dimanapun mereka bekerja, dan yang terakhir aku berdoa bagi Ayah agar mendapat tempat yang layak di sana. Agar ayahku tercinta mendapat tempat terindah yang abadi disana dan agar ayah menjadi pendoa untukku dan untuk keluarga kecil kami..

***
Di jam 11.26 WITA, aku kembali merebahkan diriku diatas tempat tidur, kupejamkan mataku dan bersiap menuju ke alam mimpi. Satu harapanku sebelum aku terlelap, aku berharap di alam mimpi nanti aku bisa bertemu ayah, menggenggam erat tangannya, tersenyum manis padanya, dan mendengarkan dia menyebut nama “Maria” yang adalah namaku.

Dan berharap agar aku bisa berkata pada ayah: "Ayah, aku mencintaimu, aku merindukanmu sejak dari engkau meninggalkanku. Aku berharap ayah melihat perjuanganku disini, aku berharap ayah merestui setiap usahaku disini. Dan aku ingin memberitahumu bahwa sebentar lagi aku akan menyelesaikan studiku di kota ini, aku ingin memberitahumu bahwa ibu telah berhasil membesarkan kami dengan cintanya dan dengan cinta yang telah engkau tinggalkan untuknya. Ayah, aku akan selalu merindukanmu selalu dan selamanya.”

Untukmu yang kini telah berada pada keabadian

Oleh: Mita Barung


COMMENTS

Name

Artikel,141,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,160,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,3,BPJS,1,Budaya,38,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,183,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,579,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,38,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,280,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,50,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,114,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,71,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,294,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,258,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,419,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,20,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1148,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,38,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,88,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,20,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,71,Sumba,8,Surabaya,35,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,48,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,14,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Teruntuk Yang Kurindu
Teruntuk Yang Kurindu
https://1.bp.blogspot.com/-NTBAvKwiZk0/WnijdeS3lAI/AAAAAAAAAh4/_sahpfruNWQlayT8GCZBm4yNpxyRPpjjwCLcBGAs/s320/bapak-dan-anak-putri%2Bmarjin%2Bnews.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-NTBAvKwiZk0/WnijdeS3lAI/AAAAAAAAAh4/_sahpfruNWQlayT8GCZBm4yNpxyRPpjjwCLcBGAs/s72-c/bapak-dan-anak-putri%2Bmarjin%2Bnews.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/02/teruntuk-yang-kurindu.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/teruntuk-yang-kurindu.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close