Selamat Jalan Adelina Sau
Cari Berita

Selamat Jalan Adelina Sau

20 February 2018

Hai wanitaku yang sudah di alam sana. Tak dapat kuungkap kesedihan ini. Kau begitu tulus ingin merubah nasip keluargamu dan memutuskan untuk merantau ke negeri tetangga. (Foto: Ilustrasi)
Kutuliskan ini saat malam beku. Sepi mengisi seluruh ruang kamarku sedangkan di kepala ini masih berputar cerita tentangmu.

Sehabis membaca sebuah koran di dalam kereta sepulang kerja, lalu sedikit berdiskusi dengan orang yang tak ku kenal pada perjalanan itu.

Begitu dalam kata-katanya menyihir ingatanku,”Dia terkurung di dalam kandang anjing. Hidup berdampingan dengan binatang itu. Entah itu telah menjadi temannya. Ia mendekam di sana sebelum dijemput ajal.”

Aku tidak tau siapa dirimu. Kita memang sama-sama terlahir di bumi NTT. Tapi aku tak mengenalmu, seperti apa rupamu, cita-citamu. Ya, kau seorang putri NTT yang tak kukenal. Koran membuat aku mengenalmu.

Hai wanitaku yang sudah di alam sana. Tak dapat kuungkap kesedihan ini. Kau begitu tulus ingin merubah nasip keluargamu dan memutuskan untuk merantau ke negeri tetangga.

Kepergianmu ke negeri Jiran melalui jalur illegal adalah suatu keputusan yang berani. Calo seperti buaya yang lapar mengambil kesempatan itu. Mereka tanpa sedikit rasa kemanusiaanpun telah menjualmu, tanpa kau tahu.

Pada hal seharusnya kamu seperti remaja sebayamu menikmati  indahnya hidup. Duduk di bangku kuliah, bercengkerama dengan keluarga atau entah kemana.

ADELINA SAU, Aku tau saudaraku engkau pergi karena di hantui buruknya ekonomi. Daerah kita memang  terpuruk dalam kemiskinan. Wilayah kita sering berada di daftar paling atas dalam statistic kemiskinan negeri ini.

Aku tau itu pula yang membulatkan niatmu untuk merantau. Itu adalah tindakan yang mulia, sama halnya diriku yang hidup di tanah perantauan. Aku yakin saudaraku niat dan tujuan kita sama, hanya ingin membuat kedua orang tua kita tersenyum bahagia.

Aku pernah berfikir saudaraku siapa yang harus bertanggung  jawab dalam pembenahan ekonomi  di daerah kita? kenapa penerus bangsa ini harus berserakan di  negeri orang?

Ada apa dengan sistem di Negara kita saudaraku kenapa penimpangan ekonomi sangat kontras, kemana mereka yang memwakili kita saudaraku apakah mereka masih nenyak menikmati mimpi yang indah atau masih di Eropa orang untuk liburan?

Pada hal kita punya SDA yang sangat kaya tetapi mereka yang masih duduk manis di sofa yang empuk belum bisa melakukan pembenahan atau memanfaatkan SDA ini untuk kita. Hanya segelintir klompok yang bisa menikmatinya saudarku.

Sebentar lagi pasti mereka akan memberimu julukan pahlawan devisa Negara, apakah nanti ada lagi yang senasip  sepertimu dan pemerintah dengan garangnya memberi julukan yang sama?

Lalu  seterusnya begitu tanpa melakukan tindakan pembenahan.
“Au loim fain” (aku ingin kembali),terikanmu sebelum dirimu pergi bertemu bapa di surga kata-kata itu menggambarkan begitu rindunya  akan sebuah pertemuan.

Akan pelukan hangat dari kedua orang tuamu dan ucapan selamat datang dari sanak saudaramu. Tetapi kerinduan itu sebatas kisah pilu tentang kesengsaraanmu.

Kalau saja engkau masih hidup mungkin dirimu akan melarang semua saudaramu untuk tidak lagi pergi ke luar negeri. Kisahmu menyadarkan semua orang tentang pahitnya di negeri sebrang.

Doa-doa kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar engkau mendapat tempat yang layak di sisinya. Beristirahtlah dengan tenang,ceritamu akan menjadi PR besar di Negara ini yang katanya menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM).

Tuhan tidak  menutup mata atas apa yang mereka lakukan terhadap dirimu biarlah hukum yang akan menjawab semuanya.
Trimakasih sudah menjadi contoh kecolongan di negeri ini,walaupun dirimu menjadi korban kekejian praktek human trafficking yang masih marak terjadi.

Sengsaramu sudah selesai  hidup kekal bersama para kudus di surga. Slamat jalan saudaraku.

Oleh:Emanuel Odi - Marjinnews Jakarta