Para Kades di Kabupaten Malaka Resah Dengan Kehadiran Wartawan KPK
Cari Berita

Para Kades di Kabupaten Malaka Resah Dengan Kehadiran Wartawan KPK

8 February 2018

Usai melakukan pemeriksaan, oknum wartawan KPK yang berjumlah enam orang tersebut, berjanji akan kembali menemui kepala desa tiga hari berselang untuk menyampaikan hasil pemeriksaan. (Foto: Istimewa)
BETUN, Marjinnews.com - Para kepala desa di Kabupaten Malaka mengaku resah dengan keberadaan wartawan koran perangi korupsi (KPK).

Pasalnya, wartawan KPK tersebut tidak hanya melakukan pemeriksaan keuangan penggunaan dana desa dan pemeriksaan fisik di lapangan, tetapi juga diduga meminta sejumlah uang kepada para kepala desa.

Salah satu kepala desa yang mengeluhkan keberadaan wartawan KPK adalah, Kades Motaain, Salomon Leki.

Ia mengaku, wartawan KPK datang dan melakukan pemeriksaan administrasi keuangan dan pemeriksaan lapangan paket fisik dana desa.

Usai melakukan pemeriksaan, oknum wartawan KPK yang berjumlah enam orang tersebut, berjanji akan kembali menemui kepala desa tiga hari berselang untuk menyampaikan hasil pemeriksaan.

"Staf desa minta isi buku tamu oknum wartawan KPK tidak mau isi. Sudah begitu mereka ancam mau jemput saya di rumah lagi. Setelah periksa, mereka (oknum wartawan KPK) berjanji akan kembali setelah tiga hari untuk menyampaikan hasil pemeriksaan. Tetapi katanya mau ketemu di rumah kepala desa saja," ungkap Salomon.

Hal senada juga dialami Kades Kakaniuk, Kecamatan Malaka Tengah, Petronela Luruk. Ia mengaku didatangi wartawan KPK dan melakukan pemeriksaan administrasi dan fisik paket yang dibiayai dana desa.

Anehnya, saat dimintai untuk mengisi buku tamu, oknum wartawan KPK menolak mengisinya.

Mirisnya lagi, usai pemeriksaan oknum wartawan KPK menanyakan apakah hasil pemeriksaan mau "diatur ke dalam" atau diekspos.

"Oknum wartawan KPK datang minta berkas administrasi dan turun ke lapangan untuk melihat fisik pekerjaan. Yang buat saya jengkel, oknum wartawan KPK ini memarahi para tukang dan menendang pekerjaan fisik yang masih dikerjakan. Sudah begitu mereka pakai tanya "mau atur ke dalam" atau tidak. Inikan sudah tidak baik maksudnya. Makanya saya bilang kalau mau periksa silakan saja tetapi kalau mau minta uang maaf saja," ungkap Petronela dengan nada kesal.

Dirinya, mengaku resah dengan perbuatan oknum wartawan KPK tersebut.

Pasalnya tindakan yang dilakukan tidak menunjukan profesi seorang wartawan tetapi terkesan hanya mau mencari kesalan lalu meminta sesuatu. Sudah begitu, mereka masuk keluar desa tanpa pemberitahuan. Ini maksudnya apa.

"Mereka katanya mau datang lagi, saya bilang silakan saja. Nanti kita undang dengan pihak kepolisian biar jelas. Saya mau lihat mereka berani atau tidak kalau ada polisi," sebutnya. (RN/MN/PK)