$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

Rumah Ayah

Dengan penuh akrab ia mengajakku duduk di sampingnya, ia memberi kode kepada Pit untuk meninggalkan kami berdua (Gambar: Istimewa)
Baik akan kuceritakan, mungkin kalian tak percaya, tapi ini yang aku alami.

Aku ingat hari itu waktu pagi, aku baru bangun dari tidurku. Pria itu tengah berdiri di depanku mengulurkan tangan mengajakku pergi. Kuingat kurang lebih pukul tujuh, aku tahu lewat handphone yang sering kusimpan di samping bantal tidurku. Pria itu tinggi, kekar tegap, dan berkumis, serta berpakaian layaknya seorang ajudan.

“Siapa kau dan untuk apa?” Tanyaku.

“Mari menghadap Ayah” jawabnya tak berbasa-basi.

“Menghadap Ayah?”

“ya”

Tak sempat aku menanyakan nama, ia langsung menggenggam tanganku lalu mengajakku pergi.

“benarkah?”

Ya benar. Kau tahu, setelah kami keluar, kulihat mobil Marcedes-Benz parkir di depan rumahku. Dia mengajakku untuk masuk ke dalam mobil itu. Dengan aku duduk di belakang dan dia yang menyetir. Aku merasa seperti seorang majikan yang akan dihantar ke kantor oleh supirku.

“Marcedes-Benz, ahh mobil apa itu?”

“Kalian tak tahu? Itu mobil ternama buatan Jerman”

“Kau sungguh beruntung, dibanding aku yang hanya naik bajai”

“Hahaha, memangnya kau dipanggil Ayah tahun berapa?”

“20 tahun yang lalu”

“Pantas saja, kau dipanggil di mana dunia belum mengalami perkembangan”

Dalam perjalanan, aku selalu bertanya dalam hati, ke mana pria itu akan membawaku. Kami tak banyak bicara, dia tak mau memberi tahu identitasnya. Beberapa menit kemudian kami telah sampai di Airport. Megah dan mewah belum pernah aku jumpai sebelumnya. Itu yang aku lihat dari kaca mobil yang bening itu. Setelah itu dia mengajakku keluar, kami berjalan menuju gerbang bandara, di sana aku harus diperiksa dulu, ada namaku setelah dicek. Lalu aku diperbolehkan masuk dan diberi tiket gratis.

“Terus?” Saat itu kami berjumlah 10 orang, pesawat telah disiapkan untuk kami.

“Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini” kata pria itu padaku, setelah itu dia pergi meninggalkanku.

Kalian tahu, pesawat bermotif batik bernama Towards the House of God yang kami tumpangi mengantar kami. Perjalanan yang memakan waktu dua jam, aku tahu itu lewat handphone yang aku bawa serta. Hingga kami tiba pada satu tempat. Tertulis Welcome to the House of God.

“Lalu?” Pit memeriksa kami di gerbang masuk. Aku tahu nama itu dari papan nama yang tertempel di bajunya.

Namaku berada pada urutan pertama setelah ia mencek di daftar panggil. Lalu ia mengantarku untuk menghadap Ayah. Tak kusangka dalam gerbang sekecil itu tersimpan rumah Ayah yang megah, mewah, indah, nyaman, aroma kebahagiaan tercium di sana.

“Terus?” Kalian tahu, aku bertemu kawan lamaku. Ia dipanggil Ayah dua tahun yang lalu setelah ia menabrak trotoar di kota. Seperti tak kukenal, ia telah berubah. Luka parah akibat kecelakaan dua tahun yang lalu pun tak membekas. Kami berbagi banyak hal, ia menanyakan kabar tentang kota, tak lupa ia bercerita tentang rumah Ayah.

“Lalu?” Setelah diberi waktu untuk saling melepas rindu dengan kawan lamaku, Pit kembali mengajakku pergi. Ia mengantarku di suatu tempat di bawa pohon rindang, dengan taman indah yang membentang lengkap dengan kolam ikannya. Di sana tengah duduk seorang pria sedang menyayikan lagu Heal the Word dengan anak-anak duduk manja di sampingnya seakan menikmati lagu yang dinyanyikan.

“Heal the Word? Lagu apa itu?”

“Itu juga kau tak tahu?”

“Ya aku tak tahu”

“Memangnya kau dipanggil Ayah tahun berapa?”

“50 tahun yang lalu”

“Selama itu kah kau di sini, pantas saja kau tak tahu, kau dipanggil Ayah sebelum lagu itu diciptakan”

“Itu lagu dari Michael Jackson”

Kalian tahu, dia menyanyikan lagu tentang dunia, sangat menyentuh dan membuat sedih. Ia Menyanyikan lagu itu lebih indah dari Michael Jakson. Lagu yang menggambarkan anak-anak yang hidup dan tinggal di negara-negara yang menderita kerusuhan. Bermain bola di antara tank-tank tempur.

Lagu dari pop dunia, Michael Jakson, Heal the Word mengajak seluruh orang untuk mencintai perdamaian dan bersatu untuk saling menyayangi. Tanpa ada permusuhan. Menyisihkan lebih banyak ruang di hati untuk “cinta”. Dan membuat dunia lebih baik.

“Ini Ayah” cetus Pit membangunkan lamunanku menikmati lagu itu.

Tak kusangka dia adalah Ayah. Wajahnya tak jauh berbeda dalam film, pada lukisan, dan pada ukiran. Tapi kali ini ia mengenakan jeans dan baju putih bertuliskan love, topi serta gitar yang ia genggam.

“Lalu?”Nyanyian dan suara gitar klasik tak terdengar lagi, kulihat anak-anak beranjak dengan penuh suka cita seakan telah terhipnotis nyanyian Ayah. Dengan penuh akrab ia mengajakku duduk di sampingnya, ia memberi kode kepada Pit untuk meninggalkan kami berdua.

Kalian tahu, aku berkeliling dengan Ayah. kami menyusuri setiap sudut rumah Ayah. kebahagian, keindahan, dan kemewahan aku rasakan. Ternyata Ayah tak sekejam yang kutakutkan waktu aku masih di kota. Hangatnya kasih sayang Ayah aku rasakan.

“Benarkah?” Ya benar, lalu pada titik terakhir ia membawaku di suatu tempat bercat putih. Bukan rumah yang pernah kulihat, bukan gedung, bukan hotel, juga bukan apartemen, tapi itulah rumah Ayah, rumah kebahagiaan.

Ia menayangkan sebuah video untuk kutonton. Kulihat sekumpulan orang sedang duduk menangis meratapi sesosok yang terkapar membisu. Di sana ada ibu, bapa, juga adikku.

“Berarti aku telah mati?’’

“Bukan mati nak, memang sudah waktunya ayah memanggilmu” kata Ayah

“lalu?” Ia kembali menayangkan sebuah video untuk kutonton. Kali ini video banjir, longsor ia tayangkan.

“Apa salahku hingga kalian selalu membuatku bersedih? Apakah kurang yang kuberikan pada kalian? Banjir, longsor yang kalian bilang hukuman dariku sesungguh tidak, aku tak pernah menghukum kalian. Sesungguhnya aku menangis, aku bersedih, kecewa, gunung yang telah kubangun, sungai, laut yang telah kubentang dan kutata dengan rapi, tegahnya kalian meruntuhkan dan mengahancurkan ciptaan yang kuberikan untukmu.” kata Ayah padaku

“Benarkah? Kejamnya kita”

“Lalu?” Ya benar, mungkin kalian tak percaya. Setelah itu ia mengambil sepiring nasi putih.

“Untuk kau makan?”

“Tidak! Ia menyuruhku untuk menatap nasi itu.”

“Untuk apa?”

Lalu ia mengambil sepiring nasi yang lain. Nasi yang dikerumuni nyamuk-nyamuk. “Apakah salahku padamu hingga kau terus menyakitiku? Kurangkah yang kuberikan padamu? Hingga engkau sering melupakan ayahmu ini, seperti engkau membiarkan nasi yang kuberikan padamu. Tak adakah tempat untuk kau sisipi diriku di tengah kesibukanmu?” kata Ayah padaku

“Benarkah?” Ya benar, kalian tahu, aku menangis. Sungguh kumenyesalinya.

“Bersihkan dirimu nak, mandilah, setelah itu tinggallah bersamaku di sini” kata Ayah

Tak lama kemudian Pit tiba di hadapan kami.

“Hantarlah ia ke kamar mandi” kata Ayah pada Pit.

Pit membawaku pada satu pintu “Masuklah nak, mandilah, kami akan kembali untuk menjemputmu” katanya.

Itulah sebabnya aku bersama kalian di sini, di tempat bermandikan api ini. Menungguh Ayah menjemputku.

Oleh: Fransiskus Opileoanus Sanjaya
Mahasiswa Tingkat III PBSI STKIP St. Paulus Ruteng

COMMENTS

Name

Artikel,141,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,160,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,3,BPJS,1,Budaya,38,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,183,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,579,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,38,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,280,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,50,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,114,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,71,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,294,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,258,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,419,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,20,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1148,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,38,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,88,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,20,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,71,Sumba,8,Surabaya,35,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,48,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,14,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Rumah Ayah
Rumah Ayah
https://1.bp.blogspot.com/-eWnjQtvMmFE/Wnlg-BB7GJI/AAAAAAAAAjM/3LzeTx6Wbocyg0JAseUw0-_6uaenczVCgCLcBGAs/s320/Ayah%2Bmarjin%2Bnews.png
https://1.bp.blogspot.com/-eWnjQtvMmFE/Wnlg-BB7GJI/AAAAAAAAAjM/3LzeTx6Wbocyg0JAseUw0-_6uaenczVCgCLcBGAs/s72-c/Ayah%2Bmarjin%2Bnews.png
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/02/rumah-ayah.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/rumah-ayah.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close