$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

Sebet, Bara Cinta Ala Anak Ruteng

Namun, aku merasa hanya digunakan sebagai pelengkap status saja agar tidak berpredikat lajang. Aku hanya patung yang digunakannya untuk menunjukan bahwa dia juga suka laki-laki dan normal (Foto: Istimewa)
Aku bosan ketika harus membaca setiap status Sebet Dj. pada dinding facebooknya. Semua dipenuhi kata mutiara. Penuh dengan puisi membosankan. Penuh dengan laporan suasana hati yang menjengkelkan. Mau mandi juga dia lapor. Mau tidur juga lapor. Kecapaian juga orang harus tahu. Huft. Tulisannya penuh dengan tanda baca yang membingungkan. Penuh dengan kata-kata yang ditulis sesuka hati. Dia pikir semua orang akan membacanya dan teman-teman akan memberi komentar yang akan selalu membuatnya senang.

Jujur. Aku jarang mengomentari statusnya. Aku bahkan tidak pernah membalas apapun pesannya. Atau juga tautan yang ia tandai sebagai namaku. Apalagi banyak catatan yang ia buat hanya membuat aku muak dengan kata-kata puitis dan kalimat-kalimat kutipan. Atau juga foto-fotonya yang aneka pose. Dari yang rada-rada centil sampai yang sok-sok dewasa. Muak. Bosannn.

Sebet membuat aku menjauhi Facebook, karena fb malah membuat aku menjadi semakin asing darinya. Hari-hari kami bertemu sebagai sepasang laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta, jalan bersama, makan bersama, belajar bersama. Namun nyatanya hubungan itu adalah sebuah keterasingan. Perjumpaan adalah sebuah kehambaran. Dia malah lebih cuka chatting lewat fb. Atau berkomentar omong kosong pada dinding fb. Pacaran model begini adalah suatu kebodohan. Tepatnya kebohongan. Sebuah tanda Tanya besar.

Apa sebenarnya yang ia cari. Ketika aku mengajaknya bicara ia malah sibuk dengan hp samsungnya. Atau ketika aku memintanya untuk mendengarkan curahan suasana hatiku dia malah mendengarkan ipod-nya. Aku sudah muak berhubungan dengan gadis itu. Memang dia cantik. Anak pejabat. Berasal dari keluarga yang punya reputasi bagus. Dia pintar. Berkuliah di sebuah perguruan swasta yang mahal. Punya kenalan yang banyak. Bakat banyak. Pokoknya komplit deh untuk ukuran indonesia.

Namun, aku merasa hanya digunakan sebagai pelengkap status saja agar tidak berpredikat lajang. Aku hanya patung yang digunakannya untuk menunjukan bahwa dia juga suka laki-laki dan normal. Apalagi aku sedikit kena dengan kriterianya.

Aku harus memutuskan permainan yang konyol ini. Memang dulu aku begitu menggebu-gebu mengejar dia. Seolah-olah hanya dia perempuan di kolong langit. Namun sekarang ketika tahu tabiat dan peringainya yang begitu lebih baik aku mengungsi ke lain hati. Toh… belum ada komiten apa-apa antara kami. Belum ada janji yang terpatri. Yang ada hanya basa-basi pelengkap percakapan harian.

“Tom, Kawin yuu.”
Aku bilang padanya. “Ebeet beta ni anak kere. Sekolah saja pake biaya orang. Apalagi mo nikah. Mau belis pake apa co? Apa lu mau hidup susah??”
“Ehh..takut ya..sulit apa sih kawin.”

Cara bicaranya memang seperti itu. Sebet. Sebet.
Yang membuat aku bertahan berpacaran dengan dia sekarang hanyalah karena aku tidak mau mengakhiri apa yang aku mulai dengan sebuah pengorbanan. Saya bilang pengorbanan karena dulu saya sampe tidak mau ikut tes tentara gara-gara sebet bilang dia tidak bisa hidup tanpa saya. Mati dehh.

Sewaktu cinta monyet zaman SMA kata-kata seperti ini begitu menyentuh hati. Sampai-sampai harus memutuskan untuk menjadi seperti ini. Kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di  jakarta sebagai seorang calon sarjana kesehatan masyarakat yang belum tentu akan lulus jika tes pegawai negeri.

Aku memang tidak terlalu menyesal ‘coz merasa aman-aman saja setelah tak jadi masuk tentara. Kupikir aku bakal dikutuk karena tak mematuhi pesan almarhum nenek. Mungkin siksaannya sekarang bahwa aku terus menjadi budak cinta sebet. Entah sampai kapan.

Aku memang orang yang tinggi mimpi. Aku hanya seorang dropout SMA negeri di Manggarai. Keluar pas mau naik kelas 1. Aku juga hanya seorang anak yatim dari sebuah gang tersudut di kota Ruteng. Merantau ke jakarta karena sebuah LSM yang dikepalai salah satu kerabat rela membiayai kuliahku. Jadilah aku meninggalkan mama dengan 2 orang adik yang masih duduk di kelas 5 SD dan 2 SMA.

Aku anak sulung. Jadi, banyak beban yang harus aku tanggung nanti. Aku pantas bersyukur kepada Tuhan karena meski  ibukuhanya seorang petani, toh aku bisa berkuliah. Otakku pun lumayan encer. Apalagi soal penampilan. Wajahku good-looking-lah. Ayahku orang Jawa rantauan dan mamaku orang Manggarai asli.

(Sayang, ayah terlalu cepat pergi. Ia meninggal karena kecelakaan di laut saat ia masih bekerja di sebuah perusahaan pengumpul kerang mutiara di Labuan Bajo). Wajahku adalah campuran Jawa dan Manggarai. Mungkin karena percampuran yang mengagumkan itu saya jadi begini. Hehe.

Aku mengenal Sebet sejak aku pindah ke satu SMA sewasta di Ruteng. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Awalnya sebuah cinta monyet. Dari cinta yang kemonyet-monyetan sampai betulan seperti sekarang. Sebet memang tidak nekat seperti gadis lain. Artinya kalau pacaran berarti harus bersetubuh. Kami sering bersama dalam kesendirian.

Tapi, tidak menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Aku selalu alergi dengan kata ‘hamil’. Meski tidak pasti juga kalau pakai ‘helm pengaman’. Pokoknya pertemuan rutin sepasang manusia yang berpacaran hanya dilalui dengan kecup-kecap ringan tidak lebih dari itu. Pernah nyaris lari lewat namun aku segera disadarkan oleh gonggongan anjing pemilik kos.

Tugasku tiap hari selain kuliah adalah bantu di LSM KK. Selain itu tugas menjemput dan mengantar sebet menjadi kegiatan lazim. Entah dari tempat kuliah ke kos. Kos ke tempat kuliah. Dari kos teman ke sudirman Mall. Dari mall ke perpustakaan kota. Dan kemana lagi. Ke pantai ancol yg air lautnya macama semburan oli kotor, bioskop xxxl sudirman, kebun teh bogor. KFC. Mick donalts.

Macam-macam. Ke mana lagi ya. Ya…saya ingat ke taman mini . Pokoknya ikut dia saja. Ada sisi enaknya juga berpacaran dengan dia. Karena dia anak orang kaya. Jadi dia tidak sungkan-sungkan untuk membelikan saya makanan, baju, pulsa dan rokok. Sampai-sampai CD pun dia belikan. Kos kami dekat. Hanya berjarak 15 meter satu sama lain. Kalau mau dihitung aku banyak berhutang pada perempuan itu.

Sebet, memang membingungkanku!!! Ia banyak dekat dengan laki-laki lain bahkan suka memeluk dan mencium mereka. Meski hanya peluk dan cium persahabatan ala anak hip-hop. Tapi aku merasa tak nyaman. Dia beraksi seperti artis sinetron yang suka cap-cup dengan sesama artis. Dia pikir aku ini batu. Jadi tidak perlu cemburu. Gila e tu perempuan. Kalau dibilang murahan sulit juga karena setahuku dia masih perawan 100% dan tak mudah digombali.
***
Suatu hari aku sudah benar-benar putus asa lalu mencari akal untuk bisa putus dengannya. Dan keputusan itu harus lahir dari diriku sendiri. Aku putuskan untuk selingkuh saja. Dan itu harus terang-terangan. Ada seorang gadis yang sudah lama kusuka. Dia keturunan sunda. Namanya Tiwy. Kk semester. Baik. Cantik. Namun otaknya pas-pas saja.

Kami sering diskusi bersama di kampus. Aku coba saja bereksperimen untuk mengungkap isi hati padanya. Aku bilang, sudah lama aku suka padanya, namun karena masih diperbudak cinta sebet makanya ditahan-tahan. Ehh…ternyata tu nona ju pakai sistem yang sama. Sistem tahan-tahan. Padahal dia juga pendam rasa setengah mati terhadap saya.

Tak sampai seminggu kami putuskan untuk berhubungan sebagai laki-laki dan perempuan. Kami pacaran secara terang-terangan. Saya menjemput dia dan mengantar dia. Mengunjungi taman rekreasi bersama, bahkan katong berdua-duaan di kos sampai larut malam.

Saat itulah Sebet, enu dari Ruteng itu murka. Suatu petang ia memergoki kami sedang berciuman mesra di kamar kosku yang sempit.

“Benconggggggg….” Teriak sebet histeris.

“Kalau lu sang beta putus kas tau baik-baik. B su kasi apa saja yang ko minta. Uang kos pun sa bayar.”

“Lalu lu buat sa seperti ini. Jahattttttttt. Bajingannn.”

Aku tak bisa membalas apapun makian sebet nona rimpet dari ruteng itu karena memang dia terluka. Orang bilang jangan menggangu babi hutan yang telah terkena peluru pemburu anda bisa mati. So, aku diam-diam sa. Dan seharusnya seperti itu. Dia juga harus mengalami sakit hati. Ini adalah puncak kebosanan saya. Putus. Putus. Dan saling memusuhi sampai kiamat. Kami saling bungkam satu sama lain.
***
Sampai aku memutuskan untuk berhenti berkuliah tak pernah sebet menegur atau menghubungi aku lagi. Pernah aku ketemu dia di jalan, dia mengacuhkanku sungguh. Pernah ikut sama-sama ikut kegiatan organisasi ala anak manggarai , namun tetap ia melihatku sebagai musuh. Wajahnya seperti ingin menelanku.

Kulihat statusnya di FB hanya berisi komentar pedas atas kaum lelaki. Seolah-olah setelah putus dia telah menjadi feminis radikal yang anti kaum laki-laki. Namun ada sisi positifnya juga. Dia malah berubah semenjak putus. Lebih serius kuliah. Sementara nasip hubunganku dengan Tiwy, nona jawa itu, hanya suam-suam kuku. Hangat-hangat tahi ayam. Awal-awalnya panas.

Untung saja tidak terlanjur ukur badan. Hanya sebatas jep-jep ringan saja. Namun, entah kenapa aku cepat bosan, lalu membuat hubungan itu menjadi hambar tak berasa. Dia juga mencari alasan yang sungguh masuk akal untuk putus baik-baik. Rupanya dia juga pandai selingkuh. Sialll. Setelah aku minta info dari teman-temanku, aku baru tahu ternyata dia memang hebat berselingku juga.’ Putusss.
***
Sesudah mendapat kerja aku kembali ke Ruteng, ke kota kelahiranku. Aku melihat ibuku sudah cukup berumur dan sudah waktunya aku yang harus mengurus adik-adik dan terlibat dalam tekek bengek adat Manggarai yang kadang memusingkan kepala.  

“Nana tidak ingat kesusahan kita kah? Jangan ingat diri saja. Bet koe se so’o..”
Omelan ibu makin lama-lama makin menusuk hati.

Karena kerja keras walhasil aku pun berhasil. Rupanya bukan karena dewi fortuna berpihak padaku tapi karena aku berusaha dengan keras. . Yeeaaa. Akhirnya bisa menikmati hasil keringat sendiri sambil lalu lalang di kota, pasar Puni, pertokoan,, tempat hotspot, rumah, tempat usaha. Hehehe.

Semua senang. Mama dan adik-adik bangga. Keluargapun mengatur acara syukuran. Seperti biasa pasti ada ritus pemotongan ayam dan dilihat ‘uratnya’. Baik atau tidak. ‘Urat manuk’ itu mungkin bisa menggambarkan apakah aku bisa menjadi Pengusaha yang sukses atau yang gagal ke depan.
Menjadi Pengusaha nyaman, enak, meski awal harus usaha kecil -kecilan Semua kunikmati dengan penuh semangat. Tabah saja dulu. Tunggu posisi aman baru bisa bergaya sedikit. Sekarang tinggal cari calon istri sa.
***

Jadi pengusaha memang enak.
Karena tinggal di Ruteng banyak waktu luang, maka aku menggerakan adik-adik untuk menghias sekitar rumah dengan tanaman yang bisa di makan seperti tomat, buncis, sayur asin. Kalau tak ada jam kantor aku mengurus kebun.

“Tit…tit…tit….” Suara klakson motor membuat aku menoleh ke jalan di depan rumah. Sebuah sepeda motor Mio necis ditumpangi seorang gadis cantik berhenti. Dia enggan membuka helmnya. Dia turun lalu melambaikan tangan.

Dibukanya sedikit kaca penutup helmnya. “Ka thoom…”
“Siapa ne,” aku bertanya. Dia mendekat. Sudah lupa kah? Sebet ni ee.
Hehehe…Ebeeet…sa tidak lupa e. Ini memang benar-benar kamu bet’. Tapi…ko setambun ini sekarang. Hehehe.
“Ayo masuk yo..”

Begitu senang dan kaget. Rasa bercampur . Dia juga tambah cantik. Aku bertanya, “Mengapa perempuan ini datang lagi Padahal sudah kusakiti?” “ Enu dari mana tadi?”
“Dari rumah toh.” Untuk apa ke sini? tanyaku.
“Ya Cuma mau tau, apakah nana Thomas masih hidup atau sudah tewas. Hehehe. Ka’e Thom mandi su Ebet mau ajak jalan-jalan. Sekalian nostalgia gitu.”
Kemana???
“Ke Biara Suster-Suster Carmelite.” Mo buat?
“Sa mau pi Doa e.” Ok dehh. Tunggu e. Sepuluh menit sa.

Saya mandi dengan gesit. Dengan jurus memakai pakaian ala tentara plus semporatan minyak wangi ala kadarnya langsung kabur dengan nona sebet.

Rupanya dia memang mau benar-benar berdoa di biara yang jaraknya hanya 12 km dari rumahku itu. Bahkan dia lebih sopan dan khusyuk saat doa daripada aku Dia begitu tenang dan anggun sekarang. Dewasa dan kelihatan mendalam. Sebet sudah berubah. Aura keibu-ibuanya sudah muncul.
Setelah itu ia mengajakku duduk di taman biara.

“Kamu kemana sa selama ini ?” tanyaku.
“Sa di Jogja e lanjut S2. Sekarang sa mau menetap di sini su n mo ngajar di SMA AQUINAS Ehh..ka thom su married ko?”

Belummm. Pacar saja belum ada apalagi married. Istri dari pulau komodo ko??
Hehehe. Kami berdua terkekeh sama-sama.

Kalau begitu kita lanjut saja. Lanjut apa?? Pacaran to. Anggap saja 2 tahun terakhir ini menjadi masa penenangan diri buat kita untuk lebih dewasa dan memaknai cinta secara lebih pas. Yang benar sa. Benar. Serius. Kita harus punya akar dulu baru berani tumbuh. Tanpa akar kita akan tumbang. Lalu bagaimana??? Lanjut e. berpelukannnn……(seperti film kartun Winnie the Pooh). Hehehe.
***
Ternyata cinta yang dulu masih membara. Meski baranya terkubur di bawah kumpulan abu dan debu namun ia masih memerah panas. Kini bara itu siap di hangatkan kembali saja. Sebet…sebet…biar kukecup dia seribu kali sekarang karena dia akan menjadi istriku untuk selamanya. Aku tak akan bosan lagi. Walau sampai ajal menjemput.

Cerita ini saya angkat berdasarkan pengalaman salah satu kk saya yang sama-sama dari Manggarai.

Oleh: Edho Paju

COMMENTS

Name

Artikel,141,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,160,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,3,BPJS,1,Budaya,38,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,183,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,579,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,38,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,280,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,50,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,114,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,71,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,294,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,258,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,419,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,20,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1148,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,38,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,88,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,20,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,71,Sumba,8,Surabaya,35,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,48,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,14,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Sebet, Bara Cinta Ala Anak Ruteng
Sebet, Bara Cinta Ala Anak Ruteng
https://2.bp.blogspot.com/-sH0tnX4Dt8o/WnVTEin-iFI/AAAAAAAAAg0/0hF6zLbDyG0beSgVWdsv9-OIMysmemrAQCLcBGAs/s320/Sebet%252C%2BBara%2BCinta%2BAla%2BAnak%2BRutenf%2Bmarjin%2Bnews.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-sH0tnX4Dt8o/WnVTEin-iFI/AAAAAAAAAg0/0hF6zLbDyG0beSgVWdsv9-OIMysmemrAQCLcBGAs/s72-c/Sebet%252C%2BBara%2BCinta%2BAla%2BAnak%2BRutenf%2Bmarjin%2Bnews.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/02/sebet-bara-cinta-ala-anak-ruteng.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/sebet-bara-cinta-ala-anak-ruteng.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close