Politik dan Masyarakat
Cari Berita

Politik dan Masyarakat

MARJIN NEWS
10 February 2018

Bukan hanya opini yang dimunculkan oleh orang-orang yang sengaja menyebar isu yang sangat sensitif dengan para calon (Foto: Dok. Pribadi).
Pilkada merupakan ajang atau event untuk memilih pemimpin secara demokrasi. Pilkada bukan ajang untuk memilih pemimpin yang akan memimpin satu kelompok, satu golongan, satu suku, satu rasa atau satu daerah kecamatan tertentu.

Akan tetapi, pilkada merupakan ajang untuk memilih pemimpin untuk semua orang, golongan atau masyarakat luas.

Demikian halnya dengan momentum pilkada di Matim yang akan berlangsung tahun ini. Memilih pemimipin untuk memimpin Matim lima tahun yang akan datang.

Banyak opini yang sengaja dibangun untuk mencedrai para calon bupati dan wakil bupati yang akan bertarung di pilkada Matim bulan Juni mendatang.

Bukan hanya opini yang dimunculkan oleh orang-orang yang sengaja menyebar isu yang sangat sensitif dengan para calon. Hingga membias pada masyarakat yang ada disetiap kampung dari setiap kecamatan yang ada di Matim.

Fakta dari dulu hingga sekarang bahwa banyak simpatisan masyarakat yang fanatik dengan salah satu paket mengalami gagguan komunikasi terhadap sesama masyarakat. Bukan hanya sesama masyarakat secara umum. Namun, keluarga dekat pun mengalami benturan yang sangat serius hanya karena fanatik dengan paket yang disukai atau disenangi.

Keadaan yang seperti ini sesungguhnya tidak perlu dipupuk. Ketika ini dibiarkan maka hajatan demokrasi yang akan terjadi seterusnya tidak akan elok, elegan dan menjadi demokrasi yang bermartabat.

Agar hajatan ini elegan dan tidak mengalami permusuhan terhadap sesama keluarga dengan keluarga, terhadap masyarakat dan masyarakat. Maka kehadiran lembaga independen seperti KPU dan Panwas untuk memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat secara serius. Sangat ekstra memang kerja dari lembaga Independen, demi untuk menjaga paradigma-paradigma lama masyarakat yang bermusuhan hanya karena hajatan demokrasi.

Pola pikir fanatik inilah yang perlu kita ubah dari kehidupan bermasyarakat menjelang hajatan besar seperti pilkada.

Bukan demokrasi lagi namanya ketika ada masyarakat yang berkelahi, bermusuhan atau berselisihan pada saat moment hajatan pilkada yang akan berlangsung. Melainkan peperangan yang menghancurkan keharmonisan hubungan masyarakat yang ada.

Oleh karenanya, ajang pemilihan kepala daerah merupakan bukan akhir dari segala proses pemilihan seseorang menjadi pemimpin.

Menjaga netralitas, emosional dan keharmonisan dalam bermasyarakat adalah hal yang utama yang mesti dijaga dan dipupuk pada saat ajang pilkada.

Penentuan pilihan dalam memilih pemimpin yang dijagokan itu adalah rahasi hati nurani setiap orang. To, pada akhirnya siapa pun yang terpilih sebagai pemimpin itu tetaplah pemimpin kita semua bukan pemimpin untuk segelitir orang atau sekelompok orang ataupun pemimpin yang hanya untuk Timses semata.

Oleh: Edie Dahal