$type=carousel$cols=3

Pilkada Mencari Pemimpin yang Terbaik

Mekanisme demokrasi yang baik ternyata juga tidak serta-merta menghasilkan pejabat publik yang baik pula, baik yang berada di wilayah  eks...

Mekanisme demokrasi yang baik ternyata juga tidak serta-merta menghasilkan pejabat publik yang baik pula, baik yang berada di wilayah  eksekutif maupun legislatif, sehingga  bisa menimbulkan rasa trauma para pemilih (Foto: Dok. Pribadi)
Sebagai perwujudan pelaksanaan demokrasi, PILKADAserentak kembali diselenggarakan. Menyongsong momenyang besar ini, semua pemangku kepentingan telah mempersiapkan sarana dan prasarana termasuk regulasi serta sumber daya manusia yang siap "tempur" dalam melaksanakan tugas besarnya.

Pelaksanaan PILKADA ini pula merupakan perwujudan hak politik rakyat; melaksanakan kedaulatan rakyat; dan melaksanakan suksesi kepemimpinan secara demokrasi dan konstitusional bukan semata-mata hanya prosedural dan instrumental.

Ada dua hal yang harus dilakukan pada PILKADA kali ini, pertama: peningkatan kualitas dalam proses pelaksanaan PILKADA,  kedua: hasilnya, karena tujuan PILKADA itu mencari pemimpin yang terbaik (setidaknya mencegah yang terburuk).

Kemudian KPU sebagai penyelenggara PILKADA dan BANWASLU sebagai pengawas harus menunjukkan netralitas pemilu. Jika kedua instansi tersebut menunjukkan ketidakindependenan, maka potensi untuk memunculkan ketidakpuasan hasil PILKADA selalu ada, oleh karena itu pentingnya konsisten dengan aturan sehingga kemungkinan untuk munculnya gugatan hasil pemilu tidak ada.

Pentingnya aturan juga diterapkan agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat,  karena kita ingin menghasilkan pemimpin yang terbaik dengan kompetensi yang fair,  sehat dan berbudaya, berbudaya dalam arti "tunjukan bahwa PILKADA itu dilaksanakan dengan cara yang etis, terhormat dan bermartabat.

Kemudian juga yang harus menjadi catatan adalah kedewasaan politik elite dan masyarakat, parpol pengusung, TIMSES ataupun sang kandidat harus siap kalah dan menang, siapa kalah menang (mengakui kekalahan dan kemenangan lawan).

PILKADA kali ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi tidak hanya pelaksanaan prosedural demokrasi, tetapi juga makna yang ada di dalam konsep demokrasi. Seperti diketahui, secara positif, demokrasi berasal dari bahasa Yunani yang dalam pengertian sederhana berarti pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Namun, demokrasi dapat juga didefinisikan secara negatif dalam pengertian pemerintahan oleh rakyat (Dan Nimmo,2005),  yang berarti bukan pemerintahan oleh penguasa tunggal (monarki), bukan atas dasar keturunan dan status (aristokrasi), bukan oleh segelintir orang (oligarki), bukan atas dasar agama atau keyakinan tertentu (teokrasi), dan terakhir bukan oleh segelintir orang yang memerintah dengan kekerasan (otoritarianisme).

Apakah kemudian demokrasi itu adalah sebuah sistem pemerintahan yang sempurna?. Apakah demokrasi di Indonesia semakin baik atau justru semakin mundur?. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan ribuan tahun yang telah dipikirkan oleh para ahli filsafat seperti Plato. Ada banyak persoalan metodologi untuk mengevaluasi jalannya demokrasi.

Mekanisme demokrasi yang baik ternyata juga tidak serta-merta menghasilkan pejabat publik yang baik pula, baik yang berada di wilayah  eksekutif maupun legislatif, sehingga  bisa menimbulkan rasa trauma para pemilih. Sebagai contoh, dalam pemilihan beberapa tahun yang lalu, masyarakat harus memilih calon yang tidak mereka kenal. Masyarakat merasa ”dipaksa” untuk berpartisipasi dalam Pemilu.

Dalam PILKADA serentak kali ini, masyarakat diberikan kesempatan untuk memperbaiki kelemahan yang terjadi dalam sistem demokrasi. Rasa kecewa sebagai masyarakat tentu tidak dapat dipulihkan dengan segera, namun, tidak menggunakan hak pada hari ini untuk memilih calon pasangan yang tersedia juga tidak akan membantu menyelesaikan masalah.

Paling tidak,  rakyat dapat menghukum untuk tidak memilih calon pasangan dari partai yang bermasalah dan partai yang jelas tidak mendorong demokrasi ke arah yang lebih baik. Di sisi lain, para politisi harus menyadari kekecewaan masyarakat dapat menjadi dorongan tumbuhnya aliran radikal, baik ekstrem kanan maupun kiri.

Kita juga harus ingat demokrasi tidak berhenti di tempat pemungutan suara, tetapi terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita harus terus mengawalnya dalam segala bentuk partisipasi yang dapat dilakukan. Apa yang akan terjadi pada 2018 ini adalah pengantar untuk memasuki tahun politik 2019.

Oleh: Sergius Agung

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,2,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,227,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,42,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,141,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,44,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,241,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,139,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,55,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,238,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,116,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,859,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,25,Prosa,1,PSK,1,Puisi,63,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,9,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Pilkada Mencari Pemimpin yang Terbaik
Pilkada Mencari Pemimpin yang Terbaik
https://4.bp.blogspot.com/--KcsXkZ22OU/Wo_YY0UK6MI/AAAAAAAAAxg/UjvGrncpDV0HaYe2YLHwWEWfA0Hy83lMQCLcBGAs/s320/Opini%2Bmarjinnews.jpg
https://4.bp.blogspot.com/--KcsXkZ22OU/Wo_YY0UK6MI/AAAAAAAAAxg/UjvGrncpDV0HaYe2YLHwWEWfA0Hy83lMQCLcBGAs/s72-c/Opini%2Bmarjinnews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/pilkada-mencari-pemimpin-yang-terbaik.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/pilkada-mencari-pemimpin-yang-terbaik.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy