Sengketa Lahan, Bupati Mabar: Kami Perlu Berhati-Hati Dalam Berkomentar
Cari Berita

Sengketa Lahan, Bupati Mabar: Kami Perlu Berhati-Hati Dalam Berkomentar

12 February 2018

Gusti Dula Bupati Manggarai Barat, ketika dihubungi via pesan Whatsapp mengatakan bahwa dirinya sebagai Bupati harus lebih berhati-hati dalam berkomentar. Sebab banyak pendapat yang mengklaim sebagai pemilik dari lahan ini. (Foto: Istimewa)
Labuan Bajo, Marjinnews.com. Sengketa kepemilikan lahan seluas 30 hektar di Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, akhirnya pemimpin tertinggi wilayah itu angkata bicara.

Gusti Dula, Bupati Manggarai Barat, kepada Marjinnews.com mengatakan, bahwa dirinya sebagai Bupati harus lebih berhati-hati dalam berkomentar terkait polemik lahan yang sekarang ramai dibicarakan. Menurut Dula,  Sebab banyak pendapat yang mengklaim sebagai pemilik dari lahan ini.

Bupati Mabar dua Periode itu menjelaskan, maksud dari berhati-hati itu ialah agar Pemkab Mabar tidak salah masuk dalam hal sengketa lahan seluas 30 hektar itu.

Dirinya pun ingin ada pihak yang menggugat Pemkab Mabar dalam hal ini sebagai pihak pemilik dari lahan yang disengketakan itu.

Hal itu disampaikan Dula, sebab Pemkab Mabar telah mengajukan permohonan sertifikat atas tanah tersebut namun ditolak oleh BPN. Serta Adam Djudje juga semakin ngotot untuk mengklaim lahan itu sebagai miliknya maka, perlu langkah konkrit yang di ambil yaitu Pemkab Mabar perlu hati-hati dalam berjuang untuk memiliki lahan tersebut. Tandasnya.

Tambah Dula, sebagai petunjuk lahan dari Dalu maka Adam Djudje pasti tau juga sejarah tentang lahan itu. 

Dula menegaskan, untuk diketahui juga lahan yang dimaksud itu ialah bukan di Torro Lama Batu Kallo. Jadi perlu pencermatan lagi. Pungkasnya.

Ketika ditanya apakah Pemkab Mabar sedia jika masalah ini dibawah ke ranah hukum. Bupati Dula menjawab, Adam Djudje harus tetapkan dulu tanah yang pernah di tunjuk oleh nya bersama teman-temannya dulu kepada Pemda Mabar.

Untuk diketahui juga bahwa kasusu lahan yang terjadi di Kelurahan Labuan Bajo, Manggarai Barat itu juga menyeret nama Staf khusus Presiden Goris Mere, dan Jurnalis senior Karny Elyas.

Hal itu disampaikan oleh mantan Camat Komodo era tahun 1990 Anton Nusa Batan.

Anton menuturkan, pernah juga Muhamad Acyar bersama Gories Mere mendatangi kediamannya, dan memberitahukan bahwa tanah seluas 30 hektar itu milik mereka.

"Dan saya katakan, saya belum bisa pastikan bahwa itu tanah milik kalian. Karena jawaban saya demikian, mungkin mereka terburu-buru langsung mereka pamit," ujar Anton. (RN/MN)