Rumah Ayah
Cari Berita

Rumah Ayah

MARJIN NEWS
6 February 2018

Dengan penuh akrab ia mengajakku duduk di sampingnya, ia memberi kode kepada Pit untuk meninggalkan kami berdua (Gambar: Istimewa)
Baik akan kuceritakan, mungkin kalian tak percaya, tapi ini yang aku alami.

Aku ingat hari itu waktu pagi, aku baru bangun dari tidurku. Pria itu tengah berdiri di depanku mengulurkan tangan mengajakku pergi. Kuingat kurang lebih pukul tujuh, aku tahu lewat handphone yang sering kusimpan di samping bantal tidurku. Pria itu tinggi, kekar tegap, dan berkumis, serta berpakaian layaknya seorang ajudan.

“Siapa kau dan untuk apa?” Tanyaku.

“Mari menghadap Ayah” jawabnya tak berbasa-basi.

“Menghadap Ayah?”

“ya”

Tak sempat aku menanyakan nama, ia langsung menggenggam tanganku lalu mengajakku pergi.

“benarkah?”

Ya benar. Kau tahu, setelah kami keluar, kulihat mobil Marcedes-Benz parkir di depan rumahku. Dia mengajakku untuk masuk ke dalam mobil itu. Dengan aku duduk di belakang dan dia yang menyetir. Aku merasa seperti seorang majikan yang akan dihantar ke kantor oleh supirku.

“Marcedes-Benz, ahh mobil apa itu?”

“Kalian tak tahu? Itu mobil ternama buatan Jerman”

“Kau sungguh beruntung, dibanding aku yang hanya naik bajai”

“Hahaha, memangnya kau dipanggil Ayah tahun berapa?”

“20 tahun yang lalu”

“Pantas saja, kau dipanggil di mana dunia belum mengalami perkembangan”

Dalam perjalanan, aku selalu bertanya dalam hati, ke mana pria itu akan membawaku. Kami tak banyak bicara, dia tak mau memberi tahu identitasnya. Beberapa menit kemudian kami telah sampai di Airport. Megah dan mewah belum pernah aku jumpai sebelumnya. Itu yang aku lihat dari kaca mobil yang bening itu. Setelah itu dia mengajakku keluar, kami berjalan menuju gerbang bandara, di sana aku harus diperiksa dulu, ada namaku setelah dicek. Lalu aku diperbolehkan masuk dan diberi tiket gratis.

“Terus?” Saat itu kami berjumlah 10 orang, pesawat telah disiapkan untuk kami.

“Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini” kata pria itu padaku, setelah itu dia pergi meninggalkanku.

Kalian tahu, pesawat bermotif batik bernama Towards the House of God yang kami tumpangi mengantar kami. Perjalanan yang memakan waktu dua jam, aku tahu itu lewat handphone yang aku bawa serta. Hingga kami tiba pada satu tempat. Tertulis Welcome to the House of God.

“Lalu?” Pit memeriksa kami di gerbang masuk. Aku tahu nama itu dari papan nama yang tertempel di bajunya.

Namaku berada pada urutan pertama setelah ia mencek di daftar panggil. Lalu ia mengantarku untuk menghadap Ayah. Tak kusangka dalam gerbang sekecil itu tersimpan rumah Ayah yang megah, mewah, indah, nyaman, aroma kebahagiaan tercium di sana.

“Terus?” Kalian tahu, aku bertemu kawan lamaku. Ia dipanggil Ayah dua tahun yang lalu setelah ia menabrak trotoar di kota. Seperti tak kukenal, ia telah berubah. Luka parah akibat kecelakaan dua tahun yang lalu pun tak membekas. Kami berbagi banyak hal, ia menanyakan kabar tentang kota, tak lupa ia bercerita tentang rumah Ayah.

“Lalu?” Setelah diberi waktu untuk saling melepas rindu dengan kawan lamaku, Pit kembali mengajakku pergi. Ia mengantarku di suatu tempat di bawa pohon rindang, dengan taman indah yang membentang lengkap dengan kolam ikannya. Di sana tengah duduk seorang pria sedang menyayikan lagu Heal the Word dengan anak-anak duduk manja di sampingnya seakan menikmati lagu yang dinyanyikan.

“Heal the Word? Lagu apa itu?”

“Itu juga kau tak tahu?”

“Ya aku tak tahu”

“Memangnya kau dipanggil Ayah tahun berapa?”

“50 tahun yang lalu”

“Selama itu kah kau di sini, pantas saja kau tak tahu, kau dipanggil Ayah sebelum lagu itu diciptakan”

“Itu lagu dari Michael Jackson”

Kalian tahu, dia menyanyikan lagu tentang dunia, sangat menyentuh dan membuat sedih. Ia Menyanyikan lagu itu lebih indah dari Michael Jakson. Lagu yang menggambarkan anak-anak yang hidup dan tinggal di negara-negara yang menderita kerusuhan. Bermain bola di antara tank-tank tempur.

Lagu dari pop dunia, Michael Jakson, Heal the Word mengajak seluruh orang untuk mencintai perdamaian dan bersatu untuk saling menyayangi. Tanpa ada permusuhan. Menyisihkan lebih banyak ruang di hati untuk “cinta”. Dan membuat dunia lebih baik.

“Ini Ayah” cetus Pit membangunkan lamunanku menikmati lagu itu.

Tak kusangka dia adalah Ayah. Wajahnya tak jauh berbeda dalam film, pada lukisan, dan pada ukiran. Tapi kali ini ia mengenakan jeans dan baju putih bertuliskan love, topi serta gitar yang ia genggam.

“Lalu?”Nyanyian dan suara gitar klasik tak terdengar lagi, kulihat anak-anak beranjak dengan penuh suka cita seakan telah terhipnotis nyanyian Ayah. Dengan penuh akrab ia mengajakku duduk di sampingnya, ia memberi kode kepada Pit untuk meninggalkan kami berdua.

Kalian tahu, aku berkeliling dengan Ayah. kami menyusuri setiap sudut rumah Ayah. kebahagian, keindahan, dan kemewahan aku rasakan. Ternyata Ayah tak sekejam yang kutakutkan waktu aku masih di kota. Hangatnya kasih sayang Ayah aku rasakan.

“Benarkah?” Ya benar, lalu pada titik terakhir ia membawaku di suatu tempat bercat putih. Bukan rumah yang pernah kulihat, bukan gedung, bukan hotel, juga bukan apartemen, tapi itulah rumah Ayah, rumah kebahagiaan.

Ia menayangkan sebuah video untuk kutonton. Kulihat sekumpulan orang sedang duduk menangis meratapi sesosok yang terkapar membisu. Di sana ada ibu, bapa, juga adikku.

“Berarti aku telah mati?’’

“Bukan mati nak, memang sudah waktunya ayah memanggilmu” kata Ayah

“lalu?” Ia kembali menayangkan sebuah video untuk kutonton. Kali ini video banjir, longsor ia tayangkan.

“Apa salahku hingga kalian selalu membuatku bersedih? Apakah kurang yang kuberikan pada kalian? Banjir, longsor yang kalian bilang hukuman dariku sesungguh tidak, aku tak pernah menghukum kalian. Sesungguhnya aku menangis, aku bersedih, kecewa, gunung yang telah kubangun, sungai, laut yang telah kubentang dan kutata dengan rapi, tegahnya kalian meruntuhkan dan mengahancurkan ciptaan yang kuberikan untukmu.” kata Ayah padaku

“Benarkah? Kejamnya kita”

“Lalu?” Ya benar, mungkin kalian tak percaya. Setelah itu ia mengambil sepiring nasi putih.

“Untuk kau makan?”

“Tidak! Ia menyuruhku untuk menatap nasi itu.”

“Untuk apa?”

Lalu ia mengambil sepiring nasi yang lain. Nasi yang dikerumuni nyamuk-nyamuk. “Apakah salahku padamu hingga kau terus menyakitiku? Kurangkah yang kuberikan padamu? Hingga engkau sering melupakan ayahmu ini, seperti engkau membiarkan nasi yang kuberikan padamu. Tak adakah tempat untuk kau sisipi diriku di tengah kesibukanmu?” kata Ayah padaku

“Benarkah?” Ya benar, kalian tahu, aku menangis. Sungguh kumenyesalinya.

“Bersihkan dirimu nak, mandilah, setelah itu tinggallah bersamaku di sini” kata Ayah

Tak lama kemudian Pit tiba di hadapan kami.

“Hantarlah ia ke kamar mandi” kata Ayah pada Pit.

Pit membawaku pada satu pintu “Masuklah nak, mandilah, kami akan kembali untuk menjemputmu” katanya.

Itulah sebabnya aku bersama kalian di sini, di tempat bermandikan api ini. Menungguh Ayah menjemputku.

Oleh: Fransiskus Opileoanus Sanjaya
Mahasiswa Tingkat III PBSI STKIP St. Paulus Ruteng