Sebar 1500 Postingan Hoax Di Medsos, Seorang Dosen Perempuan Ditangkap

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Sebar 1500 Postingan Hoax Di Medsos, Seorang Dosen Perempuan Ditangkap

1 March 2018

Tara ditangkap personel Sat Reskrim Polres Majalengka dan Dit Direskrimum Polda Jabar di kawasan Jakarta Utara, Senin (26/2/2018) malam, dan langsung dibawa ke Polres Majalengka (Foto: Istimewa).
Bandung, marjinnews.com - Polisi menangkap pelaku yang diduga menyebarkan berita hoaks di media sosial. Pelaku diketahui seorang dosen bernama Tara Arsih Wijayani (40), warga Desa Tirtomartini, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Jawa Tengah.

Berita hoaks yang disebarkannya berisi tentang dibunuhnya seorang muazin Majalengka oleh orang yang berpura-pura gila Berita hoaks tersebut disebarkannya melalui media sosial Facebook.

Dir Reskrimum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana menjelaskan, penangkapan pelaku berdasarkan laporan polisi nomor Lp/81/A /II/2018/Jbr/Res Mjl/Sat.Reskrim tertanggal 22 Februari 2018.

Tara ditangkap personel Sat Reskrim Polres Majalengka dan Dit Direskrimum Polda Jabar di kawasan Jakarta Utara, Senin (26/2/2018) malam, dan langsung dibawa ke Polres Majalengka.

Umar menjelaskan, berita bohong ini diketahui anggota Polres Majalengka pada Sabtu (17/2/2018) sekitar pukul 12.00 melalui media sosial Facebook atas nama akun Tara Dev Sams yang dilakukan pelaku Tara.

Akun tersebut memuat berita hoaks yang berisi:

"SIAPA KEMAREN YANG KEPANASAN SUARA ADZAN ?? dan seorang Muadzin jadi korban (yang katanya) orang gila. ???? Innalillahi wa innailahi Rojiun, nama beliau bpk Bahron seorang muadzin di desa sindang kec. Cikijing. Majalengka Jawa Barat. Modus perampokan disertai pembunuhan. Mungkin kah orang gila lagi pelakunya? KEBENARAN AKAN MENEMUKAN JALANNYA DAN ITULAH KEPEDIHAN BAGI PARA PENCIPTA & PEMAIN SANDIWARA INI.. ALLAH MAHA MEMBALAS...aamiin "

Namun, dari hasil penyelidikan, polisi tak menemukan adanya korban muazin dan pelaku dengan gangguan jiwa.

"Atas kejadian tersebut, masyarakat di Kabupaten Majalengka menjadi resah dan takut sehingga menimbulkan kegaduhan dan rasa kebencian seseorang atau salah satu pihak," ujar Umar melalui pesan singkat, Selasa (27/2/2018).

Polisi kemudian memburu penyebar berita bohong tersebut. Setelah didapatkan identitas pelaku, polisi langsung mengejar dan menangkap pelaku.
Bukan Dosen Tetap

Kepada polisi, Tara mengaku sebagai dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Saat dikonfirmasi, Direktur Humas Universitas Islam Indonesia (UII) Karina Utami Dewi mengatakan, Tara bukanlah dosen tetap.

"Yang bersangkutan statusnya bukan dosen tetap," ujar Karina seperti dilansir kompas.com , Selasa (27/02/2018).

Menurut dia, Tara diperbantukan mengajar mata kuliah Bahasa Inggris. Statusnya hanya diperbantukan, bukan seperti dosen tetap reguler yang setiap semester mengajar.

"Memang diperbantukan untuk mengajar mata kuliah Bahasa Inggris. Aktivitasnya, selesai jam mengajar langsung pulang karena statusnya dosen tidak tetap," ujarnya.

Tara tercatat mulai diperbantukan mengajar lagi tahun 2014.

"Karena statusnya diperbantukan, jadi hanya mengajar kalau ada prodi yang membutuhkan. Sempat vakum karena tidak ada permintaan mengajar, mulai lagi 2014," ujarnya.

Anggota The Family MCA
Dari hasil penyelidikan terungkap bahwa Tara sudah bertahun-tahun menjadi anggota The Family Muslim Cyber Army (MCA).

"Pengakuannya baru saja bergabung, hanya saja kami tidak percaya tanpa alat bukti. Kami eksplor dari dia dan mendapatkan gadget yang dia punya. Kalau berdasarkan gadget, mungkin dia sudah empat sampai lima tahun gabung di situ (MCA)," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu (28/2/2018).

Umar menyebutkan bahwa pelaku ini sudah mengerti sistem IT sebab saat menyebarkan berita hoaks tersebut, pelaku menggunakan sistem mirror link.

Berdasarkan informasi yang dihimpun sistem mirror link ini merupakan teknologi yang memungkinkan pengguna ponsel pintar berbasis Android, iOS, atau Symbian untuk terhubung pada head unit (HU).

Bahkan dengan teknologi internet, bisa terkoneksi di berbagai perangkat komputer.

"Dalam satu jam dia bisa reposisi dari Yogya, Jakarta, Bandung dan Sumedang. Dalam satu jam. Kalau secara fisik enggak mungkin reposisi Yogya, Jakarta dan Bandung dalam satu jam. Nah itulah dunia maya," katanya.

Menurut dia, cara ini cukup menyulitkan penyidik melacak atau menangkap permasalahannya.

"Penyidik jadi terbarier (terhalangi) menangkap ke permasalahannya," tambahnya.

Postingan Hoaks
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana mengungkapkan Tara sudah menyebarkan hoaks kasus pembunuhan di Majalengka yang dibuat seolah korban adalah muazin (juru azan).

Tak hanya itu, tersangka juga sudah menyebarkan belasan ribu postingan tersebut di beberapa daerah.
"Tersangka ini juga menyebarkan 150.000 postingan di Facebook tentang muazin dibunuh di Majalengka. Postingan itu juga diterima oleh masyarakat di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Majalengka," jelasnya.

Berdasarkan pengakuan Tara, kata Umar, pelaku hanya ikut-ikutan memposting berita hoaks tersebut berdasarkan grup di aplikasi WhatsApp. (AA/MN)*)